Beda Startup vs UMKM, dan Faktor Penting untuk Investasi pada Startup

Ide berbisnis banyak mencuat seiring pesatnya pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia. Namun, masih banyak calon pelaku bisnis atau bahkan yang sudah menjalankan bisnisnya, tidak memahami apa itu startup dan bagaimana proses pitching untuk pendanaan di depan investor. Arung Sulthan Pramuka, Investment Associate Alpha Momentum Indonesia (AMI), berbagi ilmu mengenai investasi pada startup dalam webinar “Series Talk with Investor” yang digelar AMI, kemarin.

Pertama nih, bila kamu tertarik mendirikan startup, pahami dulu perbedaan startup dan bisnis lainnya, terutama Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM). Arung menjelaskan visi yang diangkat startup dan UMKM berbeda. Startup fokus untuk membangun brand awareness di tahun-tahun awal berdirinya, sementara UMKM langsung berfokus untuk mendapatkan profit.

Selain itu, produk yang ditawarkan startup dan UMKM juga berbeda. Startup memberikan solusi atas permasalahan atau kebutuhan masyarakat melalui teknologi. Sementara produk yang ditawarkan UMKM berbentuk fisik. Nah, dari dua poin tersebut, apakah bisnis kamu termasuk startup atau UMKM?

Baca Juga: Berinvestasi pada Startup Saat Pandemi, Apa Sikap Venture Capital?

Bila bisnis yang kamu jalani masuk kategori startup, Arung menjelaskan biasanya tahap memanen keuntungan dimulai ketika startup sudah berjalan antara tiga hingga lima tahun. Di tengah perjalanan awal, startup bisa mendapatkan bantuan dari investor, baik venture capital (VC) maupun angel investor

Tiga Faktor Fundamental Startup yang Dinilai Venture Capital

Namun, investasi pada startup memiliki persyaratan yang cukup ketat. Terlebih pada masa pandemi COVID-19 yang menuntut investor untuk lebih selektif menyuntikkan dananya. Arung membeberkan ada tiga faktor penting yang dilihat untuk berinvestasi pada startup. Yaitu, ide atau solusi yang ditawarkan, profil founder, dan traction yang diperoleh.

“Hal utama yang dilihat investor adalah idenya. Masalah apa yang mau diselesaikan? Solusinya apa? Kalau teknologi yang ditawarkan sudah common dan ada kompetitor besar, lalu apa poin uniknya?” ujar Arung.

“Kedua, founder. Sosok founder merupakan bagian penting dalam startup karena ia yang menentukan ke mana arah startupnya berjalan. Kami akan menilai apakah founder mengerti apa yang mereka lakukan. Poin plus kalau founder memahami proses pengembangan teknologinya,” tuturnya.

“Ketiga, ketika produknya sudah ada, solusi sudah ada, dan foundernya sangat passionate, kita melihat traction. Bagaimana reaksi publik atas solusi yang ditawarkan. Apakah ada user yang menggunakan solusi tersebut? Seberapa cepat respon calon konsumen dari solusi yang dibutuhkan itu menjadi metrik yang penting,” jelasnya.

Memiliki tiga faktor fundamental yang dilihat VC tak lantas cukup untuk memuluskan pitching investasi pada startup. Arung mengatakan para pelaku startup harus cerdas dalam menentukan VC yang tepat dengan model bisnis yang diajukan. Untuk itu, melakukan riset mengenai profil VC merupakan langkah penting sebelum pitching. Pasalnya, setiap VC memiliki profil dan visi yang berbeda-beda. 

Lebih lanjut, Arung juga mengatakan pelaku startup jangan hanya fokus mengejar pitching dari VC, melainkan untuk membangun produknya agar diterima oleh masyarakat. Perlu diketahui, proses investasi pada startup bukan hanya melalui pitching dari inisiasi pelaku startup Tetapi, VC sendiri aktif mencari startup potensial untuk diberi suntikan dana. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here