Perusahaan Juga Butuh Branding, Biar Dilirik Para Pelamar

Perusahaan Juga Butuh Branding, Biar Dilirik Para Pelamar

Dalam bidang marketing dan sales, istilah branding sudah bukan barang baru. Branding dalam ranah marketing diperlukan untuk menarik perhatian publik, agar melirik produk barang maupun jasa yang dijual.

Dewasa ini perusahaan melakukan branding bukan hanya ditujukan kepada produknya saja, namun kepada perusahaan itu sendiri. Perusahaan perlu mem-branding dirinya sendiri agar publik mengetahui aktivitas apa saja yang dilakukan oleh karyawan di dalamnya.

Menunjukkan aktivitas karyawan sesuai dengan nilai-nilai yang dipercaya oleh perusahaan, menjadi salah satu perwujudan employer branding.

Kenapa banyak perusahaan yang mulai melakukan employer branding?

Memiliki produk yang amat menguasai pasar, tidak menjamin perusahaan yang memproduksi barang ataupun jasa tersebut juga ikut dikenal. Banyak orang yang lebih aware terhadap merek produk dibandingkan perusahaan tempat di mana produk itu dihasilkan.

Seperti yang dialami oleh sebuah perusahaan Fast Moving Consumer Good (FMCG) Wipro Unza Indonesia, yang harus menerima kenyataan bahwa publik lebih mengenal seri produk parfum “Vitalis” dibandingan nama perusahaannya.

Sejak tahun 2017, Wipro Unza Indonesia mulai peduli terhadap employer branding. Hal ini disampaikan oleh Jr. HR Manager Wipro Unza Indonesia, Ardhini Retno Putri.

Karena ketidaktahuan publik mengenai profil perusahaan, maka minat pelamar terhadap perusahaan ini cukup rendah.

“Tujuan awal kami memulai employer branding , kami ingin meningkatkan awareness mengenai profil perusahaan kami. Karena kebanyakan pelamar hanya mengetahui brand produk, bukan nama perusahaan,” jelasnya.

Jr. HR Manager Wipro Unza Indonesia, Ardhini Retno Putri

Untuk memulai aktivitas employer branding, perusahaan harus mulai mendigitalisasi segala jenis kegiatan, termasuk komunikasi kepada para pelamar. Aktivasi media sosial dirasakan sangat berdampak dalam menjalin engagement terhadap para pelamar.

“Tidak bisa kami pungkiri bahwa penting sekali bagi sebuah perusahaan memiliki akun media sosial yang resmi agar bisa berinteraksi langsung dengan publik. Saat ini kami masih fokus pada Instagram,” lanjutnya.

“Kami juga sangat terbantu dengan adanya portal Job-Like yang mampu mengangkat angle lain dari perusahaan kami secara positif melalui Job-Like Magazine.”

Baca Juga: Ingin Bekerja di Bidang Marketing? Ini Tips Sukses dari Pakarnya

Sebelum Aktivasi Employer Branding, Baiknya Perusahaan Melakukan Ini Dulu

wipro unza indonesia
Employee Gathering Wipro Unza Indonesia
(Sumber: Wipro Unza Indonesia)

Menyajikan aktivitas karyawan di perusahaan melalui media tertentu, menjadi bagian dari kegiatan employer branding. Namun, Ardhini menegaskan sebelum mengekspos kegiatan employer branding kepada publik, perusahaan berusaha memperbaiki dan meningkatkan employee engagement secara internal.

Dengan terbangunnya employee engagement, karyawan terdorong untuk aktif mempromosikan kegiatan-kegiatan seru yang berlangsung di kantor melalui akun media sosial mereka masing-masing secara sukarela.

Setelah hampir dua tahun menerapkan employer branding, Ardhini mengakui bahwa adanya peningkatan antusiasme pelamar. Ini pula yang menjadi salah satu indikator keberhasilan employer branding yang dilakukan perusahaannya.

“Yang jelas awareness meningkat. Ketika kita memperkenalkan nama perusahaan kepada pelamar, mereka langsung aware terhadap produk brand kami dibandingkan 2-3 tahun yang lalu.”

“Pada tahun 2017, ada salah satu lowongan ‘A’ yang pernah dibuka dan pelamarnya hanya belasan. Kini, dengan lowongan yang sama, kami bisa menerima puluhan bahkan ratusan pelamar pada setiap kali posting,” ungkap Ardhini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here