Presenteeism: Jangan Memaksakan Diri Pergi ke Kantor Bila Tak Nyaman

Anggapan tentang presensi penuh selama sebulan merupakan salah satu ciri karyawan teladan memang masih dipegang teguh sampai saat ini. Padahal, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Perilaku yang dikenal dengan sebutan presenteeism itu malah bisa membawa banyak dampak buruk bagi diri sendiri maupun orang terdekat.

Presenteeism adalah perilaku seseorang yang memaksakan diri untuk pergi ke kantor meskipun tengah mengalami gangguan kesehatan, baik secara fisik maupun mental.

Semoga kamu bisa menyikapi kecenderungan perilaku tersebut secara bijak usai menyimak ulasan berikut ini.

Ternyata Banyak Orang Melakukan Presenteeism

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Vitality (sebuah perusahaan asuransi kesehatan di Inggris), 40 persen responden menyatakan bahwa kualitas pekerjaannya akan terpengaruh oleh kondisi kesehatan.

Itulah sebabnya, banyak orang memaksakan diri untuk masuk kerja meskipun kondisi mental atau fisiknya tidak memadai.

Baca Juga: Waspada! 5 Penyebab Ini Bikin Kamu Rentan Sakit Akibat Lembur

Di Indonesia, hal ini bahkan diperparah oleh sanksi berupa pemotongan gaji bila tidak masuk kerja. Di samping itu, proses pengurusan cuti yang terbilang rumit juga membuat karyawan mengurungkan niat untuk tidak masuk kerja. Karena pekerjaan yang ditinggalkan tetap harus diselesaikan sendiri ketika sudah masuk kerja.

Dampak Buruk Presenteeism yang Mempengaruhi Banyak Hal

Perilaku presenteeism yang terjadi secara berlarut-larut bisa menimbulkan beberapa dampak buruk berikut ini:

  • Karyawan yang tetap masuk ketika mengidap penyakit menular berisiko menularkan penyakit tersebut kepada rekan-rekan kerja.
  • Kondisi fisik yang terus menurun ditambah dengan beban kerja berlebihan bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius.
  • Fokus kerja berkurang dan menyebabkan produktivitas menurun. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap performa kerja tim secara keseluruhan.
  • Emosi karyawan yang sedang mengalami gangguan kesehatan fisik atau mental lebih rentan tersulut. Sehingga risiko berupa emosi meledak atau kesalahpahaman dengan rekan kerja jadi semakin besar.
  • Risiko stres kerja dan depresi secara berlarut-larut akan semakin besar bila seorang karyawan terus memaksakan diri di luar batas kemampuannya.

Berdamailah dengan Diri Sendiri

Sesibuk apa pun rutinitas kerjamu, jangan sampai kamu mengabaikan kesehatan fisik dan mental. Kamu harus meluangkan lebih banyak waktu untuk memperhatikan diri sendiri, keluarga, dan sahabat. Jangan sampai kesibukan kerja membuatmu mudah sakit dan produktivitas kerja pun menurun.

Bila memungkinkan, tak ada salahnya meluangkan me time selama tidak masuk kerja. Lakukan kegiatan yang kamu sukai atau habiskan waktu lebih banyak bersama keluarga. Jadi, kamu akan merasa lebih bahagia dan lekas pulih dari gangguan kesehatan.

Jangan sampai kamu melakukan presenteeism tanpa menyadarinya. Cintailah diri sendiri supaya kamu pun bisa menunjukkan performa kerja terbaik ketika kondisi kesehatan sedang prima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here