Ini Anjuran Psikolog untuk Atasi Stres akibat PHK karena Virus Covid-19

Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karena virus Covid-19 mulai mengancam dunia, termasuk Indonesia. Pandemi virus Covid-19 memang tak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga perekonomian dunia. Kekhawatiran terjadinya resesi global menguat seiring kebijakan pembatasan sosial hingga lockdown yang diambil hampir seluruh negara di dunia. 

Ini dikarenakan pembatasan sosial yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 mau tidak mau mengganggu aktivitas dan produktivitas perusahaan. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi, PHK menjadi jalan keluar. Meskipun pemerintah Republik Indonesia (RI) sendiri telah melonggarkan pembayaran kredit UMKM di bawah Rp10 miliar untuk satu tahun ke depan. 

Ancaman PHK karena virus Covid-19 jelas akan memengaruhi kondisi kesehatan mental tenaga kerja. Bahkan, bukan tidak mungkin menimbulkan stres hingga depresi karena diterjang krisis ganda, yaitu ancaman kesehatan akibat penyebaran virus dan PHK karena virus Covid-19.

Nah, apa yang harus dilakukan para tenaga kerja agar tidak tumbang secara mental akibat resesi global? Menurut Aenea Marella, M.Psi., Psikolog, kemampuan untuk membentuk mindset yang positif di tengah resesi menjadi cara mujarab untuk menghindari gangguan psikologis karena efek pandemi corona ini.

Baca Juga: 5 Cara Mudah Mengatasi Stres karena Virus Corona, Coba Lakukan Ya!

Kepada Job-Like Magazine melalui interview via surat elektronik, Aenea menjelaskan bahwa tenaga kerja harus menempatkan diri sebagai survivor ketika terpaksa di PHK karena virus Covid-19. Jangan biarkan pikiran mengarahkan dirinya sebagai korban PHK. Pasalnya, ancaman lay off karena pandemi ini tidak hanya dialami oleh satu atau dua perusahaan saja. Tetapi, ini sudah menjadi permasalahan global.

“Hindari pemikiran bahwa kita adalah korban. Perlahan-lahan miliki mindset bahwa kita adalah penyintas (survivor). Pahami bagaimana pandemi ini memengaruhi ekonomi global dan industri tempat kita bekerja. Sehingga kita bisa melihat dan memahami lay off dengan lebih baik, yaitu sebagai konsekuensi logis,” jelas Aenea.

“Kita perlu menyadari bahwa siapapun berpotensi mengalami lay off. Yang membedakan adalah waktunya dan potensinya. Ada industri tertentu yang lebih rentan lay off, ada yang kemungkinannya lebih kecil, tapi bukan tidak ada sama sekali. Dengan demikian, kita menyadari bahwa kita tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini,” tuturnya.

Terpuruk akibat PHK karena virus Covid-19 jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Menerima konsekuensi logis akibat pandemi ini harus disertai dengan usaha untuk menormalkan kembali keadaan. Setidaknya bisa dilakukan dengan aktif mencari peluang kerja baru, meski hal itu tidak mudah di tengah krisis ekonomi.  

Namun, upaya aktif untuk mencari pekerjaan baru pasca PHK mampu meredam risiko gangguan psikologis. Oleh karena itu, mulailah memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Pengendalian ini ditegaskan Aenea sebagai salah satu cara untuk mengelola kecemasan.   

“Kita perlu berfokus pada hal yang bisa dikendalikan. Misalnya, tetap pertahankan networking yang ada, sekecil apapun itu. Lalu meng-update CV karena ada kita harus memasarkan diri lagi, mengasah atau mempertajam skill, membuat perencanaan keuangan, dan lain-lain,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here