Remote Working: Mengatasi Efek Negatif Bekerja di Luar Kantor

Belakangan ini, remote working bukan hanya diterapkan oleh freelancer saja. Banyak perusahaan ternama juga menerapkan konsep bekerja di luar kantor bagi para karyawannya. Namun, kalau tidak dilakukan dengan benar, hal ini bisa mendatangkan kerugian.

Remote working dipilih sebagai salah satu cara bekerja karena bisa meningkatkan employee retention. Produktivitas juga meningkat karena karyawan atau freelancer (remote worker) bisa memilih waktu dan lokasi bekerjanya. Selain itu, perusahaan juga bisa menghemat pengeluaran.

Namun, remote working tidak selalu mendatangkan keuntungan. Berikut ini beberapa efek negatif yang bisa ditimbulkan dan cara mengatasinya.

Kesulitan Berkomunikasi

Komunikasi antara perusahaan dan remote worker memang bisa dilakukan lewat email atau aplikasi pesan singkat. Namun, setiap kanal komunikasi online pasti memiliki keterbatasan masing-masing. Apalagi jika pekerjaan tersebut memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Hal ini bisa menyebabkan masalah lainnya, yaitu kesulitan berkoordinasi.

Cara mengatasinya, yaitu dengan menggunakan virtual meeting. Dengan begini, perusahaan dan semua remote worker bisa membahas segala sesuatu mengenai pekerjaan layaknya bertatap muka secara offline. Keuntungan lain dari virtual meeting, yaitu setiap remote worker bisa merekam dan menyimak kembali hasil rekaman di lain waktu.

Selain itu, agar koordinasi menjadi lebih lancar, perusahaan dan remote worker juga bisa menggunakan software project management. Semisal, Basecamp, Paymo atau WorkZone.

Baca Juga: Pelajari 5 Trik Penting Komunikasi di Lingkungan Kerja

Remote Working Membuat Remote Worker Kurang Mengenal Nilai-Nilai Perusahaan

Meski bekerja di luar kantor, remote worker juga merupakan bagian dari perusahaan. Namun, berada di luar kantor menjadikan remote worker tidak akrab dengan budaya kerja dan nilai-nilai perusahaan. Di sisi lain, mengenal budaya dan nilai kerja juga merupakan cara untuk meningkatkan produktifitas.

Agar lebih mengenal budaya kerja dan nilai-nilai perusahaan, perusahaan bisa mengadakan meeting offline dalam kurun waktu tertentu. Ketika meeting, perusahaan bisa mengkomunikasikan budaya kerja dan nilai-nilai perusahaan pada remote worker.

Akuntabilitas dan Tingkat Retensi yang Rendah

Tingkat akuntabilitas atau kualitas pekerjaan yang dihasilkan dari remote working terbilang rendah. Pasalnya, perusahaan tidak bisa mengawasi remote worker seperti halnya mengawasi karyawan di kantor. Selain itu, remote worker juga bisa kehilangan produktivitas karena perhatiannya tertuju pada hal lain.

Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya perusahaan membudayakan transparansi. Semisal, mengharuskan remote worker mengirimkan laporan secara berkala. Untuk beberapa jenis pekerjaan tertentu, tidak ada salahnya jika perusahaan menggunakan time tracking software. Namun, agar menjadi produktif, perusahaan bisa mengijinkan remote worker untuk bekerja sesuai waktu atau kesempatan yang dimilikinya.

Di sisi lain, remote worker cenderung mudah berpindah ke perusahaan lain, atau memilih jenjang karier yang lebih baik. Untuk menghindari hal semacam ini, perusahaan bisa meningkatkan kualitas proses rekrutmen. Cara lainnya, yaitu dengan mendokumentasikan semua pekerjaan. Sehingga jika remote worker memutuskan keluar dari perusahaan, penggantinya akan mudah menyelesaikan pekerjaan dan beradaptasi dengan perusahaan.

Cara-cara di atas dapat dilakukan agar penerapan remote working berjalan efektif. Namun, perusahaan juga harus memperhatikan hak-hak remote worker agar produktivitas terjaga dan tingkat turnover dapat ditekan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here