5 Dampak Buruk Resesi Ekonomi yang Patut Diwaspadai Masyarakat Indonesia

Risiko resesi ekonomi dunia sudah mulai diprediksi sejak tahun 2019. Prediksi tersebut kian nyata karena dipengaruhi pandemi COVID-19 sejak awal 2020. Dampak buruk resesi ekonomi mulai berimbas pada kehidupan hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Laporan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua tahun 2020 menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penyusutan sebesar -5,32 persen. Beberapa dampak buruk resesi ekonomi yang mulai terjadi di tanah air meliputi:

PHK Besar-besaran

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tanah air sudah berlangsung sejak Maret 2020. Berbagai sektor bisnis yang tak dapat bertahan melewati krisis terpaksa melakukan PHK, terutama bisnis yang sudah dinyatakan bangkrut.

Dampak buruk resesi ekonomi ini menyebabkan jumlah pengangguran meningkat dan peluang mendapatkan pekerjaan kembali jadi semakin kecil.

Daya Beli Masyarakat Kian Menurun

Dampak buruk resesi ekonomi mulai tampak ketika daya beli masyarakat semakin menurun. Sebagian masyarakat berusaha menghemat pengeluaran meskipun bisnisnya atau pekerjaannya tidak terlalu terdampak resesi.

Sebagian lainnya terpaksa mengurangi pengeluaran bahkan membatasi kebutuhan karena kondisi finansialnya memang terganggu. Padahal, pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakatnya.

Baca Juga: Generasi Milenial Wajib Memahami Cara Menghadapi Resesi Ekonomi

Banyak Sektor Industri Terpaksa Gulung Tikar

Penurunan daya beli masyarakat adalah dampak buruk resesi ekonomi yang berimbas pada kebangkrutan sektor industri. Akibatnya, tak sedikit sektor industri yang terpaksa gulung tikar, terutama yang berhubungan dengan pariwisata, tempat hiburan, penginapan dan penerbangan.

Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka gangguan ekonomi yang lebih parah pun tak dapat dihindari lagi.

Kontraksi Pertumbuhan di Berbagai Lapangan Usaha

Sejumlah sektor bisnis di Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan yang tak dapat dihindari pada kuartal kedua tahun 2020. Sektor bisnis yang mengalami kontraksi paling parah adalah transportasi dan pergudangan sebesar 30,84 persen.

Hal tersebut terjadi karena adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat sebagian orang menjalani rutinitas secara online (WFH dan Pembelajaran Jarak Jauh). Di sisi lain, pembatasan aktivitas di luar rumah berdampak positif bagi pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi dengan persentase 10,88 persen.

Minat Investasi Menurun

Kecenderungan resesi ekonomi juga membuat para investor ragu melakukan investasi. Dampak buruk resesi ekonomi ini membuat masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas memilih menyimpan uang tunai sebagai aset lancar.

Itulah sebabnya, iklim investasi tanah air pun mulai lesu sejak krisis akibat pandemi COVID-19 tak dapat dihindari. Sebagian orang bahkan memilih melepas aset investasi (misalnya emas dan saham) untuk membantu menopang kebutuhan hidup.

Semoga dampak buruk resesi ekonomi segera berlalu dari tanah air. Tetaplah berkarya di bidang pekerjaan atau bisnis sepenuh hati agar mampu bertahan dari krisis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here