Strategi Kemitraan: Inovasi Kudo Pasca Akuisisi Grab

Strategi Kemitraan: Inovasi Kudo Pasca Akuisisi Grab
Source: iese

Beberapa perubahan dan strategi diterapkan Kudo setelah startup online to offline tersebut diakuisisi oleh Grab. Salah satunya adalah menggandeng OVO.

Hanya butuh waktu tiga bulan bagi Grab dan Kudo untuk mencapai kata sepakat. Pada April 2017 lalu Grab resmi mengakuisisi Kudo. Seperti juga yang ditemukan di proses akuisisi perusahaan lainnya, beberapa perubahan dan inovasi dilakukan pula oleh Grab dan Kudo.

Salah satunya adalah mengalihfungsikan kantor Kudo. Bangunan yang berada di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan itu dirubah fungsinya menjadi R&D Center. Bagi Grab, R&D Center ini menjadi R&D Center keenam yang dimiliki oleh startup asal Malaysia tersebut.

Grab, Kudo, dan OVO

Hal lain yang juga dilakukan oleh Grab dan Kudo adalah menjaring mitra pengemudi. Untuk itu, Grab menggunakan jejaring agen-agen yang sudah tersebar di kota-kota besar maupun pelosok.

Grab, Kudo dan OVO
Foto: kudo

Seperti yang telah diketahui, Grab merupakan startup yang menyediakan layanan transportasi berbasis digital. Sedangkan Kudo memiliki agen-agen yang sudah tersebar hingga ke lebih dari 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Dengan demikian para agen tersebut bisa memperkenalkan Grab kepada calon mitra pengemudi Grab. Sebagai imbalannya, para agen mendapatkan komisi dalam jumlah tertentu.

Kudo juga menjalin kemitraan strategis dengan startup pembayaran online lainnya. Belum lama ini perusahaan ini berkolaborasi dengan OVO untuk lebih mempermudah layanan pembayaran digitalnya. Dengan demikian para agen yang ada sekarang bisa menawarkan lebih banyak variasi produk ke calon pembeli. Seperti misalnya tiket pesawat, tiket kereta api dan lain-lain. OVO sendiri merupakan startup yangbelum lama ini juga sudah diakuisisi oleh Grab.

Baca Juga: Kurangi Candu Uang Tunai, OVO Terus Perbanyak Merchant

Foto: techinasia

Berada di bawah bendera PT. Kudo Teknologi Indonesia, Kudo (Kios Untuk Dagang Online) menawarkan model bisnis online to offline (O2O). Pengguna aplikasinya sering disebut sebagai agen. Para agen ini memiliki kesempatan untuk menawarkan beragam jenis produk kepada pembeli yang belum memiliki akses internet, pembeli yang kesulitan berbelanja online ataupun para pembeli yang tidak memiliki debit card dan credit card. 

Untuk menjadi agen tidak diperlukan adanya toko ataupun stok barang. Kendati demikian, para agen berkesempatan mendapatkan komisi dan modal usaha.

Sedangkan pembeli yang menggunakan jasa para agen, bisa membeli berbagai jenis produk yang ditawarkan. Baik kebutuhan sehari-hari maupun produk-produk lain seperti gadget dan fashion. Selain itu, mereka juga bisa melakukan pembayaran berbagai macam tagihan bulanan dan pembelian pulsa.

Untuk produk-produk yang ditawarkan, disediakan oleh beragam e-commerce yang ada seperti misalnya Bukalapak dan Lazada. Belakangan, pembeli juga bisa melakukan pembayaran asuransi serta pemesanan tiket transportasi.

Beri komentar Anda tentang artikel ini