Bukan Diskriminasi, Ini Alasan Atlet Judo Dilarang Mengenakan Jilbab

Bukan Diskriminasi, Ini Alasan Atlet Judo Dilarang Mengenakan Jilbab
Source: timesindonesia

Tudingan adanya diskriminasi jilbab sempat muncul setelah atlet blind judo Indonesia dilarang bertanding. Miftahul Jannah menggunakan jilbab saat akan berlaga melawan judoka asal Mongolia, Oyun Gantulga.

Di ajang Asian Para Games 2018 Miftahul Jannah bertanding di kelas 52 kg kategori low vision blind judo. Saat akan mendekati matras, wasit meminta Miftah melepas hijabnya. Miftah menolak larangan dari wasit tersebut. Akibatnya Miftah didiskualifikasi dan tidak bisa bertanding.

Sebelumnya, aturan pertandingan dan penggunaan penutup kepala untuk cabang olahraga judo sebenarnya sudah dijelaskan di technical meeting.

Kasus Miftahul Jannah Bukan yang Pertama

Salah seorang Technical Delegate cabang olahraga blind Judo di ajang Asian Para Games 2018, Brian Jeoung Gissick, menjelaskan bahwa semenjak usai digelarnya Olimpiade London 2012 peraturan judo mengalami perubahan. Khusus peraturan penutup kepala, Bola melansir tata tertibnya sebagai berikut:

“Rambut panjang harus diikat sehingga tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada kontestan lainnya. Rambut harus diikat dengan pita rambut yang terbuat dari karet atau bahan sejenis dan tidak ada komponen kaku atau logam. Kepala tidak boleh ditutupi kecuali untuk pembalutan yang bersifat medis, yang harus mematuhi aturan kerapian kepala.”

Brian juga menjelaskan bahwa aturan mengenai penutup kepala diberlakukan untuk menghindari penggunaan penutup kepala untuk kepentingan politik atau komersial.

Terkait fungsi aturan terhadap keselamatan atlit, Referee Director IBSA (International Blind Sport Association), Angelica Wilhelm, menjelaskan bahwa aturan itu diberlakukan untuk melindungi atlit dari salah satu kuncian di cabang olahraga judo.

“Semua peraturan sudah diterangkan dengan gamblang sejak 3 bulan lalu. Apalagi aturan ini juga bertujuan untuk mencegah bahaya teknik kuncian Newaza (ground fighting) yang berpotensi bahaya bagi atlet yg bertanding,” papar Angelica.

Baca Juga: Fakta-Fakta Seputar Ajang Asian Para Games 2018, Intip Yuk!

Sebelumnya, kejadian seperti yang dialami Miftahul Jannah sudah pernah terjadi di ajang Olimpiade London 2012. Saat itu salah satu judoka asal Arab Saudi, Wojdan Shaherkani, dilarang naik ke matras karena mengenakan hijab di kepalanya. Namun setelah ofisial dan pelaksana pertandingan berdiskusi, Shaherkani tetap diperbolehkan melanjutkan pertandingan. Solusinya, Shaherkani mengganti jilbabnya dengan semacam penutup rambut. Shaherkani tercatat sebagai atlit Arab Saudi wanita pertama yang berlaga di ajang Olimpiade.

Beri komentar Anda tentang artikel ini