8villages Memodernisasikan Kehidupan Petani Lewat Teknologi

8villages hadir untuk memodernisasi dunia pedesaan di Indonesia melalui aplikasi untuk para petani. Perusahaan rintisan atau startup yang berdiri sejak 2013 ini memudahkan petani untuk mendapatkan informasi mengenai seluk-beluk pertanian hingga distribusi hasil panen ke tangan konsumen.

Visi untuk membantu para petani tanah air untuk lebih maju dalam persaingan era revolusi digital 4.0 ini digelontorkan 8villages melalui tiga unit bisnisnya, yaitu Layanan Informasi Desa (Lisa), Datahub.id, dan Regopantes.

Kepada Job-Like Magazine, Arya Yudha Priyadi, Head of Product Datahub.id, menjelaskan pentingnya platform Datahub.id untuk menjamin ketepatan data yang dikumpulkan dari seluruh daerah di Indonesia, terutama daerah terpencil, yang kemudian digunakan sebagai landasan mengambil keputusan.

“Biasanya pemerintah daerah dan pusat membutuhkan data untuk mengambil keputusan. Tapi, adakalanya data yang dikumpulkan di lapangan sudah dimanipulasi. Bisa jadi data tidak benar-benar diambil dari lapangan,” ujar Arya.

“Melalui Datahub.id, kami memastikan data yang di-input benar dilakukan di lokasi, bukan di rumah. Ada juga feature foto, untuk mengetahui lokasi pengambilan foto. Akan ketahuan apakah foto itu langsung diambil di lapangan atau dari galeri,” jelasnya.

Selain mengedukasi petugas lapangan untuk memberikan data yang tepat, 8villages juga membantu para petani melalui platform Lisa yang menjadi wadah berbagi informasi dan solusi atas permasalahan pertanian.

Melalui Lisa, para petani dapat berkomunikasi dengan rekan-rekannya di seluruh Indonesia untuk membahas isu-isu pertanian. Tak hanya itu, 8villages juga menyedia para ahli pertanian untuk menjawab pertanyaan perihal dunia pertanian.

“Isu pertanian di sebuah daerah bisa diketahui oleh petani di daerah lain melalui Lisa. Bila mereka ada pertanyaan khusus, ahli pertanian kami akan menjawabnya di forum. Kami juga menyediakan info harga pasar, cuaca dari BMKG, hingga info pupuk supaya petani paham pupuk yang tepat untuk digunakan produknya,” jelas Arya.

Sementara itu, untuk menghubungkan petani dengan konsumennya, 8villages memberikan kemudahan melalui Regopantas. Yaitu, platform agri e-commerce yang diluncurkan sejak Oktober 2017. 8villages memastikan para petani mendapatkan penghasilan yang layak dari hasil panennya.

Baca Juga: Sayurbox Mulai Memasok Sayuran ke 200 Warteg di Jabodetabek

8villages Menambah Nilai Jual Panen Petani

Arya mengatakan Regopantas lahir sebagai bentuk keresahan atas nasib para petani yang acap mengalami kerugian dengan menjual hasil panennya ke tangan pengepul. Perbedaan harga menjulang yang dipatok pengepul menjadi faktor utama tersendatnya kemajuan perekonomian para petani.

“Awalnya kami menemukan masalah di Jawa Tengah, banyak petani yang menjual hasil taninya langsung ke pengepul. Misal, alpukat dijual ke pengepul Rp30 ribu,” cerita Arya.

“Padahal biaya yang dibutuhkan mulai dari menanam hingga panen Rp17 ribu. Dia menanggung kerugian saat menjual ke pengepul, sementara pengepul menjual di Jakarta harga menjadi Rp60 ribu. Keuntungan hanya untuk pengepul,” tuturnya.

Dengan adanya perbaikan nilai jual, para petani mulai lebih memperhatikan kualitas produknya hingga ke tangan konsumen. Terlebih, Regopantas menyertakan sistem barcode pada setiap produk yang dikirimkan ke konsumen. Barcode ini menyimpan informasi asal usul produk dan profil petani.

Artinya, sistem ini menjadi nilai jual tambahan bagi petani untuk mendapatkan pelanggan tetap yang merasakan kepuasan atas kualitas produknya. Selain menjual hasil taninya ke konsumen individual, Regopantas juga mendistribusikan ke restoran di daerah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan NTB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here