Jenis Pekerjaan Baru Bermunculan Berkat Artificial Intelligent

Jenis Pekerjaan Baru Bermunculan Berkat Artificial Intelligent

Di Indonesia, 16 sampai 33 persen pekerjaan saat ini siap untuk diautomasikan sampai dengan tahun 2030. Artinya, akan banyak fungsi-fungsi pekerjaan tertentu yang akan tergantikan dengan teknologi.

Fungsi pekerjaan yang kemungkinan diautomasi. misalnya yang berhubungan dengan administrasi seperti machine operator, payroll administrator, atau pekerjaan yang berhubungan dengan manajerial.

Semua fungsi pekerjaan tersebut dapat digantikan oleh teknologi yang menggunakan Artificial Intelligent (AI). Data yang dirilis oleh McKinsey Indonesia, sekitar 26 juta fungsi pekerjaan akan digantikan oleh jenis pekerjaan baru yang datang dari kebutuhan dunia kerja saat ini.

“Akan muncul beberapa jenis pekerjaan yang akan muncul tanpa bisa diprediksi. Yang jelas, hal-hal seperti managing & developing people ikut meningkat. Perubahan di dunia kerja seperti ini memerlukan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan mulai dari instansi pendidikan, perusahaan, dan pemerintah,” jelas Philia Wibowo, Managing Partner McKinsey Indonesia dalam Global Dialogue CSIS 2019, Selasa (17/09).

Penggunaan AI dalam bisnis, menyederhanakan fungsi-fungsi pekerjaan yang pada akhirnya tidak akan lagi dilakukan oleh manusia. Teknologi menciptakan jenis pekerjaan baru yang baik untuk pertumbuhan ekonomi.

Menurut pemaparan Aadil Bandukwala, Chief Evangelist & VP Marketing Belong.co, disrupsi teknologi menciptakan human hack. Human hack merupakan kemampuan sebuah sistem mengumpulkan data dan mengetahui diri kamu lebih baik dibandingkan pemahaman kamu sendiri.

Itu semua merupakan manfaat dari penggunaan AI dalam aktivitas bisnis. Namun, penggunaan AI juga harus didukung dengan kualitas talenta yang dapat memahami STEM (Science, Technology, Engineering, & Math).

Baca Juga: Co-Founder Nodeflux : AI Bisa Memberikan Solusi Bagi Masyarakat

Selain itu, menyiapkan generasi yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving), juga menjadi penunjang dalam mengaplikasikan AI dalam bisnis.

Pemaparan dari Aadil Bandukwala, Chief Evangelist & VP Marketing Belong.co
Foto : Kiky.Waode/Job-Like Magazine

“Siapa saja pemangku kepentingan yang bertanggung jawab dalam melahirkan generasi AI untuk masa depan aneka industri? Pemerintah, institusi pendidikan seperti perguruan tinggi, private enterprises, dan orang tua. Mereka semua bertanggung jawab dalam pembentukan generasi AI,” jelas Aadil.

Lack of talent dalam bidang teknologi, bukan hanya dialami oleh dunia kerja di Indonesia. Defisit tenaga kerja di bidang teknologi bahkan turut dirasakan oleh sebuah unicorn sekalipun.

Berkiblat pada perkembangan teknologi saat ini, mendorong perusahaan yang tadinya menerapkan model manajemen waterfall (konvensional) beralih menjadi agile.

Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mengadakan jenis pekerjaan baru seperti product owner, scrum master, digital marketing, dan lainnya. Termasuk lembaga perbankan yang kini beramai-ramai menjadi digital bank.

People Experience dari Dkatalis, Maya Kartika, mengakui ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk menerapkan metode kerja agile, perusahaan harus siap dengan perubahan yang akan terjadi dengan sangat cepat.

Hal tersebut karena metode kerja agile bersifat dinamis dan sangat cair, sehingga proses pemecahan masalah tidak lagi hanya berfokus pada pimpinan melainkan melibatkan sebuah tim.

“Dalam proses kerja agile, karyawan dituntut mampu beradaptasi dengan situasi yang sedang dialami. Dalam melakukan perekrutan karyawan, kami tidak melihat asal perguruan tinggi, IPKnya berapa, dan hal-hal lain yang biasanya menjadi syarat perekrutan pada umumnya,” jelas Maya.

“Programmer terbaik kami bahkan berasal dari SMK. Yang terpenting mereka mau terus belajar, menghasilkan produk, dan melakukan perbaikan-perbaikan untuk hasil yang maksimal. Agility menjadi cara baru dalam bekerja,” tambahnya.

Pertumbuhan dan perbaikan dalam teknologi, membantu bisnis untuk terus berkembang. Perusahaan seharusnya bisa bersungguh-sungguh dalam melakukan investasi, untuk perkembangan talenta yang dimiliki.

Baca Juga: Menerapkan Kepemimpinan Adaptif dalam Konsep Kerja Agile

Namun, menurut Deputy Chief Executive SkillsFuture, Michael Fung, semua itu akan percuma jika generasi muda dewasa ini belum memiliki minat yang besar untuk belajar dan menggali potensi diri.

Untuk itu, diperlukan platform yang dapat menarik minat para karyawan muda/pemula agar mereka mau terus belajar. Seperti yang dilakukan oleh Ruang Guru, platform belajar online yang saat ini diklaim sebagai platform pendidikan terbesar di Asia Tenggara.

Ruang Guru membantu para siswa untuk bertemu dengan para tutor secara online. Memanfaatkan teknologi berbasis AI, memungkinkan Ruang Guru menyediakan berbagai fitur untuk mendorong para siswanya untuk belajar lebih sering.

Jika platform semacam ini bisa diterapkan oleh perusahaan untuk memberikan pelatihan karyawannya, rasanya akan lebih efektif menarik minat karyawan untuk mengembangkan diri dengan cara yang menyenangkan.

Platform yang didukung oleh AI mampu menciptakan pembelajaran yang cukup efektif. Berkat AI, kami dapat mengoleksi data untuk melakukan evaluasi konten. Sehingga, kita bisa melakukan perbaikan konten,” kata Iman Usman, Chief Product Officer Ruang Guru.

Sebagai pembuktian dari efektivitas penggunaan teknologi AI dalam aplikasi Ruang Guru, Iman menyatakan saat ini Ruang Guru memiliki sekitar 40 juta siswa, dan Ruang Guru siap berekspansi ke Vietnam.

“Kami juga sedang bergerak untuk menciptakan produk baru yaitu Ruang Kerja. Ruang Kerja bisa menjadi platform bagi karyawan maupun kandidat. Kami terus mencoba untuk memberikan produk yang dibutuhkan oleh pelanggan,” tambahnya.

Mengembangkan Potensi Disertai dengan Kualitas Soft Skill

Penggunaan teknologi AI dalam bisnis bisa menciptakan intelligent economy. (Foto : Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Bukan hanya persoalan teknis, Maya menambahkan soft skill di era digital sangat penting salah satunya tentang bagaimana seseorang memecahkan sebuah masalah.

Namun sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia membiasakan seseorang untuk menghafal bukan untuk berpikir analitik dan kritis. Sedangkan, agar bisa bersaing dalam era digital seseorang membutuhkan analytical thinking skill yang menjadi dasar kemampuan memecahkan masalah.

“Dasar-dasar dalam bekerja, tentu saja harus kerja keras, tahan banting, kooperatif, dan mampu bekerja sama dalam tim. Sejak dini, anak-anak harus dikembangkan rasa keingintahuannya sehingga analytical thinking-nya dapat terasah,” kata Maya.

Michael menambahkan pemerintah Singapura telah merancang program persiapan kerja dengan menyeimbangkan kemampuan teknis dan soft skill.

“Program persiapan kerja yang ada di Singapura, pada dua minggu pertama calon pencari kerja disiapkan soft skill-nya. Setelahnya baru penempaan kemampuan teknisnya. Memahami soft skill apa saja yang dibutuhkan untuk bertahan di dunia kerja itu sangat penting,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here