“Abracadabra”, Film Terbaru Reza Rahadian Bernuansa Surealis

Sumber: culutura.id

Film terbaru Reza Rahadian di tahun 2020 berjudul “Abracadabra” dan disutradarai oleh Faozan Rizal. “Abracadabra” mengusung nuansa yang sedikit berbeda dari beberapa film yang pernah dibintangi Reza Rahadian. Reza berperan sebagai pemeran utama yang merupakan seorang pesulap.

Karier sang sutradara sendiri, Faozan, lebih banyak dihabiskan sebagai penata kamera. Ia pernah terlibat dalam beberapa film, seperti “Perahu Kertas”, “Sang Pencerah”, “Perempuan Berkalung Sorban” dan “Banyu Biru”. Faozan juga pernah duduk di kursi sutradara ketika menyutradarai “Habibie dan Ainun”.

Film Terbaru Reza Rahadian Berkisah Tentang Pesulap

Sumber: womantalk.com

Tokoh pesulap yang diperankan Reza Rahadian bernama Lukman. Lukman memutuskan untuk pensiun dan menggelar pertunjukkan terakhirnya. Di pertunjukan itu ia memasukkan seorang anak kecil ke dalam kotak kayu dan menghilangkannya. Sang anak menghilang, tapi Lukman tidak mampu mengembalikannya. Akibatnya, Lukman justru dikejar-kejar polisi karena dituduh telah menculik seorang anak.

Lukman bukan hanya harus menghindari kejaran polisi. Lebih dari itu, ia juga harus memecahkan sebuah teka-teki yang berkaitan dengan ayah dan masa lalunya. Untuk itu, Lukman bertemu dengan seorang wanita cantik, dua orang wanita kembar dan seekor Harimau.

Baca Juga: Review Film “Imperfect”: Kecantikan dalam Ketidaksempurnaan

Film terbaru Reza Rahadian ini dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris senior Indonesia. Di antaranya, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Jajang C. Noer. Peran para polisi yang mengejar-ngejar Lukman dipercayakan pada Butet Kertaredjasa, Imam Darto dan Ence Bagus. Sedangkan tokoh Sofnita dipercayakan perannya pada Salvita Decorte.

Konsep Baru untuk Perfilman Indonesia

Sumber: movieden.net

Lewat “Abracadabra”, Faozan menawarkan nuansa baru bagi penggemar film Indonesia. Film ini mengusung konsep surealis dengan sisi artistik cukup kuat diperlihatkan. Hal itu terlihat dari penggunaan tata busana dan aksesoris yang klasik atau eksentrik, serta latar belakang dan dekorasi yang penuh dengan aneka warna.

Tata cahaya diperhatikan pula agar warna-warna yang digunakan bisa ditonjolkan dengan tepat sesuai kebutuhan adegan atau jalan cerita. Gaya bahasanya juga berbeda. Faozan Rizal menggunakan transisi adegan yang berbeda dari film-film kebanyakan.

Klimaks dan antiklimaks seolah diabaikan, sehingga penonton harus menggunakan pemahamannya masing-masing untuk menterjemahkan isi atau pesan cerita. Jadi, bisa saja penonton menangkap ceritanya datar-datar saja, karena sebenarnya ending cerita bukanlah hal yang benar-benar utama.

Kalau kamu penggemar Reza Rahadian, kamu tentunya harus menonton film ini. Namun, siapkan diri karena film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film kebanyakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here