Cuaca Panas dan Matahari Sedang Terik-teriknya, Ini Kata BMKG

Ilustrasi Cuaca Panas
Designed by Photoangel
Jarum jam masih menunjukkan pukul 09.00 WIB, tapi cuaca panas dan matahari terik. Cuaca ekstrem ini salah satunya dirasakan warga DKI Jakarta, seperti Desika (31).
Dia mengaku berangkat jam 09.30 WIB dari kantor, Selasa (9/10/2018) ini dari Pesing, Jakarta Barat ke Menteng, Jakarta Pusat. Meski masih terbilang pagi hari, dia mengatakan kulit tangannya sudah belang karena terbakar matahari saat mengendarai sepeda motor.
“Panasnya sudah seperti jam 12.00 WIB. Kulit saya sampai belang,” ucap Desika kepada Job-Like Magazine.

Fenomena apakah ini?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, pada hari ini Selasa (9/10/2018), cuaca memang sedang panas-panasnya. Kondisi tersebut melanda wilayah Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara mulai Senin (8/10/2018).
Humas BMKG Hary Djatmiko mengatakan, fenomena cuaca panas dan matahari terik ini merupakan peristiwa yang biasa terjadi.
“Fenomena cuaca panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yg biasa terjadi. Kejadian cuaca panas dan terik lebih sering terjadi pada pada bulan-bulan puncak musim kemarau dan massa pancaroba/transisi,” kata Hary dalam siaran persnya, Jakarta, Selasa.

Menurut dia, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi fenomena itu. Pertama, karena pergerakan semu matahari yang saat ini berada di sekitar khatulistiwa.

“Saat ini berada di sebelah selatan Khatulistiwa, sehingga radiasi matahari yang masuk cukup optimum. Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 34–37,5 derajat Celcius,” tutur Hary.
Namun, lanjut dia, suhu ini masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan data klimatologis 30 tahun terakhir.
Faktor kedua penyebab cuaca panas, aliran massa udara dingin dan kering yang bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia sebelah selatan Khatulistiwa. Terutama di sekitar Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.
“Kondisi ini ditandai dengan adanya kelembaban udara yang kurang dari 60 persen di ketinggian 3000 meter dan 5000 meter dari permukaan air laut,” kata Hary.

Sebelumnya, BMKG merilis, musim hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia akan dimulai pada November 2018. Ada 43 persen dari 342 zona musim atau 85 ZOM di Tanah Air yang akan masuk musim hujan bulan depan.

Sementara, 78 ZOM (22,8 persen) akan mengalami musim hujan pada Oktober dan sebanyak 85 ZOM (24,9 persen) di Desember 2018.

“Sedangkan beberapa daerah lainnya awal musim hujan terjadi pada Agustus 2018 sebanyak 12 ZOM (3,5 persen), September 2018 sebanyak 10 ZOM (2,9 persen), Maret 2019 sebanyak 5 ZOM (1,5 persen), April 2019 sebanyak 4 ZOM (1,2 persen) dan Mei 2019 1 ZOM (0,3 persen),” info BMKG dalam laman resminya.

Beri komentar Anda tentang artikel ini