Belajar Coding sambil Berbagi Bersama Binar Academy

Lobby Binar Academy (Job-Like Magazine/Farah)

Binar Academy memiliki misi khusus untuk melahirkan pakar di bidang IT yang mampu diandalkan untuk berkontribusi dalam industri digital. Kesenjangan yang terjadi karena permintaan dan penawaran Sumber Daya Manusia di bidang IT tidak seimbang, menyebabkan sulitnya mencari tenaga IT bertalenta. Kesenjangan tersebut memicu talent war, yang menyulitkan perusahaan digital untuk meluncurkan inovasi dan produk-produk digital baru.

Binar Academy menyediakan 2 program utama, yakni Binar Scholarship dan Binar Plus. Binar Scholarship merupakan program dengan misi sosial yang menyediakan pembelajaran selama 3 bulan secara gratis kepada peserta terpilih, melalui seleksi via website. Sedangkan program Binar Plus merupakan program berbayar, bagi mereka yang belum lolos seleksi Binar Scholarship dan bersedia mengambil program pendidikan berbayar selama 3 bulan.

Baca Juga: Hadapi Persaingan Dunia Teknologi, Binar Academy Lahirkan Ahli IT Masa Depan

Kelas coding dan pemrograman Binar Academy dibuka dengan basic class selama 1 bulan. Basic class diperuntukkan bagi seluruh peserta program Binar Academy, untuk dikenalkan dasar-dasar IT dan pemrograman. Hal ini dirasa perlu karena sebagian besar peserta Binar Scholarship maupun Binar Plus masih awam dalam mempelajari IT dan pemrograman. Setelah peserta menyelesaikan masa inkubasi dengan mengikuti basic class, selanjutnya para peserta akan menjalani tahap development. Dalam tahap ini, peserta terlibat untuk bekerja sama dengan tim. Mereka ditantang membuat sebuah produk digital, yang siap untuk dipresentasikan.

“Ketika masuk masa development, mereka harus fokus untuk mengerjakan proyeknya. Secara berkelompok mereka akan menggagas dan mengeksekusi sebuah produk. Metode ini yang kami terapkan selama program berlangsung. Mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi berkolaborasi dengan peserta lainnya. Kami tidak membatasi inovasi produk mereka. Kami membiarkan mereka mengeksplor kemampuan dan rasa keingintahuan,” jelas Muchsin Fatullah Hilmi, Head Master of Binar Academy.

Binar Academy
Muchsin Fatullah Hilmi, Head Master of Binar Academy (Job-Like Magazine/Farah)

Hilmi menikmati masa-masa menjadi mentor bagi para peserta program Binar Academy. Baginya, teknologi diciptakan untuk membantu masyarakat. Sehingga, orang-orang yang berada di balik munculnya suatu produk digital berperan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Perjalanan karier Hilmi sebagai sebuah software engineer, dimulai ketika ia ber gabung dengan salah satu startup transportasi online buatan anak bangsa. Saat itu,ia berperan sebagai iOS engineer. Ketertarikannya dengan dunia pendidikan, mendorong Hilmi untuk menjadi salah satu tim pengajar di Binar Academy.

“Berbekal pengalaman tersebut, ketika saya diajak oleh Mbak Alamanda untuk bergabung di Binar saya pikir kenapa nggak? Akhirnya apa yang sudah saya pelajari, saya tuangkan dalam kurikulum. Awalnya seperti silabus yang belum rapi dan dari kumpulan silabus tersebut, akhirnya kami urutkan dasar-dasar ilmunya dan terbentuklah kurikulum serta metode pengajaran seperti saat ini,” lanjutnya.

Nurul Azizah Yuniati merupakan salah satu penerima Binar Scholarship. Sebelumnya, Nurul pernah menempuh pendidikan IT (mobile application) pada salah satu universitas swasta di Jakarta. Namun, tingkat keingintahuan yang tinggi mendorong Nurul untuk belajar lebih dalam lagi melalui Binar Scholarship. Bersama dengan penerima beasiswa lainnya, saat ini Nurul sedang mendalami sistem back-end yang sudah berjalan selama 2 bulan.

Binar Academy
Nurul Azizah Yuniati, Peserta Binar Scholarship (Job-Like Magazine/Farah)

“Saya tertarik karena mau mendalami tentang database. Karena dulu pernah belajar bahasa pemrograman Java. Ternyata ada bahasa-bahasa lain juga jadi sangat tertarik untuk belajar semuanya. Di Binar kami ditekankan untuk berkolaborasi, jadi belajarnya nggak cuma sendiri. Jadi, maju bersama,” jelas Nurul.

Meskipun 50% dari lulusan Binar Academy bergabung bersama perusahaan dan mengembangkan produk inovasi, namun ada juga yang memutuskan untuk berbagi ilmu yang telah didapatkan kepada para peserta baru. Salah satunya Didi Irawan, pemuda asal Lombok yang menjadi alumni Binar Academy angkatan keenam di Yogyakarta. Selama 2,5 bulan mengikuti masa pendidikan, Didi merasa tak hanya kemampuan teknisnya yang berkembang. Namun secara soft skill, ia pun merasakan perubahan yang cukup signifikan.

Binar Academy
Didi Irawan, Alumni Binar Scholaship Angkatan Keenam (Job-Like Magazine/Farah)

“Setelah mengambil bidang front-end saat mengikuti Binar Scholarship, saya jadi tahu framework itu seperti apa, menghubungkan ke server itu seperti apa, membuat sebuah produk bersama tim itu bagaimana caranya, dan sebagainya. Secara soft skill, saya juga merasa ada perkembangan. Sebelumnya saya tidak bisa berbicara di depan orang banyak. Tetapi di Binar, kami dituntut untuk bisa menyampaikan ide dan gagasan kepada khalayak. Sehingga, setelah lulus saya jadi lebih percaya diri,” tuturnya.

Chief Business Development Officer Binar Academy, Dita Aisyah mendukung adanya perkembangan potensi dari para peserta, tak hanya secara teknik namun juga soft skill. Menurutnya, inilah yang membedakan Binar Academy dengan sekolah coding pada umumnya.

Our focus in creating engineer characters. Tidak hanya membentuk kemampuan tekniknya yang bagus di bidang IT namun juga melatih kemampuan soft skillnya. Seorang engineer sering diidentikkan dengan sikapnya yang introvert, nerd, awkward, dan sebagainya. We want to break that stigma. Kami selalu menantang mereka untuk bisa mengungkapkan gagasan sehingga dapat didengar oleh orang lain,” jelas Dita.

Beri komentar Anda tentang artikel ini