Tantangan Employer Branding di Era Disrupsi Teknologi

Tantangan Employer Branding di Era Disrupsi Teknologi

Teknologi yang berkembang dan tumbuh bersama dengan pergerakan industri yang semakin mengglobal, membuat kita harus segera bersiap dan bebenah diri agar bisa mengejar kecepatan teknologi yang terus berinovasi.

Kita-kira, di era disrupsi teknologi apa sih yang menjadi tantangan bagi dunia human resources ? Job-Like Magazine berkesempatan berbincang dengan Human Resources Expert, Josef Bataona.

“Kita tidak mungkin menahan teknologi yang terus bergerak dan berubah dengan cepat. Maka, siapapun yang sekarang berprofesi sebagai HR harus melek teknologi,” ujar Josef.

Tak hanya melek teknologi, namun para HR harus dapat menggunakan teknologi untuk kemajuan karyawannya. Karena pada dasarnya, tugas utama seorang HR yaitu untuk mencetak talenta-talenta terbaik bagi perusahaan.

Implementasi teknologi dalam berbagai kegiatan karyawan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Kemungkinan, cara-cara seperti ini dapat menarik karyawan milenial untuk mengenal perusahaannya dengan lebih baik.

Misalnya, menggunakan medium audio visual untuk mengenalkan valuevalue perusahaan dengan cara yang fun melalui situs perusahaan ataupun media komunikasi lainnya.

“Inisiatif lainnya yang dapat dilakukan yaitu mengajak karyawan dari berbagai level untuk berinteraksi dengan chairman atau jajaran direktur, dengan menggunakan platform teknologi seperti video conference. Sehingga, karyawan terutama yang milenial merasa bahwa mereka tidak hanya bekerja tetapi mendapatkan sesuatu dari perusahaan,” lanjutnya.

Tantangan Employer Branding di Era Disrupsi Teknologi
Human Resources Expert, Josef Bataona (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Pemanfaatan teknologi dalam dunia HR, juga dapat mendukung aktivitas employer branding yang dilakukan oleh perusahaan. Dengan teknologi, employer branding dapat diteruskan kepada khalayak dengan waktu yang singkat. Misalnya, melalui media sosial.

Employer branding penting bagi perusahaan, baik untuk mempromosikan produk hingga gagasan dan value yang menjadi fondasi perusahaan,” kata pria kelahiran Flores ini.

Menurutnya, employer branding yang sukses yaitu perusahaan mampu memunculkan top of mind kepada publik terkait brand tertentu. Dalam mengkomunikasikan employer branding, perusahaan harus jujur. Apa yang dilakukan oleh perusahaan dan karyawannya, memang benar-benar terjadi.

Baca Juga: Program Self Awareness, Strategi Employer Branding Tiket.com

Jika secara internal sudah baik, maka aktivitas employer branding tersebut dapat dikomunikasikan untuk bahan konsumsi publik yang lebih luas.

“Misalnya, sebuah perusahaan mem-branding bahwa mereka menanamkan nilai-nilai seperti family oriented dan team work. Jika ingin mem-branding seperti itu, jangan sampai ada karyawan yang masih mengeluhkan perilaku yang ditunjukkan tidak merepresentasikan value yang diusung,” tegasnya.

Josef menambahkan, jika ada perusahaan yang secara internal belum begitu baik maka pergunakanlah waktu untuk melakukan observasi dan identifikasi permasalahan yang ada di dalam tubuh perusahaan secara internal.

Nantinya, employer branding yang ditunjukkan kepada publik tidak hanya sebatas “di atas kertas”. Untuk mencapai ke tahap ini, segenap manajemen harus sabar dalam menjalani setiap prosesnya.

Bagaimana Cara Efektif Mengkomunikasikan Employer Branding?

Media masih menjadi jembatan yang efektif dalam mengomunikasikan employer branding kepada masyarakat. Mahasiswa yang ingin bekerja di perusahaan tertentu, tinggal menggunakan gawainya untuk mencari informasi tentang perusahaan yang diincarnya.

Media memang sangat powerful, tetapi Josef menyarankan agar jangan meninggalkan cara tradisional seperti kekuatan word of mouth.

Cerita dari mulut ke mulut tentang perusahaan tertentu, dapat membawa pengaruh terhadap cara pandang masyarakat kepada sebuah perusahaan. Jika, ingin menjadi buah bibir maka perusahaan harus menunjukkan keunggulannya yang benar-benar diinginkan oleh banyak orang.

“Diawali dari obrolan di antara karyawan yang merasa program atau aktivitas di perusahaan mereka layak untuk diketahui banyak orang, maka karyawan ini dengan bangga membagikannya lewat media sosial misalnya,” jelas mantan Direktur HR Unilever ini.

“Dengan tersebarnya berita tersebut, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang mengetahui informasi itu bahkan dari sebelum ia melakukan pencarian mengenai perusahaan tersebut. Inilah kekuatan word of mouth yang tidak bisa kita lupakan.”

Banyaknya pelamar yang berkualitas merupakan tujuan dari employer branding. Namun, tak hanya dari banyaknya pelamar namun seberapa lama kandidat tersebut bertahan dalam perusahaan. Hal ini akan terjadi jika pesan yang disampaikan benar-benar tepat sasaran.

“Bagi para profesional yang bekerja di bidang HR, mereka harus selalu membuka diri dan terus belajar karena perubahan di luar sangat cepat. Kesabaran juga diperlukan dan jangan malas untuk menjalin network dalam komunitas HR. Sehingga, capable untuk menciptakan best talent untuk masa depan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here