Bagaimana Menerapkan Digital Transformasi di Bisnis Tambang?

Digital transformasi sudah diterapkan di banyak industri, seperti perbankan, e-commerce, dan hospitality. Nah, bagaimana dengan industri tambang? Seberapa penting digital transformasi untuk pertambangan? Dan bagaimana mengatasi tantangan untuk memperkenalkan digital transformasi kepada sumber daya manusia yang belum terbiasa dengan cara kerja baru dalam mengadopsi digitalisasi yang semakin disrutif?

Meski tidak semasif dunia perbankan yang tengah geliat menerapkan teknologi dalam proses kerja dan bisnisnya, industri tambang sejatinya tidak terkecuali dalam proses transformasi digital. PT Indo Tambang Megah Tbk (ITM) salah satu yang merasakan pentingnya digital transformasi di era digital 4.0 ini.

Dalam webinar “Accelerating Innovation and Transformation Through Digital Capability Center” yang digelar oleh Agile Circles dan The Startup Corporate, dan didukung oleh Job-Like, ITM memaparkan proses adaptasi dan tantangan yang mereka alami. Proses menyakinkan SDM untuk menerapkan teknologi dalam aktivitas kerja dinilai ITM sebagai salah satu tantangan terbesar.

Baca Juga: Penyebab Kegagalan Produk yang Harus Dihindari Product Manager

Terlebih, ITM memiliki lebih dari 2.800 karyawan yang tersebar di tujuh lokasi tambang di wilayah Kalimantan. Pendekatan awal yang dilakukan ITM dalam menerapkan digital transformasi adalah dengan strategi melahirkan individu juara.

Caranya, ITM menunjuk individu dengan tantangan terbesar di sektor teknologi untuk mendalami program transformasi digital yang mereka ciptakan. Ketika individu ini berhasil bertransformasi, maka ia menjadi role model bagi rekan-rekannya untuk ikut terlibat dalam digital transformasi perusahaan.

“Tantangan paling sulit memang mengubah SDM. Tapi, perlu diingat kalau industri tambang suatu saat akan selesai. Ketika yang ditambang sudah tidak ada, maka industri tambang akan tutup. Jadi, kita harus bertransformasi dan menyiapkan aset people yang dimiliki saat ini supaya siap, baik untuk diri sendiri maupun perusahaan,” ujar Stephanus Demo Wawin, Head of ITM Digital Center of Excellence (DCOE).

“Selain itu, ketika kita mau menjalankan transformasi, tentu ada pertanyaan apakah perlu? Karena investasinya tidak sedikit. Tapi, kembali lagi mining itu ada batas umurnya. Jadi, sekarang kami sudah mentransformasikan sebagai energy company, bukan mining. Kami mendukung program pemerintah untuk renewable energy. Kalau lihat konsep di dunia bisnis, renewable energy dikontrol atau dioperasikan dengan teknologi,” tuturnya. 

Pentingnya membangun kesadaran SDM akan pentingnya digital transformasi dalam dunia bisnis sekarang ini juga ditandaskan Muhammad Agung, Head of ITM Digital Capability Center (DCC). Dalam webinar beberapa hari silam, ia mengatakan bahwa 50 persen digital transformasi yang dilakukan ITM berpusat pada SDM. Untuk itu, ITM memiliki banyak program digital learning dan menerapkan metode agile dalam proses kerja.

“Kami miliki empat prinsip, yaitu yang pertama Discover & Diagnose, yakni membangun kesadaran akan pengaplikasian teknologi sehingga pekerjaan lebih efisien. Lalu ada Build, untuk fokus pengembangan kapasitas dari karyawan, terkait dengan digital capability mereka. Kami ingin mengadopsi pola kerja yang baru, seperti mekanisme tertentu yang menerapkan agile,” bilang Agung.

Lebih lanjut Agung menjelaskan prinsip ketiga yang diangkat ITM adalah Deploy & Scale, yaitu tempat inkubasi dan melahirkan use cases digital yang baru. Terakhir, Commercialize, terkait aspek komersial dari produk-produk yang kami buat. Untuk itu dibutuhkan sinergi dengan berkolaborasi bersama pihak-pihak ketiga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here