Membangun Startup Butuh 3 Posisi Vital Ini, dan Ini Tips untuk Pitch Deck

Ada tiga posisi vital yang harus dimiliki startup menurut Senior Investment Associate Skystar Capital, Andreas Dymasius S, pada webinar bersama investor beberapa waktu lalu. Andreas menegaskan peran 3H, yaitu Hustler, Hispter, dan Hacker, menjadi pondasi dalam membangun startup yang sehat. Apa peranan masing-masing dari 3 H?

Bila kamu tengah merencanakan untuk membangun startup, kamu bisa mengisi peran seorang Hustler. Biasanya Hustler adalah founder dari startup, ia karakter yang memahami bisnis dan kaya akan ide. Sederhananya, Hustler berperan untuk menghasilkan uang bagi perusahaannya. Oleh karenanya, Hustler juga harus memiliki kemampuan marketing dan networking untuk memasarkan produknya.

Baca Juga: Beda Startup vs UMKM, dan Faktor Penting untuk Investasi pada Startup

Meski cerdas dalam pemasaran dan memiliki ide segudang, Hustler tidak bisa berjalan sendirian dalam membangun startup. Ia harus memiliki rekan seorang Hacker. Tugas Hacker berkaitan dengan upaya membangun sistem teknologi yang dibutuhkan startup dalam operasionalnya. Nah, untuk itu sosok Hacker adalah developer dengan kemampuan coding, problem solving, dan berpikir secara analitis. 

Peran terakhir dalam 3H adalah Hipster. Bila Hacker membangun pondasi sistem, Hipster berperan dalam estetika, yakni memoles tampilan luar platform agar lebih menarik. Selain itu, Hipster juga bertanggungjawab terkait customer experience dan customer service support. Ia menjadi nadi startup dalam membangun brand

“Kebanyakan startup harus punya tiga roles ini di timnya. Founder harus memiliki Hustler, Hacker, dan Hipster dalam tim. Hustler atau CEO sosok yang suka keliling untuk networking dan mencari orang. Sementara itu, Hipster terkait dengan UI/UX dan customer experience. Hacker adalah developer sistem, seperti front end dan back end,” tutur Andreas.

Pentingnya Traksi & Market Size Sebelum Pitch Deck ke Venture Capital

Sebagai Senior Investment Associate di sebuah Venture Capital (VC), Andreas juga memberikan tips-tips terkait proses pendanaan dalam membangun startup. Menurutnya, sebelum startup menyodorkan pitch deck pendanaan kepada VC, ada baiknya startup mencari suntikan dana dari angel investor. Terlebih bila startup belum memiliki traksi atau kemampuan untuk memonetisasi value dari penggunanya. 

Andreas menuturkan bahwa kebanyakan VC lebih tertarik untuk menanamkan modal kepada startup yang telah memiliki traksi dan market size (besaran pangsa pasar). Mengapa dua hal ini penting? Traksi menjadi ukuran pertumbuhan startup, yakni apakah startup tersebut bisa scalable atau tidak. 

Baca Juga: Apa yang Harus Diperhatikan Startup dalam Pendanaan dari Investor?

Sementara itu, market size menjadi ukuran untuk mengetahui potensi pengguna dan keuntungan yang bisa dicapai dari produk atau servis yang ditawarkan. Oleh karenanya, market size menjadi salah satu poin penting ketika pitch deck kepada investor yang akan menentukan proyeksi ROI (Return of Investment). 

Nah, apabila startup belum memiliki traksi dan market size, akan sulit untuk membuka pintu pendanaan dari VC. Itu sebabnya, Andreas menyarankan untuk mencari pendanan angel investor atau investor individual.

“Semakin banyak startup yang tumbuh, tapi untuk pitching ke VC setidaknya harus punya traction dulu 3-6 bulan. Memang ada VC yang sudah open invest pada tahap baru ada ide dan belum bisa secure pendapatan, tapi kebanyakan VC akan melihat startup yang sudah punya traction,” jelas Andreas.

“Selain melihat dari periodenya, poin penting lainnya adalah apakah sudah mendapatkan market sizenya? Kebanyakan startup percaya diri dengan market size yang gede, tetapi ternyata tidak tepat sasaran. Itu juga harus diperhatikan. Buat yang belum punya produk, lebih baik mulai dari angel investor bukan VC. Cari angel investor yang berada di area yang sama,” sambungnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here