Dilema Karier atau Kuliah? Kenapa Nggak Berburu Beasiswa dari Kantor?

Usianya 42 tahun. Tapi tak lantas usia menyurutkan semangatnya untuk kembali ke bangku kuliah. Kesempatan yang diberikan perusahaan berupa program beasiswa Sarjana-3 diambil Dwi Widianto untuk mengasah lebih dalam skill dan kemampuannya sebagai Data Scientist di Generali Indonesia.

Sejak September silam, Toto, begitu ia disapa, rutin menjalani peran gandanya sebagai seorang profesional dan mahasiswa. Aktivitasnya jelas semakin padat. Ia harus menjalani kelas via video conference setiap Rabu malam, dan menghadiri kelas fisik di Binus Business School setiap Sabtu. 

Meski begitu, kembali kuliah sebagai seorang peneliti adalah mimpi Toto sejak bergabung dengan Generali pada 2016. Ia bertekad untuk mewujudkan asa kedua orangtuanya yang mendorongnya untuk menimba ilmu setinggi mungkin.

Generali Indonesia mendorong karyawannya untuk menimba ilmu setinggi mungkin. (Foto: dok. Generali Indonesia)

“Ketika baru gabung di sini, saya sudah utarakan ingin sekolah lagi. Dulu saya punya cita-cita sampai usia tertentu kalau belum tercapai, ya lupakan saja. Tapi, ternyata di Generali ada kesempatan S3. Saya ingin menuntaskan misi ayah saya. Beliau ingin anaknya sekolah setinggi mungkin,” ujar Toto.

 “Saya juga ingin menambah bekal untuk berkontribusi kepada Generali dan giving back to community. Dengan ilmu ini, saya bisa mengajar di hari tua nanti,” tambahnya.

Program beasiswa diterapkan Generali sejak 2016 sebagai bentuk penghargaan kepada karyawan atas kontribusinya untuk perusahaan. Total, sudah delapan karyawan mendapatkan kesempatan untuk menjalani program beasiswa Sarjana-2 dan Sarjana-3. 

Baca Juga: Buruan! Tukarkan Point Reward Kamu di Generali Indonesia

Salah satu karyawan pertama yang mendapatkan program beasiswa ini adalah Suzwamela Zawawi. Ia mendapatkan program beasiswa Sarjana-2 Business Administration di dua universitas sekaligus, yaitu Institute Teknik Bandung dan Aalto University Executive Education, pada 2016.

Wanita yang akrab disapa Mela ini mengatakan tawaran beasiswa datang setelah atasannya mendengar bahwa ia hendak mencari beasiswa dari pihak eksternal. Respon cepat yang diperlihatkan Generali terkait kebutuhan karyawan disebut Mela salah satu bentuk apresiasi perusahaan kepada karyawan.

“Saya diberi kesempatan belajar yang besar oleh Generali. Saya sempat cerita kepada atasan kalau saya tengah mencari beasiswa di Australia, dan konsekuensinya saya harus keluar. Tapi, untuk apa keluar kalau ternyata ada kesempatan serupa yang diberikan oleh Generali? Generali memperlakukan karyawan sebagai aset yang penting,” bilang Mela.

Generali Indonesia adakan program beasiswa S2 dan S3 untuk karyawan sejak 2016. (Foto: dok. Generali Indonesia)

Selama 10 tahun berkarya bersama Generali, Mela merasakan besarnya apresiasi perusahaan yang mendorong pertumbuhan karier maupun soft skill yang ia miliki. Program beasiswa yang ia jalani pun turut memoles kemampuan leadership Mela, baik di pekerjaan maupun di tengah keluarganya.

“Saya harus mengikuti perkuliahan di Bandung dan juga Singapura setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Dan di tengah periode kuliah, saya hamil. Saya harus pintar-pintar membagi waktu. Leadership skill saya pun diuji,” tuturnya.

“Saya harus bisa empower tim, belajar percaya kepada mereka, belajar dari kesalahan dan menerimanya. Leadership skill seperti ini akhirnya saya terapkan juga di rumah,” lanjutnya.

Peran ganda yang harus diemban Toto dan Mela ketika menjalani perkuliahan memang bukan hal yang mudah. Konsentrasi dan waktu mereka terbagi antara pekerjaan dan perkuliahan. Oleh karena itu, persyaratan untuk mendapatkan beasiswa pun tak mudah.

Karyawan yang mengajukan diri atau diajukan oleh atasannya harus memenuhi nilai performa di atas standar selama dua tahun beruntun. Kemudian penilaian performa dan formulir pendaftaran beasiswa akan ditinjau oleh Komite Human Capital.

Nah, kamu tertarik bekerja sambil kuliah gratis?

Join Us Now!

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here