Co-Founder Ekipa: 70 Persen Perusahaan Besar Memulai Agile Journey

Wahid Nurdin, Co-Founder Ekipa. (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Wahid Nurdin, Co-Founder Ekipa, menganalogikan perubahan dunia bisnis saat ini seperti, “ikan kecil memakan ikan besar, bukan lagi ikan besar memakan ikan kecil”. Fenomena ini mendorong pelaku bisnis untuk beradaptasi dengan pola pikir yang tangkas. Atau, dikenal dengan agile.

Mengenai analogi yang ia lontarkan ketika ditemui Job-Like Magazine, di kantornya di kawasan Mega Kuningan, Wahid menjelaskan kondisi saat ini memungkinkan perusahaan-perusahaan kecil, termasuk perusahaan rintisan atau startup, untuk mengulingkan digdaya perusahaan besar.

Hal ini jelas berbanding terbalik dengan situasi yang terjadi beberapa tahun silam, ketika perusahaan incumbent dengan mudahnya menguasai pasar. Sementara perusahaan kecil harus mengap-mengapan bertahan di ranah yang didominasi perusahaan besar. Namun, sekarang tak lagi demikian.

Tengok saja, startup transportasi online yang semakin menunjukkan taringnya sebagai “penguasa” pasar bisnis. Ini tak terlepas karena strategi berpikir yang mereka terapkan sudah agile. Artinya, mereka cepat beradaptasi dengan perubahan, terutama yang terkait teknologi.

“Dulu lumrah ada analogi ikan besar memakan ikan kecil, perusahaan besar lumrah untuk mengambil alih perusahaan kecil. Tapi di dunia saat ini, bukan sesuatu yang aneh lagi ada ikan kecil memakan ikan besar,” ujar Wahid.

“Ikan kecil yang seperti apa? Yang dapat beradaptasi dengan perubahan, men-deliver produk yang fit dengan pasar, berinovasi secara frequently, bereksperimen. Kita harus lincah, bagaimana caranya? Ya, harus interaktif. Agile,” jelasnya. 

Melihat perubahan yang sangat cepat, Wahid mendirikan Ekipa bersama Hugo Messer, seorang Agile Coach asal Belanda, pada 2016. Ekipa merupakan konsultan untuk pelatihan pola pikir agile. Pesatnya perkembangan agile di Indonesia juga mendorong Wahid dan Hugo mendirikan Agile Circle Indonesia.

Baca Juga: Ini Pentingnya Mindset Agile Dimiliki Setiap Pribadi dalam Berkarier

Agile Circle Indonesia berperan sebagai komunitas untuk berbagi informasi dan pengalaman mengenai agile. Hampir setiap pekan Agile Cirlce Indonesia mengadakan pertemuan dengan topik agile yang dibawakan oleh pembicara dari pelbagai perusahaan. Sebagai komunitas, pertemuan ini diperuntukan bagi publik dan tanpa pungutan biaya.

Selain itu, perkembangan agile di Indonesia juga melahirkan beberapa konferensi bertaraf internasional, seperti Agile Conference Indonesia dan Agile Impact Indonesia. Pada konferensi ini, praktisi agile dari mancanegara berbagi ilmunya.

“Kesadaran mengenai agile sudah mulai besar. Dari sisi kita sudah jelas, organisasi besar dan startup sudah melek tentang agility. Saya bisa bilang ini karena klien kita kebanyakan corporate dan BUMN. Bisa diasumsikan 70 persen perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah memulai agile journey,” tuturnya.

Sebagai seorang Agile Coach, Wahid berbagi tips singkat bagi perusahaan yang ingin menerapkan pola pikir agile dalam kerangka kerjanya. Ia menyebut ada tiga pendekatan untuk beralih menjadi agile.

Pertama, pendekatan yang paling ideal, yaitu “bottom up & top bottom”. Maksudnya adalah pemimpin perusahaan telah memiliki kesadaran mengenai agile, dan ada inisiatif untuk melakukan prinsip agility dari mid-level

Pendekatan kedua, yaitu “top bottom” merupakan inisiatif yang dilakukan dari pihak pemimpin, lalu ditransfer ke level-level di bawahnya.

Pendekatan terakhir yang bisa dicoba adalah “bottom up”, yang dimulai dari tim internal melakukan prinsip agility. Ketika upayanya berhasil, maka bisa digunakan untuk menyakinkan para pemimpinnya untuk mengadaptasi agile.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here