Ngobrol Bareng Ray, Tentang Semangat dan Digital Marketing

Bicara Tentang Semangat, Ray, dan Digital Marketing
Sumber: Sirclo

Jumat (19/7) siang, saya memasuki bangsal perawatan di Rumah Sakit Carolus Jakarta. Hari itu, saya bertemu Ray Rahendra, seorang digital strategist.

Berbekal percakapan via LinkedIn, Ray mengizinkan saya untuk berbincang mengenai gambaran dunia digital marketing saat ini. Meski kondisinya sedang sakit, ia tetap terlihat bersemangat menyambut tawaran wawancara.

Fransiskus, kamar nomor 15. Begitu saya sampai di depan kamarnya, saya ketuk dan buka pintunya perlahan. Terlihat seorang pria berbadan kurus sedang duduk di atas tempat tidur, fokus pada laptopnya. Ia ditemani oleh seorang perempuan yang juga tak kalah sibuk. Mereka menyambut saya ramah.

Meski sedang dirawat secara intensif karena kanker pankreas yang dideritanya, masih ada semangat dalam dirinya untuk terus berbagi mengenai digital marketing yang telah menjadi sebagian hidupnya.

Dengan nafas tersengal, Ray menceritakan kisahnya kepada saya. Pria kelahiran 13 Agustus ini mengawali kariernya dengan menjadi seorang penyiar radio. Kedekatannya dengan dunia digital marketing dimulai ketika Ray mempelajari copy writing secara autodidak.

“Saat mau menentukan karier, saya berpikir karier apa yang cocok untuk saya yang senang ngobrol, suka bikin konsep, dan menulis. Akhirnya, saya learning by doing mempelajari copy writing sampai sekarang,” kisahnya.

Ngobrol Bareng Ray, Tentang Semangat dan Digital Marketing
Ray Rahendra masih bekerja meski sedang dirawat di rumah sakit. (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

“Setelah punya uang baru saya belajar beneran seperti ikutan webinar, menghadiri acara networking, dan sebagainya.”

Ilmu yang dipunya, tak ingin ia simpan sendiri. Sebagai digital strategist, Ray merasa tak hanya bertanggung jawab kepada klien atau pemilik brand. Namun, juga kepada komunitas yang sama-sama membutuhkan wawasan digital marketing.

Merek lokal menjadi sasaran Ray dalam membagi ilmunya. Melalui BacaanSebentar, Ray berbagi pengalamannya agar bisa dibaca dan dipelajari oleh mereka, yang mungkin saja tengah mengembangkan merek lokal.

“Banyak orang di Indonesia yang merasa pintar, tapi sayangnya disimpan sendiri atau malah dijadikan bisnis sehingga membuat orang yang mau belajar jadi susah. Pasar digital marketing masih sangat besar dan dalam waktu 10 hingga 15 tahun mendatang akan terus berkembang.”

Saya penasaran. Apa sih yang membuat Ray sebegitu giatnya ingin berbagi pengalaman tentang digital marketing?

“Tahun 2011 saya ada di posisi sulit. Mau kerja aja bingung. Jadi, sekarang ketika saya bisa bantu, saya akan bantu. Karena pasti orang-orang yang tinggal di daerah mau tahu soal ini. Kalau dulu banyak diajarin orang, sekarang saatnya sharing sama orang lain,” jelasnya.

Di tengah kondisi kesehatannya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja, Ray masih memiliki harapan bisa menemui para digital marketer yang ada di daerah-daerah. Ia pun ingin membuat konsultasi online untuk membantu perkembangan merek lokal.

Di Balik Terkenalnya Sebuah Merek, Ada Suka Duka Seorang Digital Strategist

Setiap profesi pasti memiliki tantangan, termasuk seorang digital strategist seperti Ray.

“Tantangan yang saya alami sih, ketemu sama klien yang paradigmanya masih konvensional. Kalau ketemu sama yang kayak begini, kita harus punya data detail supaya klien mengerti kebutuhan dan apa yang harus dilakukan. Tantangan lainnya sih, algoritma media sosial yang cepat berubah. Sebagai digital strategist, harus bisa untuk beradaptasi,” katanya.

Baca Juga: Digital Marketing, Benarkah Hanya Sebatas “Jualan” di Media Sosial?

Mencapai Key Performance Indicator memang penting dan menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan pekerjaannya. Namun, bagi Ray kesuksesannya sebagai digital strategist lebih dari itu.

“Yang paling membanggakan bisa membuktikan bahwa strategi yang saya buat berhasil. Nggak peduli brand besar atau kecil, jika bisa berdampak saya udah puas banget. Dibandingkan hanya sekedar viral, saya malah nggak puas karena yang viral itu nggak selalu achieve. Buat apa?”

Tak terasa wawancara kami sudah berlangsung selama 1 jam. Sebelum berpisah, pernyataan Ray ini membuat saya ikut berpikir, “Memang betul, digital marketing as a business. Tetapi, nurturing people juga perlu. Jangan hanya melihat hal ini sebagai lahan bisnis saja”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here