Mau Sukses Terapkan Business Agility? Ini Faktor-Faktor Pentingnya

Mengapa business agility semakin penting untuk diterapkan, terutama pada masa pandemi COVID-19? Bagaimana sebuah perusahaan bisa menerapkan business agility? Faktor-faktor penting untuk menunjang keberhasilan business agility dipaparkan oleh Fadly Rasyad, Enterprise Agile Coach, dalam webinar “Importance of Trust toward Business Agility”, pada beberapa hari lalu.

Dalam webinar yang digelar oleh oleh Agile Circles dan The Startup Corporate, dan didukung oleh Job-Like, Fadly menekankan pentingnya untuk membangun kepercayaan antar pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan atau organisasi untuk mewujudkan keberhasilan business agility. Untuk itu, proses membangun mental dan pola pikir setiap anggota tim menjadi pondasi utama untuk menerapkan business agility.

Pasalnya, kepercayaan bisa terbangun ketika memiliki mindset atau pola pikir yang fleksibel untuk bertransformasi pada perubahan. Fadly menjelaskan tiga level kepercayaan yang harus dilalui, yaitu level pertama mengenai Trust Yourself. Artinya, seseorang harus percaya pada dirinya dengan memiliki pola pikir untuk berkembang.

Ia menganalogikan agility sebagai tumbuhan yang tumbuh secara organik dan perlahan. Begitu juga dengan kepercayaan yang harus dibangun secara perlahan dan mulai pada diri sendiri. Pola pikir untuk berkembang akan mendorong seseorang untuk belajar, memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan baru, dan menerima feedback sebagai saran yang membangun. 

Baca Juga: Ini Pentingnya Mindset Agile Dimiliki Setiap Pribadi dalam Berkarier

Level kedua, Trust Your Inner Circle, yaitu memercayai orang-orang disekitar. Lalu, level ketiga, Trust Others, yaitu orang asing yang belum dikenalnya. Namun, sayangnya, menurut Fadly, kebanyakan orang masih kesulitan untuk menembus level tiga. Padahal, ini faktor penting mengingat dalam business agility sulit ketahui apa yang akan terjadi di masa depan. 

Kesalahan lain yang acap diterapkan dalam business agility adalah organisasi langsung terfokus pada penerapan technical agility yang menggunakan framework Scrum, DevOps, Testing, dan lainnya. Namun, tidak memperhatikan proses mental agility, yakni mempersiapkan mental dan mindset anggota tim.

“Pondasi business agility ada lima, yaitu mental agility, social agility, outcomes agility, structural agility, dan technical agility. Masalahnya, kebanyakan orang langsung fokus pada technical agility, tetapi tidak mempersiapkan mental agility yang merupakan pondasi dasar. Tanpa mindset yang tepat, tanpa kepercayaan dalam tim, maka Scrum dan Agile tidak akan berhasil,” ujar Fadly. 

“Karena target business agility pun ada urutannya. Pertama, meningkatkan hubungan karyawan. Dengan hubungan yang solid, tim akan mampu bekerja maksimal untuk mencapai target berikutnya, yakni meningkatkan kepuasan konsumen. Setelah itu, baru nilai-nilai shareholder akan menjadi maksimal,” tuturnya. 

Fadly juga menekankan lima nilai penting dalam Scrum yang harus diterapkan untuk keberhasilan bisnis yang agile. Yaitu, berkomitmen untuk mencapai tujuan dari tim Scrum; adanya keterbukaan antara tim Scrum dan manajemen terkait pekerjaan dan tantangan yang ada; tetap fokus pada Sprint dan tujuan dari tim Scrum; saling menghormati kemampuan tim Scrum; serta memiliki keberanian untuk mengatakan hal-hal yang benar kepada pihak yang memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here