5 Hal yang Wajib Diketahui Jika Ingin Jadi Jurnalis

Ilustrasi Jurnalis
Ilustrasi Jurnalis. Designed by Freepik

Jurnalis adalah salah satu profesi yang menantang bagi sebagian orang. Tak hanya sebagai pemuas hasrat dalam menulis, melalui jurnalisme, Anda dapat mengoptimalkan fungsi pengawas atau watchdog terhadap penguasa sebagai seorang warga negara.

Seorang jurnalis juga mampu mengubah nasib seseorang.

Bisa saja seorang miliarder berubah menjadi miskin, seperti para pejabat yang terbukti melakukan korupsi dan dimiskinkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Atau kebalikannya. Sebut saja Darsem, seorang tenaga kerja Indonesia asal Subang yang kaya mendadak dan bebas dari hukuman pancung setelah media menggerakkan masyarakat memberikan bantuan untuknya.

Tak heran jika ada istilah “Kata adalah Senjata” dalam dunia jurnalistik.

Beban moral tersebut menjadikan profesi wartawan tidak mudah. Oleh karena itu pula, lulus uji kompetensi wartawan menjadi salah satu syarat sebuah media dapat verifikasi dari Dewan Pers.

Nah, jika Anda tertarik menjadi jurnalis, ingat 6 hal yang dirangkum Job-Like Magazine berikut ini.

1. Gaji Relatif Kecil

Jangan mimpi cepat kaya jika hanya mengandalkan gaji wartawan,” ucap Satwika, salah satu jurnalis madya di sebuah televisi swasta.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyebut, upah layak jurnalis pemula di Ibu Kota pada 2018 seharusnya mencapai Rp 7,96 juta. Angka ini merupakan jumlah yang bisa membuat jurnalis independen dan menciptakan karya jurnalistik yang baik.

Upah layak itu didapat dari survei AJI terhadap 29 media di Indonesia dan 2 media asing yang diverivikasi datanya pada Desember 2017.

Namun faktanya, beberapa media masih menggaji jurnalis pemula berkisar Rp 3,1 juta hingga Rp 6,4 juta. Bahkan ada yang mengupah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP).

Baca Juga: Imanuel Hutagalung: Jadi Dosen Itu adalah Panggilan, Bukan Karier

2. Dilarang Terima Amplop

Meski gaji relatif kecil, jurnalis dilarang keras menerima “amplop” atau sogokan dari narasumber. Amplop ini bisa bermacam-macam bentuknya, mulai dari uang, voucher belanja, pulsa, saham, mobil, bahkan rumah.

Kenapa tidak boleh menerima amplop? Ini untuk menciptakan independensi dalam tulisan.

Larangan ini masuk dalam Kode Etik Jurnalistik yang disusun oleh Dewan Pers dan organisasi kewartawanan.

3. Kreatif

Tak mungkin ada hari tanpa berita. Yang Anda perlukan hanya berpikir kreatif.

Bagaimana caranya untuk berkreasi? Perbanyak baca, apapun itu. Anda juga harus jeli terhadap sekitar. Terkadang, berita turun dari langit. Misalnya, kasus pencucian uang dan penggelapan dana nasabah, Inong Malinda Dee.

Pengalaman Job-Like Magazine, kasus ini terendus, ketika wartawan curiga banyak mobil mewah berhari-hari bertengger di tempat parkir khusus penyidik. Padahal, mobil umum tidak boleh parkir di area itu dan jurnalis Mabes Polri tak pernah melihat kendaraan tersebut.

Jurnalis juga curiga dengan keberadaan seorang perempuan seksi yang mondar-mandir ke gedung Bareskrim Polri yang saat itu masih ada di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Setelah melakukan konfirmasi, barulah terbongkar kasus yang merugikan nasabah bank puluhan miliar rupiah.

4. Harus Berani dan Fokus

Malu bertanya, sesat di jalan. Peribahasa ini benar adanya. Jika tidak bertanya, tentu jurnalis tidak akan mendapat konfirmasi atas informasi yang diperolehnya, sehingga bahan tersebut tak bisa dijadikan berita.

Berani juga membantu jurnalis kritis. Ini dapat membuat tulisan lebih “kaya” apalagi ketika Anda fokus dalam mencerna keterangan narasumber.

5. Rela Korban Waktu dan Tenaga

Tugas jurnalis tak mengenal waktu. Syarat utama yang diajukan oleh perusahaan media ketika Anda melamar adalah waktu kerja yang fleksibel. Sebab, peristiwa pun terjadi tak kenal waktu.

Oleh karena itu, user biasanya juga mengharuskan Anda mengangkat telepon setiap saat.

Sebut saja kasus kecelakaan Setya Novanto.

6. Jangan Mudah Puas

Jangan pernah puas mendapat berita dari konferensi pers ketika menjadi jurnalis. Rajin-rajinlah cari informasi di mana hanya Anda yang tahu.

Tak perlu terkait kasus besar. Berita sederhana seperti kecelakaan di tol, carilah sendiri ke sumber pertamanya. Jangan mengandalkan teman atau media sosial.

Jangan puas pula hanya menulis untuk media. Cari pencapaian lain, seperti dengan mengikuti lomba penulisan atau menulis buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here