Cerita Founder Techbros UG Mengadu Nasib di Negeri Orang

Techbros UG
Yudhi Rahadian, Founder Techbros UG

Berdasarkan dari data Bank Dunia 2017, demi mendapatkan gaji yang besar atau ingin memiliki pengalaman kerja global, membuat 9 juta Warga Negara Indonesia (WNI) tertarik untuk bekerja di luar negeri. Menghadapi berbagai konsekuensi, mereka gigih bekerja di lingkungan serta budaya yang berbeda hanya untuk melihat senyum di wajah sanak saudara. Ada sebagian yang sukses besar sampai rela menetap di negara impian, namun ada pula yang masih ingat pulang untuk membangun negeri tercinta.

Yudhi Rahadian merupakan salah satu tenaga kerja asal Indonesia yang memiliki cukup nyali untuk bertarung demi intelektual dan finansial di luar negeri. Pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1984 ini mengawali kariernya di bidang Teknologi dan Informasi. Sejak kecil, anak bungsu dari 2 bersaudara ini memang menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan robotik dan elektronik. Mimpinya sudah ia tanam sejak usia 7 tahun; ingin bekerja dengan segala perangkat komputer.

Mimpi itu ia coba wujudkan dengan melanjutkan pendidikan di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta. Selepas SMK, ia beruntung mendapat kesempatan bisa langsung bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Ia mengawali kariernya sebagai teknisi dan ditempatkan di Semarang, Jawa Tengah.

“Di perusahaan ini saya banyak belajar tentang dunia kerja, saya bekerja sebagai teknisi, bukan hanya teknologi seluler tapi saya juga berkesempatan untuk belajar tentang sales dan marketing, keuangan, tanggung jawab, dan banyak hal lainnya yang bermanfaat buat saya sampai sekarang. Perusahaan ini adalah kampus kedua saya,” kenangnya.

Techbros UG
Yudhi Rahadian saat masih bekerja di salah satu Perusahaan Telko Indonesia

Baca Juga: Mau Sukses Berbisnis Kuliner? Ini Tips dari Pemilik Warunk Upnormal

Pengalaman karier pertamanya membawa perubahan besar dalam hidup. Yudhi merasa karakternya sebagai anak yang introvert, pemalas, dan kurang mandiri bisa berubah ke arah yang lebih baik. Segala proses yang menempanya menuju kedewasaan, sehingga di usia yang masih sangat muda waktu itu ia mulai belajar arti tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan.

“Tanggung jawab itu lahir ketika kita sudah dipercaya untuk melakukan tugas-tugas atau pekerjaan. Saya ingat waktu itu kami hanya 3 orang dan diberi kepercayaan untuk menjaga seluruh jaringan selular Yogyakarta dan Solo agar selalu berfungsi dengan baik, atau ketika setiap bulan kami diberi kepercayaan untuk membayar tagihan listrik dan gaji penjaga BTS dengan uang yang ketika itu sangat besar sekali. Penugasan ini menuntut saya untuk bertanggung jawab dan cermat karena waktu itu saya juga harus kuliah paruh waktu dan berusaha lulus tepat waktu.”

Akhir tahun 2004, ketika ia menjadi petugas untuk mengganti perangkat radio di atas tower saat mencapai tower setinggi 70 meter di daerah Sleman, Yogyakarta, ia merenung. Sampai kapan ia harus bekerja sebagai petugas tower? Biar bagaimanapun yang ia inginkan hanyalah kemajuan dan bisa memperbaiki ekonomi keluarga. Ya, Yudhi memang datang bukan dari keluarga berada. Ayahnya seorang tukang bubut mesin sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Dari sanalah keinginannya begitu kuat untuk mengubah hidup.

Lagi-lagi, kemujuran menghampirinya. Salah seorang teman yang pernah diajak bekerja sama, menawarkan pekerjaan sebagai Engineer pada salah satu perusahaan telko internasional. Tanpa pikir panjang, ia segera ambil kesempatan itu.

Perjalanan Panjang Akhirnya Dimulai

Pada Agustus 2007, Bangladesh menjadi negara pertama yang ia singgahi. Saat itu, ia bekerja pada proyek Grameen Phone, operator selular tebesar di Bangladesh. Perlu waktu kurang lebih 1 bulan untuk beradaptasi dengan alur kerja orang-orang Bangladesh. Beruntung, ada beberapa rekan asal Indonesia yang telah lebih dulu bekerja datang membantu. Pelajaran pertama yang harus ia kuasai justru memahami apa saja yang menjadi “do” dan “don’t” dari kehidupan orang-orang lokal. Ya, beradaptasi dengan kondisi lingkungan selalu menjadi tantangan tersendiri bagi Yudhi.

“Saya melihat ketika kita bekerja di negara lain, penduduk lokal akan beranggapan bahwa kita adalah expert, dan membawa sesuatu yang baru ke negara mereka, di situ saya melihat bahwa sebenarnya sesuatu yang baru itu adalah bagus, tugas kita adalah membuka pikiran dan mempelajarinya, di situ kunci adaptasi saya di setiap negara, berbaur dengan orang lokal dan mulai bertukar pengalaman, atau berasimilasi dengan budaya setempat.”

Ya, adaptasi menjadi salah satu cara terumit yang harus dilakukan. Menghadapi orang dengan berbagai perbedaan membuat Yudhi bisa melihat lebih jelas dan luas terhadap pandangan yang berbeda. Bagi Yudhi, ia sudah terbiasa dengan cultural shock dan cukup bisa beradaptasi dengan budaya yang sudah ada. Hal tersebut menjadi sesuatu yang menyenangkan, sehingga tidak merasa terbebani dengan kerinduan-kerinduan terhadap tanah air.

Techbros UG
Saat bekerja di Ericsson Amerika Serikat

Hingga hari ini, pria berusia 34 tahun ini telah bekerja di 16 negara untuk beberapa perusahaan Telko. 11 tahun ia merantau menjelajahi berbagai negara. Sejak tahun 2013, ia menetap di Jerman tepatnya di Kota Dusseldorf. Ia bekerja sebagai pegawai lepas pada perusahaan Telko di Jerman, Vodafone. Memasuki tahun keempat, alumnus Wilhelm Buchner University of Applied Sciences ini mulai kesulitan mencari proyek karena faktor kompetisi yang ketat. Dari kesulitan itu, ia berpikir harus memulai langkah baru untuk perkembangan kariernya.

Baca Juga : Tips Belanja Online secara Aman dari CEO Berrybenka

Ide Membangun Bisnis di Perantauan

“Sudah saatnya menciptakan proyek sendiri, saya mulai belajar bagaimana caranya membangun jaringan dengan para customer dari perusahaan lain dengan menghadiri berbagai kegiatam, mengikuti kompetisi IOT, dan selalu meminta saran dari kolega yang lain. Slogan Steve Jobs, Keep It Simple and Stupid bagi saya sangat berguna untuk kelangsungan proyek yang saya bangun. Orang-orang Jerman ternyata senang dengan saya yang banyak mendengar dan bekerja daripada bicara. Dari sana saya mulai mendapatkan kepercayaan dari customer untuk mengerjakan berbagai proyek.”

Januari 2018, Yudhi memulai sendiri bisnis IT-nya. Techbros UG adalah nama lain dari perusahaannya yang sebelumnya bernama Rahadian Solution UG. Penggantian nama perusahaan tersebut dirasa lebih praktis dan mudah diingat. Techbros UG merupakan perusahaan konsultan bidang IT dan Telekomunikasi. Produk yang dimiliki antara lain IOT serta memfasilitasi perusahaan yang bergerak di bidang IT dan Telekomunikasi dalam rangka memasuki Indsutry 4.0. Saat ini, perusahaan kecilnya mempekerjakan 4 orang pegawai tetap dan 5 orang freelancer. Yudhi juga tak segam mempekerjakan mahasiswa Indonesia yang bermukin di Jerman dan mencari pekerjaan sampingan.

“Kebanggaan saya sebagai perantau ketika saya dapat berkontribusi untuk membantu saudara sebangsa dan setanah air ketika sama-sama di perantauan. Atau bisa melakukan hal yang dapat membantu mereka untuk dapat bekerja di luar negeri, misalnya dengan berbagi pengalaman seperti bagaimana cara membuat visa atau cara mendapatkan pekerjaan sebagai profesional di luar negeri.”

Tantangan tetap akan terus ada dalam setiap usaha yang dilakukan. Tak terkecuali untuk Founder Techbros UG ini. Perbedaan kultur kerja antara orang Indonesia dengan orang Jerman, membuat Yudhi semakin bersemangat menunjukkan kemampuan terbaik dirinya maupun tim.

“Etos kerja orang Jerman adalah rasional, disiplin tinggi, tidak mengumbar kesenangan, hemat, dan bersahaja. Untuk orang Jerman uang bukan segalanya tetapi liburan adalah penting (work and life balance). Saya sadar, saya tidak akan mungkin bisa memiliki etos kerja sama dengan orang Jerman karena mereka lahir dan besar di sini. Tetapi yang bisa saya lakukan adalah berusaha untuk setidaknya bisa memenuhi 3 dari 5 poin tersebut, sehingga saya bisa bertahan untuk bekerja bersama orang Jerman dan tetap sebagai orang Indonesia,” ujarnya.

Techbros UG
Tim kerja Techbros UG

Visi Techbros UG disampaikan Yudhi sangat sederhana, yaitu ingin menginspirasi orang Indonesia lainnya agar tidak takut untuk berkompetisi dengan orang-orang dari negara lain. Sebagai pembuktian bahwa orang Indonesia memiliki kemampuan dan keahlian yang mumpuni untuk berkompetisi dengan sumber daya manusia negara lain.

Hal yang Paling Dirindukan dari Indonesia

Selain selalu merindukan keluarga, Yudhi juga seringkali merindukan aneka makanan tradisional Indonesia seperti bakso dan es doger yang jarang ditemukan di Jerman. Tetapi kerinduan akan hal-hal yang “Indonesia banget” bisa tersembuhkan ketika banyak orang Indonesia yang bekerja dan membuka usaha di Jerman.

“Setiap hari saya rindu untuk pulang kampung. Karena keterbatasan dana dan waktu libur, saya biasanya pulang kampung setahun 2 kali. Masing-masing selama 2 minggu.”

Meski kerasan untuk tinggal di luar negeri, namun Yudhi tetap memiliki keinginan untuk kembali ke tanah air. Hal tersebut guna membangun generasi penerus bangsa dengan pengalaman dan ilmu yang ia miliki. Saat ini, Yudhi bersama beberapa temannya sedang mempersiapkan Bootcamp (Non Profit Organization) pada salah satu Sekolah Luar Biasa di Bogor.

“Kegiatannya seperti memberikan pelatihan untuk anak-anak difabel agar mereka mampu berkontribusi di dunia IT dan Telekomunikasi serta dapat bekerja secara mandiri sebagai seorang profesional di bidangnya. Saya juga berkeinginan untuk memfasilitasi antara startup di Jerman dan startup di Indonesia supaya bisa saling bersinergi.”

Keluarga menjadi sumber motivasi bagi Yudhi ketika menemui kendala selama menjalankan bisnisnya di Jerman. Seringkali ia merasa rasa percaya dirinya menurun di tengah jalan saat sedang mengupayakan keberlangsungan bisnisnya.

“Istri saya sebagai orang terdekat selalu mendukung untuk jangan takut rugi karena pengalaman itu lebih mahal dari materi. Orang tua, kakak, keluarga, termasuk teman-teman di Indonesia juga sangat supportive. Ini seperti power boost untuk saya.”

“Jangan pernah berhenti bermimpi karena semua dimulai dengan mimpi atau niat yang baik. Pursue excellence and success will follows, just open your mind and accept new things. “

Yudhi Rahadian – Founder Techbros UG

2 COMMENTS

  1. Klarifikasi: Yang di foto itu bukan tim kerja Techbros, tapi orang2 Vodafone Jerman, secara nih orang kerja sebagai karyawan kontrak lepas disana.
    Data privacy buat orang Jerman penting. Apa orang2 Vodafone Jerman itu sudah setuju foto mereka dimuat disini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here