iGrow: Menggunakan Kecanggihan Teknologi untuk Bantu Petani

iGrow
Lahan Kebun Jagung

Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang pertanian. Dikelilingi oleh pegunungan aktif dan kondisi geografisnya yang beragam, merupakan penyebab tanah di Indonesia tergolong subur serta banyak varietas tumbuhan yang tumbuh di bumi pertiwi ini. Namun sayangnya, menurut data Badan Pusat Statistik November 2018, jumlah pekerja di sektor pertanian terus berkurang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pekerja di sektor pertanian turun menjadi 28,79 persen pada November 2018, dibadingkan dengan jumlah pekerja di sektor pertanian pada Agustus 2017 sebanyak 29,68 persen.

Terus berkurangnya angka pekerja di sektor pertanian menyebabkan tak banyak lagi lahan pertanian yang tergarap secara maksimal. Akibatnya, produksi komoditas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pun terus menurun yang berdampak pada maraknya impor komoditas yang dilakukan Indonesia. Selain masalah SDM, terjebaknya para petani lokal pada jeratan tengkulak pun menyebabkan para petani produktif tak bisa mendapat penghasilan yang layak.

Baca Juga: Millennial Tertarik Kerja di BUMN? Ternyata Ini Alasannya

Sebuah ide datang dari salah satu anak bangsa yang menggagas platform untuk mempertemukan petani dengan para pembeli dan investor.

iGrow berdiri sejak tahun 2014. Visi utamanya yaitu menyejahterakan bumi Indonesia melalui pertanian. Platform ini menghubungkan antara kelompok tani dan para investor agar para petani bisa mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha taninya. Selain itu, iGrow juga mempertemukan petani dengan konsumen yang sebagian besar dari industri retail, pabrik, dan eksportir. Sehingga, para petani tersebut bisa menjual langsung hasil pertaniannya kepada pembeli. Menurut Founder dan CEO iGrow, Andreas Senjaya, strategi ini ditujukan untuk memutus mata rantai tengkulak, yang kerap kali merugikan petani kecil.

“Sebuah rahasia umum kalau pertanian Indonesia punya banyak potensi, tapi hingga saat ini kita belum mampu optimalkan dengan baik. Jadi, fakta-fakta umum itu hanya sebuah statistik saja karena nggak ada orang yang mau untuk ambil risiko terjun ke bidang pertanian langsung. Jadi kita merasa harus ada nih terobosan baru untuk membuat pertumbuhan pertanian bisa lebih cepat,” jelasnya.

Sumber : iGrow

Bagi masyarakat yang ingin ikut mendukung usaha para petani, bisa langsung log-in ke website www.igrow.asia kemudian mengisi formulir sebagai investor, serta dapat memilih usaha tani mana yang ingin dibantu permodalannya. Untuk memberikan rasa aman kepada para investor atas dana yang mereka investasikan kepada petani, Andreas mempercayakan tim supervisor pendamping petani untuk memastikan proses produksi berjalan dengan lancar.

“Kita bekerja sama dengan lembaga pendidikan agar bisa mencetak petani-petani yang memang mampu untuk meng-supervisi petani-petani di daerah. Itu ada asrama namanya Al-Filaha yang memang mengajari bertani untuk mencetak surveyor penanaman yang bisa meng-supervisi tempat-tempat yang nanti akan digarap oleh iGrow. Uniknya, program ini ada sebelum iGrow sendiri didirikan yaitu pada tahun 2012,” tutur Andreas.

Andreas juga menyatakan, ke depan akan terus memaksimalkan penggunaan teknologi untuk menyempurnakan sistem kerja iGrow. Selain memasyarakatkan penggunaan teknologi smartphone bagi para mitra tani, iGrow juga terus melakukan penelitian untuk mewujudkan inovasi pertanian yang nantinya tak hanya dapat digunakan bagi mitra tani iGrow, namun juga pelaku industri pertanian di Indonesia.

“Saat ini kami sedang persiapan membuat platform monitoring untuk penanaman. Kalau sekarang kan monitoring-nya masih dilakukan oleh manusia, walaupun sudah dibekali smartphone untuk mengambil foto, video, dan sebagainya. Cuma kalau lahannya lebih dari 10 hektar kan susah untuk monitoring-nya. Sekarang kita lagi coba identifikasi kebutuhan menggunakan satelit. Satelit nantinya akan mengidentifikasi lahan yang akan kita gunakan, untuk penanaman seperti identifikasi penyakit dan prediksi panen,” tutupnya.

iGrow telah membina lebih dari 20 mitra petani lokal dan sudah melibatkan 3.000 investor. Mitra-mitra petani iGrow kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia yaitu di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan, dana investor yang telah dimanfaatkan untuk modal pengembangan pertanian kurang lebih sebanyak Rp 90 miliar.

Beri komentar Anda tentang artikel ini