Mau Lolos Proses Rekrutmen? Jujur saat Rekrutmen Itu Rasional

Cukup banyak warganet Linkedln yang bertanya pada saya, bagaimana seharusnya mereka menjawab pertanyaan rekruter pada proses rekrutmen, supaya memperbesar kemungkinan untuk diterima bekerja.

Jawaban saya selalu sama pada siapa pun: jawab dengan jujur, apa adanya, namun kita kemas dalam kalimat dan cara penyampaian yang mantap, sopan, dan terstruktur baik.

Di satu sisi, mengamanatkan kejujuran dalam menjalani proses rekrutmen itu tampak seperti nasihat yang religius, spiritual, emosional, atau idealis.

Padahal sebenarnya itu adalah alasan yang rasional.

Marilah kita cermati fakta berikut ini.

Andai ada kalimat-kalimat penuh sihir yang dapat membuat kita lebih mudah diterima bekerja, maka sudah pasti para penulis buku, jurnalis, storyteller, copywriter, master of ceremonies (MC), dan pembaca berita; bisa kebanjiran order untuk merangkaikan kalimat sihir itu bagi para pencari kerja.

Mungkin saja mereka bisa jadi tajir karena mereka dikenal sebagai pekerja yang banyak berhubungan dengan manajemen dan perangkaian kata-kata.

Kenyataannya… apakah kita menjawab pertanyaan wawancara dengan jujur, berbohong, atau memanipulasinya dengan polesan “gula” tebal; kesemuanya tidak lantas membuat kita lebih mudah atau lebih cepat diterima bekerja di suatu perusahaan.

Karena mayoritas Human Resource (HR) atau Rekruter atau User, dan pewawancara pada umumnya; merupakan pribadi yang terlatih untuk “melihat dan merasakan” lawan bicaranya; cukup dari ekspresi, bahasa tubuh, dan susunan kata-kata yang diucapkan.

Sehingga dengan demikian, kebijakan paling rasional dalam menjalani proses rekrutmen adalah menjawab dengan jujur dan apa adanya.

Apakah HR atau Rekruter atau User suka atau tidak suka dengan kejujuran kita tersebut, itu sudah bukan lagi urusan kita sebagai pelamar. Itu adalah urusan mereka, dan bukanlah kekuasaan kita untuk mengendalikan pikiran dan perasaan mereka terhadap kita.

Singkirkanlah pemikiran yang berlebihan bahwa jika kita tidak diterima di suatu perusahaan adalah karena kejujuran kita ketika menjalani wawancara.

Belum tentu disebabkan karena itu.

Bisa jadi karena kompetensi atau latarbelakang kita yang memang kurang cocok dengan lowongan tersebut.

Atau bisa jadi karena kita kalah kompetitif dibandingkan dengan banyak kandidat lainnya, padahal jatah lowongannya hanya satu.

Andai pun jika ternyata karena berbohong atau “membanjiri dengan gula kata” di saat wawancara, lalu kita mudah dan cepat diterima di suatu Perusahaan, sayangnya… masalahnya tidak selesai sampai di situ, karena:

  • Terbayangkah isi Perusahaan itu, diisi oleh orang-orang seperti apa? Para pembohong dan manipulator. Apakah kita benar-benar mau bekerja bersama kolega, atasan, atau anak buah seperti itu dalam jangka panjang?
  • Cepat atau lambat, HR atau Rekruter atau User yang mengetahui adanya kebohongan yang kita ucapkan atau fakta tertentu yang kita tutupi; akan melancarkan 101 cara halus hingga cara kasar untuk membuat kita keluar dari Perusahaan itu dengan sendirinya.

Berdasarkan realitas itu, amanat saya sudah jelas, bahwa kebohongan dan manipulasi pada saat menjalani proses rekrutmen, merupakan pekerjaan yang sia-sia dan penuh fatamorgana.

Marilah kita bangun jati diri dan kompetensi kita dengan sebaik-baiknya, dan rangkaikan itu semua dalam CV yang menampilkan daya jual tinggi.

Baca Juga: 4 Keahlian di CV yang Harus Dicari pada Setiap Kandidat oleh Perekrut

Tingkatkan juga kemahiran kita dalam berkomunikasi, presentasi, dan public speaking. Akan lebih ciamik lagi jika kita memperdalam bahasa asing selain Bahasa Indonesia, misalnya, Bahasa Inggris hingga Business Level.

Itu jauh lebih rasional, lebih terpuji, dan jelas merupakan strategi yang efektif, efisien, dan jauh lebih berkemungkinan besar untuk menjebol sistem rekrutmen perusahaan mana pun, kapan pun.

Sukses dalam mengarungi dunia kerja dan membangun karier jangka panjang, dimulai dari kecintaan kita akan kejujuran, keadilan, dan soliditas jati diri dalam menjalani semua  proses kehidupan ini.

Beri komentar Anda tentang artikel ini