Kesempatan bagi Teman Tuli Pelajari Pemrograman di Coding Bootcamp

Kesempatan bagi Teman Tuli Pelajari Pemrograman dan Coding
Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine

Tahun ini, Vito Rizki Imanda baru saja menyelesaikan pendidikan Strata-1 dari Institut Pertanian Bogor, jurusan Computer Science. Alih-alih melamar kerja pada perusahaan ataupun startup, Vito justru memutuskan untuk mengajar di sebuah coding bootcamp yang ada di kota Bogor.

Coding bootcamp satu ini berbeda dengan coding bootcamp pada umumnya. Wonder Koding, merupakan coding bootcamp yang ditujukan untuk mengembangkan diri dan pengetahuan para penyandang tuli. Coding bootcamp ini diadakan seminggu dua kali di SLB-B Dharma Wanita, Bogor.

Vito meluangkan waktunya untuk mengajar dasar-dasar pemrograman. Berbekal pengetahuan sebagai Apps Developer, Vito mengajak peserta bootcamp untuk membuat aplikasi yang dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Berhadapan dengan para penyandang tuli yang belum pernah belajar pemrograman, menjadi sebuah tantangan yang cukup serius bagi Vito. Namun, ada hal lain yang membuat Vito akhirnya konsisten menjadi pengajar bagi mereka.

“Ketika mendapat tawaran untuk menjadi pengajar di Wonder Koding dan diberitahu bahwa anak-anak yang akan diajar adalah anak-anak luar biasa, saya awalnya sedikit khawatir. Bagaimana berkomunikasi dengan mereka,” kata Vito di sela-sela waktunya mengajar.

Kesempatan bagi Teman Tuli Pelajari Pemrograman di Coding Bootcamp
Vito mendampingi peserta coding bootcamp (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

“Tiga bulan pertama saya mencoba untuk berdaptasi dan ternyata anak-anak luar biasa ini lebih ramah, lebih sopan, dan lebih mau belajar. Lebih terlihat rasa ingin tahunya,” sambungnya.

Kesulitan dalam berkomunikasi dengan para penyandang tuli ini tak hanya dirasakan Vito sebagai pengajar, namun juga bagi intepreter seperti Hery Hamdani. Istilah-istilah pemrograman harus ia jelaskan kepada anak-anak dengan bahasa sehari-hari. Ia harus memastikan bahwa anak-anak dapat menyerap pelajaran dengan baik dan minim miskomunikasi.

“Cara mengetahui anak-anak memahami materi bisa dilihat dari apa yang mereka kerjakan. Jika sudah tepat artinya mereka paham apa yang dijelaskan oleh Vito. Sebagai interpreter bahasa isyarat, saya harus melakukan repetisi agar mereka mudah mengerti,” jelas Hery.

November 2018, Wonder Koding mulai membuka kesempatan bagi para penyandang tuli untuk belajar IT dan pemrograman. Dengan menerapkan sistem subsidi silang, Wonder Koding inginkan kesetaraan di antara penyandang tuli. Hal ini dituturkan oleh Tanti Giarti, Founder Wonder Koding saat ditemui Job-Like Magazine beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Cerita Founder Techbros UG Mengadu Nasib di Negeri Orang

“Visi dan misi kami mendirikan Wonder Koding untuk anak-anak berkebutuhan khusus (tuli, red), agar anak-anak penyandang tuli memiliki rasa percaya diri karena mahir di suatu bidang tertentu dan menyakinkan bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama dalam hal membangun karier. Di balik kekurangannya, mereka mampu untuk bersaing,” jelas Tanti.

Kesempatan bagi Teman Tuli Pelajari Pemrograman di Coding Bootcamp
Tanti Gianti, Founder Wonder Koding (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Angkatan pertama coding bootcamp terdiri dari delapan orang anak penyandang tuli. Mereka belajar mulai dari dasar-dasar bahasa pemrograman hingga membuat aplikasi. Aplikasi yang mereka kreasikan pun beragam. Ada aplikasi yang dibuat untuk kebutuhan otomotif, hewan peliharaan, hingga kuliner.

“Semua aplikasi tersebut murni idenya dari mereka. Saya hanya sebagai mentornya saja. Dari ide-ide mereka ini, kita dapat mengembangkan sebuah aplikasi yang mungkin saja suatu saat dapat dikembangkan bersama-sama dan dapat digunakan lebih luas baik dengan Android maupun iOS,” jelas Vito.

Pada angkatan kedua yang akan dimulai pada Juli 2019, Vito berharap dapat membawa wawasan baru bagi para peserta bootcamp seperti mempelajari native android, web development, UI/UX design, robotik, dan IoT (Internet of Things).

Output utamanya yaitu bagaimana mereka yang tadinya tidak memiliki keterampilan tertentu, menjadi mahir pada sebuah bidang. Mereka akan siap bekerja secara profesional,” lanjutnya.

Kesempatan bagi Teman Tuli Pelajari Pemrograman di Coding Bootcamp
Suasana kelas coding bootcamp (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

“Minimal mereka bisa magang di perusahaan yang membutuhkan tenaga IT. Mereka juga diharapkan mampu berkolaborasi untuk mewujudkan produk bisnis digital serta membuka peluang kerja.”

Sebagai bagian dari tim founder, Tanti awalnya tidak pernah mengira bahwa program ini bisa menarik perhatian para penyandang disabilitas terutama para orang tua, agar mengikutsertakan anak-anaknya pada coding bootcamp.

“Penting untuk turut mengedukasi orang tua para penyandang tuli bahwa mempelajari IT di masa kini dapat membantu anak-anak menghadapi gempuran industri digital di masa depan,” ujar Tanti.

Menyiapkan SDM untuk Melakukan Ekspansi ke Seluruh Kota di Indonesia

Kesempatan bagi Teman Tuli Pelajari Pemrograman di Coding Bootcamp
Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine

Tanti menyadari bahwa banyak penyandang tuli di luar sana yang memiliki kesempatan yang sama. Maka dari itu, Wonder Koding sedang menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk meluaskan jangkauan coding bootcamp ke kota-kota lain di Indonesia.

“Dalam waktu dekat kami akan bekerja sama dengan rekanan yang ada di Sukabumi, Purwakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Semoga kami bisa melakukan workshop selanjutnya di keempat kota tersebut,” jelas Tanti.

Tanti berharap akan semakin banyak perusahaan yang aware terhadap kehadiran penyandang tuli yang cakap dalam bidang IT. Sehingga mereka dapat diterima tanpa perbedaan dalam lingkungan kerja.

Harapan yang sama dituturkan Vito, sebelum mengakhiri perbincangan. Dengan adanya coding bootcamp bagi penyandang tuli, tidak ada lagi pihak yang membedakan mereka dalam hal apapun.

“Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkarier di bidang IT. Apakah dia difabel atau nondifabel, tidak bisa dibeda-bedakan. Semuanya setara jika mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama. Kami ingin mendobrak stigma itu di lingkup pekerja Indonesia,” tegas Vito.

“Untuk mewujudkannya, Wonder Koding siap untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki visi dan misi serupa,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here