Eks Karyawan Gojek Luncurkan Aplikasi untuk Cari Kerjaan Sampingan

Eks Karyawan Gojek Luncurkan Aplikasi untuk Cari Kerjaan Sampingan

Membuka akses bagi para pekerja kerah biru mendapatkan kerja sampingan sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki, menjadi misi utama Sampingan.

Sampingan merupakan platform digital, mempertemukan antara perusahaan yang tengah membutuhkan pekerja lepas dengan para pekerja lepas yang membutuhkan penghasilan tambahan.

Wisnu Nugrahadi, eks karyawan Gojek yang kini menjadi Chief Executive Officer Sampingan menyatakan, kehadiran Sampingan awalnya ditujukan untuk mengurangi kesenjangan penghasilan yang terjadi di dunia kerja saat ini.

“Menurut kami kesenjangan penghasilan yang terjadi karena minimnya akses bagi pekerja kerah biru untuk mendapatkan pekerjaan-pekerjaan tambahan. Peluang setiap orang berbeda karena perusahaan melihat latar pendidikan, asal perguruan tinggi, dan sebagainya,” jelas Wisnu.

“Menurut kami, semua orang bisa mendapatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan tambahan asalkan mau bekerja dan jujur,” sambungnya.

Oktober 2018, Sampingan mulai dirilis. Saat itu, para pendirinya hanya berpikir, bagaimana bisa membantu seseorang untuk mendapatkan pekerjaan tambahan dan mereka bisa meningkatkan kualitas hidupnya, dengan penghasilan tambahan.

Saat ini aplikasi Sampingan dapat diunduh di Apps Store dan telah diunduh sebanyak 350 ribu kali. Sebanyak 150 ribu pengguna aplikasi Sampingan, menurut Wisnu masih belum seberapa dengan banyaknya masyarakat usia produktif di Indonesia yaitu sebanyak 120 juta orang.

CEO Sampingan, Wisnu Nugrahadi (Foto : Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Banyaknya masyarakat usia produktif di Indonesia, membuka kesempatan bagi Sampingan untuk terus berkembang dan melakukan ekspansi bisnis. Hal ini yang membuat Wisnu yakin, Sampingan bisa hadir di lebih dari 25 kota di Indonesia.

Baca Juga: Butuh Penghasilan Tambahan, Ini Saatnya Kamu Ubah Hobi jadi Cuan

“Saat ini, kami memiliki pengguna di 25 kota di Indonesia. Rencana untuk melebarkan sayap pasti ada, tetapi saat ini kami fokus pada bagaimana kami bisa membantu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja sementara (temporary) untuk bidang tertentu,” tambah Wisnu.

Sebagai startup yang bergerak dalam bidang layanan jasa, Wisnu menjelaskan Sampingan memiliki tiga hal utama yang harus konsisten untuk dilakukan, yaitu speed, quality, dan fast.

“Kami mendirikan Sampingan ini karena kami melihat bahwa ternyata banyak ya perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja tambahan. Nah, kami ingin mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan kebutuhan masyarakat terkait masalah pendapatan,” katanya.

Tren tersebut dilihat sangat meningkat terutama pada bisnis rintisan (start-up). Kebanyakan bisnis rintisan memerlukan tenaga kerja sementara, namun untuk hasil yang maksimal.

Hasil yang maksimal juga bisa dirasakan Sampingan jika memiliki tenaga kerja dalam bidang teknologi yang andal. Mencari dan mendapatkan tenaga kerja dalam bidang teknologi yang andal, menjadi salah satu tantangan bagi Sampingan, untuk memperlebar lini bisnisnya dan memperluas jangkauan dampaknya.

Sampingan menerima pendanaan awal sebesar US$ 100 ribu dari generator startup, Antler (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

“Sampai saat ini, kami masih merasakan sulitnya mendapatkan talenta yang andal di bidang teknologi. Sehingga, kami bertanggung jawab untuk menumbuhkan tenaga kerja (dalam bidang teknologi) yang ada agar bisa membuat dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” katanya.

Menjadi salah satu founder merupakan suatu hal yang baru bagi Wisnu dan memungkinkan untuk belajar satu sama lain. Ia mengajak timnya fokus memberikan yang terbaik, untuk memenuhi kebutuhan perusahaan maupun para pencari kerja tambahan.

Kekurangan tenaga kerja dalam bidang teknologi, membuat Sampingan harus melakukan investasi dari segi waktu untuk merawat dan menumbuhkan tenaga kerja andal di bidang teknologi.

Dengan memiliki tenaga kerja yang andal, Wisnu percaya Sampingan akan bisa memberikan kontribusinya kepada masyarakat luas.

“Ini yang akan membuat negara kita semakin menarik beberapa tahun ke depan karena iklim dan perubahan ekosistem start-up memengaruhi banyak faktor seperti bagaimana orang bekerja, mendapatkan uang, dan sebagainya,” sambungnya.

Wisnu optimis, ia bersama bisnis rintisannya bisa membuat para pekerja kerah biru tetap bertahan di tengah gempuran automasi pekerjaan yang terjadi di era digital saat ini.

“Dengan memberikan akses yang sama terhadap para pencari kerja tambahan, mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak dan menggunakan hasil tersebut untuk mengembangkan diri, misalnya berinvestasi pada pendidikan,” tutup Wisnu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here