Yohanes Sugihtononugroho, Anak Kota yang Peduli Bantu Petani

ceo crowde
Yohanes Sugihtono, CEO dan Co-Founder Crowde

Sebagai startup yang berfokus pada pemodalan petani, Crowde memiliki misi sosial untuk melihat perkembangan petani dari segi bisnis. Petani diharapkan tak hanya unggul dalam memodifikasi hasil tani, namun juga cakap dalam mengembangkan agribisnis.

Yohanes Sugihtononugroho adalah salah satu orang yang berperan di balik berkembangnya platform peer to peer lending bagi petani ini. Juli 2018, pemuda ini bahkan menjadi salah satu Forbes Under 30 karena upayanya untuk memajukan bisnis pertanian melalui digital.

Meski banyak perusahaan atau startup yang melakukan bisnis serupa, namun alumnus Universitas Prasetiya Mulya Fakultas Ekonomi ini memiliki motivasi personal yang menggiringnya untuk membangun dan menjalankan bisnis sosial.

Beda dari pembahasan sebelumnya mengenai model bisnis yang dilakukan Crowde, kali ini, Job-Like Magazine akan menyelami sisi humanis dari seorang Yohanes Sugihtononugroho melalui bincang-bincang berikut ini.

Apa kata CEO Crowde, Yohanes Sugihtononugroho perihal bisnis sosial yang dibangunnya?

Bagaimana mulanya Anda memiliki ide untuk mendirikan bisnis yang bisa membantu petani?

Sebenarnya pertanyaan saya soal kesejahteraan petani, sudah ada sejak SMA. Saat itu, saya ditugaskan untuk tinggal di sebuah kampung. Di kampung yang jaraknya hanya 3 jam dari Jakarta, kok kehidupannya sudah beda banget. Sekembalinya ke Jakarta, saat saya sedang makan di Warteg saya berpikir, semua yang ada di atas piring saya ini asalnya dari petani. Tetapi kenapa kehidupan mereka sulit untuk sejahtera? Pertanyaan itu mengendap sampai akhirnya saat saya kuliah, saya ditugaskan lagi untuk mendampingi warga di salah satu desa. Di sana saya dapat “pe-er” untuk mendampingi seorang janda beranak 3. Untuk membantu perekonomian si ibu, kami membuatkan kubung jamur tiram. Mereka rawat kubung jamur tiram tersebut, sampai akhirnya bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dari pengalaman itu, saya jadi tersadar bahwa ini yang ingin saya lakukan yaitu mendalami dunia agribisnis dan membantu para petani.

Baca Juga: Crowde: Pemodalan Daring untuk Bantu Petani Berjaya

Bagi Yohanes yang sebelumnya tidak mempelajari agribisnis secara formal, apa kendala yang dihadapi dalam melakukan bisnis sosial seperti ini?

Saya pribadi pernah gagal saat sedang mengelola bisnis peternakan di Sukabumi. Saat itu dalam waktu 2 tahun, jumlah ayam saya dari yang hanya 10.000 ayam berkembang menjadi 100.000 ayam. Suatu hari harga ayam jatuh karena ayam dari peternak besar sakit. Mereka memutuskan untuk menjual seluruh ayamnya ke pasar sehingga harga ayam jatuh total. Akhirnya saya bangkrut. Dari situlah saya berpikir, jangan-jangan alasan saya melakukan ini ada yang salah. Sehingga, di Crowde ini saya berniat bahwa terjun ke dunia agrikultur bukan hanya untuk uang, tetapi juga untuk membantu petani kecil khususnya.

Nah, dari pemilihan namanya sendiri sepertinya nggak ada nuansa pertaniannya ya?

Crowde berdiri dari banyak kerumunan orang. Dalam bahasa Inggris arti kata crowd sendiri kan ramai, beramai-ramai. Jadi kami berharap Crowde ini bisa lebih dari sekedar platform investment tetapi bisa menjadi movement yang menggerakkan orang-orang agar mau membantu petani.

Prinsip apa yang Anda tanamkan di Crowde?

Prinsip utama Crowde yaitu nggak kepikiran uang, kepikirannya justru menolong. Itu yang menjadi idealisme kami saat Corwde beroperasi pertama kali. Hingga pada suatu saat, ada petani yang bertanya kepada saya. “Bapak dapat uangnya darimana?” Saat itu saya menjawab, “kami sih nggak ambil untung dari sini”. Saat itu dia bilang sesuatu yang menyadarkan kami, “Kalau bapak sekarang nggak ada uang dan nggak bisa jalan lagi, nasib kami gimana? Kalau bapak tidak ada lagi, kami akan kembali kepada tengkulak dan kondisi kami akan lebih buruk dari sebelumnya”. Dari situ saya tersadar, bahwa kita harus punya model bisnis untuk bisa survive.

Model bisnisnya seperti apa?

Kami menggunakan biaya administrasi sebanyak 3% dari jumlah funding. Jadi, semakin banyak yang funding, Crowde akan semakin kuat dan bisa bertahan.

Selain membantu petani mendapatkan pemodalan, apa lagi sih yang dikerjakan oleh Crowde untuk petani?

Kami sadar, para petani hingga kini masih ada yang sulit mengakses pasar untuk memasarkan hasil taninya. Maka dari itu, lahirlah tengkulak. Crowde juga membantu petani memasarkan hasil taninya. Sistemnya B2B mulai dari ke industri, ekspor, pasar modern, bahkan pasar tradisional. Dengan cara ini, diharapkan mereka tidak lagi jatuh ke tangan tengkulak.

Pernahkah Anda merasa berada di titik terendah saat mengelola Crowde?

Titik terendah Crowde waktu itu tahun 2016. Produk cabai kami gagal total karena hujan deras. Di saat itu juga, saya mendapat tawaran pekerja yang lebih besar untuk membantu startup orang lain. Tetapi, saya memutuskan untuk tidak mengambil tawaran tersebut karena kalau saya mudah menyerah, masalah pertanian untuk petani di Indonesia tidak akan selesai.

Makanya penting ya untuk membuat sebuah kolaborasi untuk mengatasinya?

Penting banget! Crowde sendiri punya misi ingin membentuk ekosistem. Dengan terbentuknya ekosistem ini, saya berharap semua orang akhirnya bisa ikut membantu petani.

Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi aset paling berharga apapun jenis usahanya. Begitu juga dengan Crowde yang memandang bahwa memberdayakan potensi SDM dengan tepat, akan membantu perusahaan tumbuh dan berkembang lebih cepat.

Ketika membangun bisnis, yang dibicarakan adalah how to develop people. Adakah nilai-nilai tertentu yang ditanamkan kepada diri setiap karyawan dalam tim Anda?

Crowde memiliki 4 nilai yang selalu kami tekankan kepada seluruh karyawan, baik di kantor maupun tim lapangan. Pertama, fun. Dalam bekerja kita harus selalu happy, apapun masalah yang kita temui di lapangan. Kedua, fail. Setiap orang harus pernah merasakan gagal yang kemudian akan menjadi sumber pembelajaran terpenting. Ketiga, great. Kami tidak pernah bilang tidak, yang kami tekankan adalah kenapa? Jika ada mitra tani yang menolak untuk bergabung bersama Crowde, kita harus menyelami kenapa mereka tidak mau dan apa yang bisa kita lakukan agar mereka mau bergabung. Keempat, family. Saya menganggap seluruh karyawan maupun mitra itu adalah satu keluarga. Sehingga, hubungan kami layaknya keluarga yaitu terbuka, toleransi, dan selalu saling menjaga.

Crowde
Komitmen karyawan Crowde
Crowde
Tim kerja di Crowde

Kalau dilihat banyak karyawan yang bekerja di Crowde usianya masih cukup muda. Bagaimana me-maintain para anak-anak muda ini agar bekerja sesuai dengan visi?

Ya, karyawan di Crowde memiliki usia maksimal 30 tahun. Agar mereka tetap attach dengan Crowde kami memberikan mereka wewenang untuk memimpin suatu tugas atau divisi. Untuk loyalitas, hingga saat ini Crowde belum pernah ada masalah. Karena saya selalu menekankan, ini perusahaan kalian bukan hanya perusahaan saya. Jadi ketika melakukan perekrutan, kami juga berupaya bagaimana mereka bisa punya rasa memiliki dan menerapkan nilai-nilainya. Vision on top money.

So, what’s next

Kami tetap terus ingin memasyarakatkan Crowde. Kemudian kami berambisi ingin melebarkan sayap ke Asia Tenggara dan ke Afrika. Namun, sebelum ke sana saya masih melihat bahwa permasalahan pertanian di Indonesia sehingga penting untuk membentuk sistem agrikultur di Indonesia. Kemudian kami ingin mendigitalisasi interaksi setiap petani, sehingga kontrol akan lebih mudah dilakukan.

“Jika kalian ingin membantu lingkungan dan sesama melalui sebuah bisnis, landasannya harus benar-benar peduli dengan mereka. Di tengah perjalanan nanti, godaan akan datang lebih banyak, salah satunya godaan untuk memanfaatkan dibandingkan memberdayakan. Jadi, luruskan niat kalian”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here