6 Mitos Wawancara Kerja Ini Wajib untuk Anda Ketahui

mitos wawancara kerja
Sumber: UsNews

Menyandang predikat cum laude dari universitas ternama bukan lagi satu-satunya cara agar Anda mendapatkan pekerjaan di perusahaan bonafid. Tingkat persaingan kerja yang tinggi ditambah terbatasnya lowongan kerja membuat para fresh graduate harus jeli melihat peluang. Mempersiapkan diri semaksimal mungkin saat wawancara kerja adalah hal yang wajib. Anda bisa belajar dari teman yang sudah berpengalaman, membaca artikel, atau menonton video di YouTube tentang kiat wawancara kerja. Namun sayangnya, ada beberapa mitos wawancara kerja yang bukannya membuat Anda sukses, malah sering kali menyesatkan.

Inilah Mitos Wawancara Kerja yang Wajib Anda Ketahui

yang tak boleh ditanyakan
Sumber : bryantarchway

1. “CV Saya Sudah Sempurna, Sepertinya Itu Saja Cukup”

Resume atau CV yang baik tentunya menunjang keberhasilan proses wawancara kerja Anda, tapi itu bukan satu-satunya. Berbekal deretan prestasi, posisi di organisasi, atau nilai A di transkrip mungkin akan membawa Anda lolos tahap administrasi. Namun, jika Anda ingin lolos tahapan wawancara, Anda perlu mempersiapkan hal lebih. Berpakaian yang rapi, sopan, berwajah ramah, dan terpenting melakukan riset tentang perusahaan yang Anda lamar. Mereka yang menampakkan ketertarikan pada perusahaan, memiliki potensi lebih besar diterima dari mereka yang bersemangat tinggi agar diterima.

2. “Pewawancara Selalu Mempersiapkan Diri”

Tugas hiring managers atau HRD memang mewawancarai para kandidat, tapi bukan berarti mereka tidak memiliki kesibukan lain. Terkadang HRD datang tanpa membaca secara detail isi resume Anda. Untuk mempermudah HRD dalam menilai Anda, ceritakan secara singkat namun jelas apa yang tertera di CV Anda. Kalau CV dikirim melalui email, bawa serta 2 kopian untuk wawancara.

3. “Pewawancara Selalu Mengontrol Isi Wawancara Kerja”

Meskipun hal itu ada benarnya, bukan berarti wawancara kerja Anda hanya tentang ditanya dan menjawab. Sekali-kali cobalah aktif terlibat dalam diskusi atau justru yang menginisiasi percakapan. Jangan ragu menanyakan sesuatu atau menceritakan ide-ide yang ingin Anda lakukan jika diterima.

4. “Saya Punya Pertanyaan, Tapi Lebih Baik Diam dan Disampaikan Saat Ditanya oleh Pewawancara”

Wawancara kerja yang bagus itu jika terasa seperti percakapan harian. Jadi ketika Anda ragu atau takut salah menginterpretasi sebuah pertanyaan, maka tunggu hingga pewawancara menyelesaikan kalimatnya. Setelah itu baru Anda mencoba penjabaran ulang. Justru pewawancara akan merasa bahwa Anda benar-benar mendengarkan.

5. “Saya Tidak Punya Hak Menentukan Gaji”

“Berapa gaji yang Anda inginkan?” Biasanya para fresh graduate akan merasa kikuk dan balik bertanya berapa kisaran gaji di perusahaan yang ia lamar. Kadang ketakutan memberikan penawaran gaji yang terlalu tinggi atau justru terlampau rendah membuat pelamar kesusahan sendiri. Jangan ragu bertanya pada rekan yang lebih berpengalaman atau carilah informasi melalui internet. Kalau Anda sudah tahu range salary Anda sesuai dengan kebutuhan hidup, maka Anda akan punya bayangan karir lebih jelas ke depannya.

6. “Aku Tidak Boleh Terlalu Percaya Diri Akan Diterima Kerja”

Menurut Forbes, pewawancara lebih memilih kandidat yang terlihat sangat antusias meski kualifikasinya tidak setinggi kandidat lainnya. Jadi saat Anda ikut seleksi kerja dan melihat orang-orang di sekeliling berasal dari Universitas terkemuka, janganlah berkecil hati. Bersikaplah percaya diri dan yakin akan mampu mengimbangi kemampuan kandidat lain. Sikap ragu-ragu akan terpancar di muka Anda dan membuat pewawancara ikut meragukan kemampuan Anda.

Nah, itu dia 6 mitos wawancara kerja yang mungkin sudah sering Anda dengar dan jadikan acuan saat melamar kerja. Bagi para fresh graduate, proses melamar kerja mungkin bukan hal yang mudah dan harus dilalui berkali-kali hingga mahir. Tetap semangat dan terus berlatih, ya!