Mengintip DevOps di Amazon, Apa Sih Pentingnya Budaya DevOps?

Mengapa budaya DevOps penting untuk diaplikasikan dalam sebuah pengembangan fitur atau software? Petra Novandi Barus, Senior Developer Advocate di Amazon Web Service (AWS) Indonesia, memaparkan fungsi dan proses menjalankan DevOps dalam webinar “Building DevOps Culture: Amazon Story”, beberapa waktu silam hasil kerja sama dengan Agile Circles Indonesia dan The Corporate Startup, serta didukung Job-Like Magazine.

Sebelum menjelaskan fungsi dan bagaimana menerapkan DevOps, Petra menegaskan apa yang dimaksud dengan DevOps. Kebanyakan orang salah mengartikan DevOps sebagai sebuah alat untuk proses pengembangan. Petra menjelaskan DevOps adalah kombinasi dari filosofi budaya, penerapan, dan peralatan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan atau organisasi menciptakan aplikasi dan layanan dalam waktu singkat.

Dengan menerapkan budaya DevOps, organisasi menggabungkan tim development dan operasional untuk bekerja secara beriringan. Kedua tim yang dilebur menjadi satu ini berbagi tanggungjawab dan rasa kepemilikan terhadap produk atau servis yang diciptakan, mulai dari ide awal hingga pengoperasiannya. Sehingga proses pengembangan dan peluncuran produk menjadi lebih cepat dan efektif.

Baca Juga: Praktek CALMS DevOps untuk Mempercepat Proses Kerja IT

“Perusahaan tradisional biasanya membedakan antara tim development dan operasional. Dalam budaya DevOps, development dan operasional tidak lagi berada di tim yang berbeda. Mereka bekerja sama sehingga ketika ada bug, mereka bisa cepat memerbaikinya. Karena semua anggota tim memiliki visibilitas dan komunikasi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada produk atau fitur yang sedang dikerjakan,” jelas Petra.

Amazon sendiri mulai melakukan perubahan sistem kerja sejak tahun 2001 dengan mengubah sistem organisasi yang hirarki menjadi pizza team, yaitu membagi tim menjadi tim-tim kecil terdiri dari 6-10 orang yang memiliki rasa kepemilikan terhadap produknya, serta mengubah arsitektur monolitik menjadi mikroservis.

Lalu, pada tahun 2009, Amazon semakin gencar untuk membangun pipeline yang mempercepat proses kerja development dan operasional. Hasilnya, pada tahun 2014, Amazon menghasilkan 50 juta pengembangan dalam setahun.

Budaya DevOps memang memberikan efektivitas dan kecepatan dalam proses pengembangan. Dalam mempraktikkan DevOps, Petra lebih lanjut menjelaskan pentingnya untuk melakukan pembaharuan yang berkelanjutan. Hal ini penting agar tim bisa memastikan bahwa kode dalam fitur atau layanan yang dibangun berjalan sesuai rencana. Selain itu, tim bisa mengantisipasi dengan cepat bila terjadi bug atau masalah. 

“Penting untuk mengecek kode. Setelah kode digabungkan, lakukan style test dan pastikan kode ini sudah memenuhi standar di setiap tim. Praktik selanjutnya melakukan tes integrasi, misalnya mengintegrasi dengan database yang ada. Lakukan juga tes UI, lalu proses deploy dari development ke production environment agar bisa segera diaplikasikan oleh konsumen. Terakhir, praktik monitor untuk melihat apakah ada bug atau tidak. Pemantauan dan pembuatan log penting sebagai umpan balik untuk inovasi atau pengembangan berikutnya,” paparnya. 

“Mengenai tes yang dilakukan, Amazon 70 persen fokus melakukan pengujian unit sebelum melanjutkan ke proses pengujian berikutnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pengujian integrasi sebesar 20 persen dengan servis-servis eksternal. Sisanya, 10 persen digunakan untuk pengujian UI,” bilangnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here