Emotional Shopping: Kebiasaan Belanja Berlebihan karena Nafsu Belaka

Belanja adalah aktivitas yang harus dilakukan untuk membeli berbagai kebutuhan. Namun, ada pula orang yang berbelanja demi kesenangan diri sendiri meskipun barang yang dibeli tidak terlalu dibutuhkan. Fenomena tersebut dikenal dengan sebutan emotional shopping.

Apakah kamu termasuk orang yang sering melakukan emotional shopping? Kalau iya, maka sebaiknya kamu mulai berupaya menghentikan kebiasaan tersebut agar tidak menimbulkan berbagai dampak buruk bagi diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Apa yang Dimaksud dengan Emotional Shopping?

Emotional shopping adalah kebiasaan membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan atau bahkan sebenarnya tidak diinginkan sebagai bentuk pelampiasan rasa sedih, kebosanan, stres, dan insecure. Semakin parah tingkat stres yang dialami seseorang, maka semakin besar pula kecenderungan untuk berbelanja berdasarkan emosi.

Pada umumnya, fenomena ini dialami oleh kaum wanita. Namun bukan berarti kaum pria tak bisa mengalaminya. Bahkan, keinginan berbelanja akan semakin kuat jika melihat diskon atau penawaran menarik lainnya.

Baca Juga: Thrift Shopping: Kebiasaan Belanja yang Seru dan Anti Kantong Jebol

Ciri-Ciri Orang yang Belanja karena Terpengaruh Emosi

Orang-orang yang melakukan emotional shopping biasanya menunjukkan kesamaan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Lebih fokus pada aktivitas belanja sebagai privilege daripada memikirkan tentang proses pembayarannya.
  • Mengalami peningkatan hormon endorphin yang menyebabkan rasa bahagia sesaat sebelum membayar.
  • Ketika telah membayar barang belanjaan, perasaan bersalah pun mulai muncul.
  • Berbohong atau menyembunyikan kebiasaan belanja dari orang-orang terdekat (pasangan dan keluarga).
  • Lemari pakaian di rumah berisi banyak barang yang tidak pernah digunakan sama sekali.

Bagaimana Cara Menghentikan Kebiasaan Belanja yang Keliru Tersebut?

Jangan resah dulu jika kamu termasuk orang yang sering melakukan emotional shopping. Kebiasaan buruk tersebut bisa diatasi dengan beberapa cara ini:

  • Menghentikan kebiasaan belanja dengan “aturan 24 jam”. Tahanlah keinginan belanja selama kurang lebih 24 jam agar nantinya nafsu berbelanja berangsur-angsur menurun.
  • Membatasi intensitas penggunaan smartphone untuk mengakses toko online di media sosial dan sejumlah platform e-commerce lainnya.
  • Meminta bantuan pasangan atau keluarga untuk membantu membatasi finansialmu. Misalnya, kamu tidak boleh membawa kartu kredit dan uang tunai berlebihan saat berbelanja sendirian.
  • Menggantikan hobi belanja dengan aktivitas lainnya yang lebih hemat dan tak kalah menyenangkan.

Intinya, jangan sampai emotional shopping mengganggu kondisi finansialmu maupun keluarga. Kenali batasan belanja supaya tidak tergiur membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here