HR Interview Bounche Indonesia: Peluang Karier di Digital Agency

bounche indonesia
Foto: Bounche

Berbicara pesatnya pertumbuhan dunia digital sekarang ini, ada banyak bidang dunia kerja yang memanfaatkan peluang dari hal tersebut. Sebut saja salah satunya digital agency. Perkembangan digital agency di Indonesia sudah mulai terasa sejak 5 tahun belakangan. Bekerja di digital agency menjadi tren tersendiri bagi beberapa kalangan muda di era millennial ini. Pasalnya, lingkupan kerja dalam digital agency yang sangat luas dan bervariasi menuntut para pekerjanya untuk terus mengasah kreativitasnya.

Digital agency dilihat sebagai salah satu industri yang menjanjikan peluang besar. Selain menjadi wadah untuk belajar banyak hal, bekerja di digital agency juga memberikan banyak benefit lain. Seperti lingkungan kerja yang seru, jam kerja fleksibel, hingga kesempatan untuk memperluas networking.

Baca Juga: Bedah Kantor Cartenz Group: Memajukan Indonesia dengan Teknologi Informasi

Ekspansi Digital Agency di Era Millennial

Kepada Job-Like Magazine, Arini Endah, Human Resource di Bounche Indonesia, menyatakan bahwa salah satu alasan digital agency bisa berkembang pesat seperti sekarang adalah kebanyakan perusahaan mengubah metode beriklannya mereka. Di mana menurutnya banyak perusahaan sekarang tidak ingin menghabiskan banyak uang untuk beriklan secara konvensional seperti lewat koran, billboard, majalah, ataupun iklan televisi.

“Akhirnya digital agency melihat peluang ini, lalu masuk ke perusahaan-perusahaan tersebut. Jadi lebih ke advertising namun secara digitalContohnya seperti social media maintenance, karena setiap brand pasti punya fan page-nya sendiri,” ujar Arini.

Arini Endah
Arini Endah, Human Resource Bounche Indonesia, saat ditemui di event job-fair di salah satu universitas swasta Jakarta.

Bounche Indonesia sendiri merupakan digital agency yang memiliki jaringan operasi di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Di Indonesia sendiri, Bounche Indonesia berkantor di Thamrin Office, Jakarta Pusat. Beberapa kliennya seperti Kalbe, Acer, Bank UOB Indonesia, dan masih banyak lainnya.

Arini melanjutkan bahwa peran digital agency dibutuhkan untuk kebutuhan pembuatan konten secara kreatif untuk meningkatkan audience’s awareness terhadap suatu brand.

“Untuk memasukkan konten-konten seperti foto di fan page brand-brand tersebut, pasti tidak bisa hanya sekedar posting. Tentu tetap butuh kreativitas, karena biasanya di digital dibutuhkan metode soft selling. Jadi, tugas digital agency untuk membuat orang-orang aware terhadap brand tersebut lewat platform digital,” kata Arini.

Baca Juga: Sukses Jadi Unicorn Asia, Traveloka Mengincar Tiket Konser dan Amusement Park

Kesempatan bagi Para Fresh Graduate untuk Bekerja di Digital Agency

Selaku HR, Arini mengungkapkan bahwa di Bounche Indonesia masih cukup rutin untuk mencari kandidat fresh graduate. Beberapa lowongan pekerjaan seperti Creative Designer, Account Executive, Web Developer, dan Social Media merupakan yang paling banyak peminatnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa untuk setiap lowongan pekerjaan memang memiliki persyaratan masing-masing, namun bagi dirinya yang terpenting adalah kemampuan soft skill dari kandidat. Selain itu, syarat bekerja di Digital Agency tentu adalah kreativitas.

“Untuk kandidat nih ya, saya lebih mencari soft skill-nya karena hard skill bisa dipelajari. Jadi, lebih ke attitude-nya. Jadi dari cara ngomong, cara bersikap, hingga kemauan untuk benar-benar bekerja. Itu yang saya nilai lebih dari para kandidat,” kata Arini.

“Namun, tetap tidak hanya soft skill saja yang saya nilai. Contohnya untuk Creative Designer, saya pasti nilai dari kreativitasnya bikin CV. Karena kerjaannya desain, ga mungkin kan kirim CV hitam putih. Sama juga dengan Social Media, karena pekerjaannya menulis jadi butuh kreativitas.”

Salah satu spot kerja di kantor Bounche Indonesia, yang lebih terlihat seperti kafe. (Foto: Arsitag)

Di samping itu, Arini juga merasa kalau pencari kerja pun juga harus tahu apa yang benar-benar jadi tujuannya mencari kerja. Dirinya merasa bahwa kebanyakan pencari sekarang, terutama untuk fresh graduate, seringkali melamar tanpa mencocokkan bidang yang dilamar dengan latar belakang pendidikannya. Selain itu, dia juga menyarankan bagi para pencari kerja pemula untuk tidak selalu berfokus pada gaji atau benefit saja, namun juga bagaimana pekerjaan yang dilamar mampu mengembangkan karier ke level yang lebih tinggi.

“Ya, untuk millennial sendiri, biasa yang ditanyakan adalah gaji. Yang jadi masalahnya, perusahaan belum tahu skill atau pencapaian apa yang bisa dia berikan. Meskipun tidak salah untuk menanyakan hal semacam gaji atau benefit, karena setiap kandidat berhak tahu. Hanya, jangan terlalu direct fokusnya ke itu saja, karena bisa memberikan kesan yang kurang baik di mata pewawancara,” tutup Arini.

Beri komentar Anda tentang artikel ini