Aplikasi Instagram Rencana Hapus Fitur Likes, Ini Efeknya Bagi Kesehatan

Aplikasi Instagram adalah salah satu media sosial yang cukup banyak penggunanya. Melalui aplikasi ini, kita bisa berbagi momen apapun kepada teman-teman terdekat atau orang yang tidak dikenal. Namun, beberapa waktu belakangan ini, Instagram berencana untuk menghapuskan fitur likes di aplikasinya. Ini merupakan upaya untuk menekan efek pada kesehatan mental yang selama ini muncul.

Perubahan tersebut pertama kali diperhatikan oleh peneliti media sosial, Jane Manchun Wong. Ia mengatakan bahwa pihak pengembang aplikasi Instagram ingin agar pengikut Anda fokus dalam melihat apa yang Anda bagikan, bukan pada jumlah likes yang Anda dapatkan. Selama pengujian ini, hanya orang yang membagikan unggahan yang dapat melihat jumlah like yang didapatkan.

Selain itu, perusahaan induknya, yakni Facebook mengatakan tentang tujuan mereka yang mendukung rencana penghapusan fitur likes ini. Pada bulan Januari, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa perusahaan mereka akan mulai fokus untuk menjadikan aplikasi mereka sebagai aplikasi yang membuat waktu yang dimiliki penggunanya dihabiskan dengan baik.

Ide ini diartikan sebagai tanggung jawab dari Facebook untuk memastikan layanan mereka tidak hanya menyenangkan untuk digunakan, tetapi juga baik untuk kesejahteraan manusia.

Baca Juga: Percaya Tidak? Bukan Cuma Medsos, Inilah Fungsi Instagram saat Ini!

Dicanangkan Akibat Efek Negatif yang Muncul

Tanpa Anda disadari atau tidak, dampak fitur likes di aplikasi Instagram memang membuat pengguna seakan terobsesi untuk mendapatkannya lebih banyak likes. Platform ini sekan menjadi kontes popularitas antara influencer Instagram yang rata-rata digunakan untuk berbagi sekilas tentang kehidupan sehari-hari mereka dengan keluarga dan teman.

Namun, tanpa disadari, mereka seakan telah menjadi panutan dalam menjalankan gaya hidup sehari-hari yang kadang tidak dibutuhkan atau tidak sesuai dengan audiensnya.

Sementara orang-orang kemudian menjadi sangat tergantung pada angka likes dan pengikut. Angka tersebut kemudian membuat pengalaman menyenangkan bagi para penggunanya dan kemudian memicu produksi dopamin di dalam otak.

Zat ini merupakan senyawa yang dihasilkan otak dan memotivasi kita untuk mengulangi perilaku tersebut. Bahan kimia itu  biasanya dilepaskan ketika kita mengonsumsi makanan yang enak, berhubungan intim, setelah berolahraga, dan, yang lebih relevan di sini, ketika memiliki interaksi sosial yang sukses, seperti menerima likes di aplikasi Instagram atau Facebook.

Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh American Psychological Association mengatakan bahwa tingkat depresi, tekanan psikologis dan pikiran serta tindakan bunuh diri telah meningkat secara signifikan di antara orang-orang yang berusia 26 tahun ke bawah, dengan beberapa peningkatan tertinggi terjadi pada wanita. Mereka mengaitkan kenaikan dengan peningkatan waktu yang dihabiskan di media sosial, di antara faktor-faktor lain.

Baca Juga: Kenalan dengan Digital Detox untuk Kurangi Kecanduan Gadget

Dan beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian Royal Society for Public Health di Inggris menyatakan bahwa media sosial mungkin memicu krisis kesehatan mental pada orang-orang muda. Meski para peneliti dalam studi di Inggris juga mencatat bahwa Instagram memiliki beberapa efek positif, seperti wadah ekspresi diri dan identitas diri.

Dengan munculnya ide ini, diharapkan bahwa efek penggunaan aplikasi Instagram yang mengarah kepada hal-hal negatif bisa dikurangi. Sehingga tujuan utamanya sebagai wadah ekspresi dan identitas diri bisa semakin ditonjolkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here