Bahaya Jam Kerja yang Panjang, Picu Risiko Stroke Hingga Kematian

Pola kerja dari rumah akibat pandemi COVID-19 dinilai memberikan sisi negatif terkait semakin panjangnya jam kerja yang dihabiskan pekerja. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan jam kerja yang panjang ketika bekerja dari rumah. Pertama, pekerja kesulitan memisahkan waktu antara bekerja dan kehidupan pribadi.

Kedua, pekerja ingin membuktikan kepada atasannya bahwa ia tetap bekerja dengan keras meskipun tanpa pengawasan langsung. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada ancaman kematian ketika seseorang bekerja dengan jam kerja yang panjang. Ancaman ini dinilai semakin meningkat pada masa pandemi COVID-19.

Menurut studi dalam jurnal Environment International seperti yang dilansir Reuters, pada tahun 2006 tercatat 745.000 pekerja meninggal karena stroke dan penyakit jantung akibat jam kerja yang panjang. Angka ini meningkat hampir 30 persen dari tahun 2000. 

Sementara itu, menurut studi sebagian besar korban adalah laki-laki dan berusia paruh baya atau lebih (72 persen). Studi juga menunjukkan ancaman mematikan akibat jam kerja yang panjang banyak dialami oleh pekerja di wilayah Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat, terutama Cina, Jepang, dan Australia.

Baca Juga: Dari Kantor ke Work From Home, Tips Mudah Mengubah Cara Kerja

Berdasarkan penelitian dari 194 negara, jam kerja panjang hingga 55 jam atau lebih dalam seminggu meningkatkan risiko stroke 35 persen lebih tinggi. Sementara, risiko kematian akibat penyakit jantung 17 persen lebih tinggi dibandingkan ketika bekerja selama 35-40 jam seminggu. 

“Bekerja 55 jam atau lebih per minggu merupakan bahaya kesehatan yang serius. Yang ingin kami lakukan dengan informasi ini adalah mempromosikan lebih banyak tindakan, lebih banyak perlindungan terhadap pekerja,” jelas Maria Neira, direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan kesehatan WHO, seperti dilansir dari Reuters.  

Ketentuan Jam Kerja di Indonesia Menurut UU Cipta Kerja

Ketentuan jam kerja di Indonesia sendiri telah diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Oktober 2020. Pelaksanaan jam kerja ditetapkan berdasarkan ketentuan perusahaan atau perjanjian kerja bersama antara perusahaan dan karyawan. 

Meski begitu, jumlah jam kerja UU Cipta Kerja tetap sama seperti peraturan sebelumnya. Yaitu, dihitung tujuh jam dalam sehari dan 40 jam dalam sepekan untuk enam hari kerja. Atau setara dengan delapan jam kerja per hari dan 40 jam dalam seminggu untuk lima hari kerja. Hal ini diatur dalam UU Cipta Kerja ayat 2. 

Dalam ayat 3 ditegaskan bahwa ketentuan waktu kerja tersebut tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu. Sementara itu, ketentuan jam kerja ada di tangan perusahaan atau perjanjian kerja bersama tercantum pada ayat 4.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here