Ssst..Ini Rahasia Founders Startup Base Kerja Tanpa Stres

Siapa sih yang senang rutinitasnya diganggu oleh stres? Tentu nggak ada yang ingin mengalami stres, apalagi stres kerja. Ada pernyataan menarik yang dilontarkan oleh CPO Base, Ratih Permata Sari, “Stres itu bukan untuk ditekel, tetapi dihindari.”

Jadi, jangan baru grasak-grusuk ketika stres menyerang, tetapi pastikan bahwa stres tidak akan muncul dalam kehidupan kamu. Bagaimana caranya? 

Bagi para pekerja, Ratih menyebut time management sebagai cara krusial agar stres tidak menjadi bagian dalam rutinitas kerja. Seberapa banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan, bila time management kamu bagus, maka kamu tidak akan mengalami yang namanya stres kerja. 

Pengaturan waktu yang tepat juga dilakukan Ratih dan rekan bisnisnya, Yaumi Fauziah Sugiharta, CEO Base. Sebagai founders perusahaan rintisan yang baru berjalan enam bulan, beban kerja yang dipikul dua wanita muda Indonesia ini jelas segunung. 

Keduanya harus cerdik menilai pasar, mengevaluasi produk skin care kustom yang akan diluncurkan pada akhir tahun 2019, hingga melakukan promosi bisnis. Namun, rentetan pekerjaan yang harus dituntaskan tak mereka jadikan sebagai beban.

Ratih Permata Sari, CPO Base. (FOTO: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

“Sebagai founder, tantangan paling berat adalah ada banyak yang harus dikerjakan. Buat aku stres itu bukan ditekel, tapi dihindari. Bagaimana caranya mengatur waktu dengan rutinitas,” ujar Ratih kepada Job-Like Magazine.

“Aku sendiri mengatur rutinitas dengan mengecek email setiap jam 7 pagi. Rutinitas itu harus dilakukan dengan disiplin. Ada time management-nya,” sambungnya.

Kemampuan mengatur waktu dan menghindari stres kerja menjadi modal Ratih dan Yaumi untuk memenangkan program enam bulan oleh startup generator asal Singapura, Antler. Keduanya lolos kualifikasi Antler sebagai rekan kerja yang cocok untuk membangun sebuah startup

Yaumi Fauziah Sugiharta, CEO Base. (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

“Ketika bergabung ke Antler, saya bilang kalau saya sudah punya co-founder. Kemudian mereka menantang kami untuk memastikan apakah kami cocok. Kami diwawancara selama dua jam, lalu dikasih masalah untuk kami handle,” bilang Yaumi.

“Sangat penting untuk menyamakan visi dan misi ketika akan berbisnis bareng. Penting juga melihat dinamika kerjanya karena akan ada banyak problem yang harus ditangani,” ujarnya.

Menemukan Passion di Beauty Industry

Terjun ke industri kecantikan, Yaumi dan Ratih berharap produk skin care yang ditawarkan oleh Base mampu mendongkrak kepercayaan diri para wanita Indonesia. Bahwa setiap wanita memiliki keunikan masing-masing melalui kondisi dan warna kulitnya. 

Baca Juga: Sudah Waktunya Wanita Bisa Kustom Skin Care Sesuai Kondisi Kulitnya

Perubahan yang tengah diapungkan Base sejalan dengan passion kedua pendirinya yang ingin memberikan dampak positif bagi masyarakat. Yaumi sendiri telah berpengalaman dalam mendobrak inovasi yang berefek besar bagi masyarakat Indonesia ketika ia menjadi bagian tim awal Gojek. Ia salah satu karyawan pertama yang direkrut Gojek sebagai Head of Product Marketing.

“Saya selalu punya prinsip selama masih muda, bisa jalan, bergerak, produktif, saya ingin berguna bagi orang. Ketika bergabung dengan Gojek pun, saya lompat dari perusahaan consulting di Singapura,” tuturnya.

“Banyak yang mempertanyakan Gojek itu perusahaan apa. Tapi saya tahu ketika gabung dengan Gojek, saya akan memberikan impact yang besar dibandingkan kalau saya tetap di perusahaan consulting. Di sini pun (Base, red) saya ingin memberikan banyak dampak. Terlebih saya memang passionate dengan beauty industry.”

Keputusan serupa untuk mengikuti passion kerja juga diambil Ratih. Setelah bekerja sebagai Product Manager untuk bank DBS dan Style Theory, Ratih memutuskan kembali mendalami industri kecantikan sesuai dengan ilmu yang ia petik di bangku kuliah.

“Sewaktu kuliah di ITB aku sempat exchange program di South Korea yang beauty industry-nya sangat maju. Aku sangat tertarik bagaimana sebuah industri bisa memajukan perekonomian satu negara. Aku selalu berkeinginan untuk melakukan sesuatu tentang beauty industry,” bilang Ratih menutup percakapan dengan Job-Like Magazine.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here