Cerita Bankir yang Bantir Setir Jadi Seorang Fashionpreneur

Fahmi Hendrawan, Founder Fatih Indonesia

Perjalanan Fahmi Hendrawan mendirikan bisnis moslem clothing line, Fatih Indonesia tidak semudah yang dibayangkan. Pencarian passion ia lakukan selama bertahun-tahun. Dimulai ketika ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari bank tempatnya bekerja pada tahun 2013, Fahmi memulai pencarian jati diri mulai dari menjadi penyanyi freelance, MC pernikahan, dan hal-hal lainnya di bidang entertainment. Namun, pencariannya terhenti ketika memutuskan untuk menjadi fashionpreneur dengan mendirikan label fashion-nya sendiri; Fatih Indonesia.

Tahun 2015, ia mulai merintis moslem clothing line Fatih Indonesia. Perjalanan membangun bisnis fashion, tentu berjalan bukan tanpa rintangan. Di tahun pertama, Fahmi sempat hampir menutup bisnisnya dan berpikir untuk kembali bekerja di kantor. Desember 2015, ia sempat mendapat tawaran pekerjaan dari salah satu Unicorn di Indonesia. Sebelum ia menutup bisnis fashionnya, Fahmi menyempatkan untuk pulang kampung ke Garut. Di sanalah, alumnus Institut Pertanian Bogor ini mendapat pengalaman menarik yang mengurungkan niatnya untuk menutup bisnisnya.

“Di tahun pertama memang pola pikir saya, bagaimana caranya kita mendapat untung yang sebesar-besarnya dan itu malah membuat saya cepat putus asa karena nggak kelihatan progress-nya. Karena saya pikir, ngapain saya bisnis kalau tidak untung? Lebih baik kembali kerja kantoran. Di saat-saat itu saya pulang ke Garut mau pamit sama orang tua dan para penjahit, karena saya mau tutup bisnisnya. Belum sempat pamit, di sana saya bertemu dengan salah satu penjahit yang sedang membangun rumah. Dia bilang, ‘Mas Fahmi, ini rumahnya dari Fatih Indonesia’. Saat itu, saya langsung berpikir kok bisa ya. Padahal, saya merasa sangat kesulitan mendirikan bisnis ini tetapi ternyata ada orang lain yang terbantu dengan bisnis ini. Di sana, saya sadar bahwa bisnis ini harus tetap berjalan,” ungkapnya.

Selain harus terus berinovasi dengan desain-desain terbaru, tantangan lain datang dari kekompakan tim yang harus selalu dijaga. Fahmi menyatakan selalu melibatkan tim dalam setiap proses berkembangnya bisnis ini. Menyamakan frekuensi dan menjaga ego dari masing-masing anggota tim, merupakan salah satu ujian terberat untuk membentuk tim yang solid.

“Sudah biasa kalau keinginan antar anggota tim berbeda satu sama lain. Jadi, kita harus mengenyampingkan ego dan melakukan banyak pertemuan. Misalnya meeting mingguan, melibatkan anggota tim setiap ada kegiatan sosial, dan sebagainya. Akhirnya mereka akan punya sense of belonging kepada bisnis ini. Saat ini, Fatih Indonesia memiliki 20 karyawan dan Alhamdulillah turn over-nya cukup rendah.”

Baca Juga: Di Balik Keunikan Baju Koko Batik Garutan Ala Fatih Indonesia

Bermula dari Pengalaman Pribadi, Fahmi Meluncurkan Buku ‘Sedekah Inspirasi’

Fatih Indonesia
Fahmi Hendrawan meluncurkan buku Sedekah Inspirasi

Selain gemar mendesain busana muslim, Fahmi memiliki kegemaran lain yang membawanya menjadi penulis buku. Ya, Fahmi sangat gemar menulis sampai di tahun 2016 ada penerbit yang menawarinya untuk menerbitkan buku. Namun, saat itu Fahmi belum percaya diri dan merasa pengalamannya belum cukup banyak untuk dituangkan menjadi buku. Perjalanan mendirikan dan mengembangkan Fatih Indonesia, akhirnya mendorong Fahmi berani untuk meluncurkan sebuah buku pada Januari 2019 yang berjudul ‘Sedekah Inspirasi’. Buku ini berisi tentang kisah masa kecil, remaja, hingga dewasa dari seorang anak kota kecil yang berusaha untuk bertahan hidup di kota metropolitan, Jakarta.

“Ada satu bagian dari buku ini yang menceritakan bagaimana saya dibesarkan dan hijrah ke Jakarta untuk kuliah dan lainnya. Sebenarnya bukan untuk dikasihani, tetapi saya ingin mengajak pembaca untuk tetap semangat di tengah keterbatasan. Kita tidak bisa memilih masa lalu tetapi kita bisa kok untuk tetap survive.”

Masih mengusung misi sosial, royalti dari penjualan buku Sedekah Inspirasi akan diwakafkan untuk pembangunan Quran Center di Bintaro, Tangerang Selatan. Fahmi menuturkan, ia tak pernah membayangkan bahwa bukunya akan menjadi inspirasi bagi orang lain. Ia justru menjadikan bukunya tersebut sebagai pemecut semangat untuk dirinya sendiri agar bisa lebih maksimal dalam berkarya.

“Kita tidak pernah tahu sampai berapa lama kita akan hidup. Kita belum tahu seberapa besar amal kita untuk kebaikan orang lain. Saya ingin buku ini bisa menjadi amal jariah bagi saya ketika saya sudah tidak di dunia lagi. Ke depan, saya tetap akan fokus di Fatih Indonesia karena masih banyak yang bisa dikembangkan,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here