Cerita Peter Shearer, Juragan Warteg yang Berani Wujudkan Mimpi

Warteg
Peter Shearer, CEO Wahyoo

Bukan hal yang mudah untuk berani memulai bisnis. Inilah yang dirasakan Peter Shearer, Founder sekaligus CEO Wahyoo. Wahyoo adalah sebuah platform yang mencoba meningkatkan nilai jual warteg di mata masyarakat, dengan menggunakan kekuatan teknologi. Ia merilis aplikasi Wahyoo, yang dapat digunakan oleh pemilik warung untuk memenuhi kebutuhan pokok warungnya.

Apakah perjalanan kariernya sebagai pengusaha berjalan mulus? Sejauh mana ia yakin bisnisnya dapat bermanfaat bagi kalangan pemilik warung kecil?

Peter si “Juragan Warteg”, berbagi perjalanan bisnisnya kepada Job-Like Magazine.

Hi, Peter! Gimana sih ide awalnya kamu bisa kepikiran untuk bikin start-up Wahyoo? 

Sebenarnya awalnya kita lihat dari perkembangan teknologi. Semua orang sekarang sudah menggunakan teknologi. Jika kita berbicara soal semua orang berarti sudah mencakup seluruh industri. Nah, kebetulan kan saya suka kulineran. Saya cari sesuatu hal yang memang Indonesia banget dan belum tersentuh. Itu ada di warteg sebenarnya. Memang warteg itu kalau kita persepsikan ya dipandang sebelah mata tapi lucunya diperlukan. Kalau nggak ada warteg, orang-orang akan bingung juga mau makan dimana. Jadi, saya melihat kalau kita bisa mengubah Warteg yang dipandang sebelah mata ini menjadi sebagai sesuatu yang terpandang, ini bisa jadi yang luar biasa sebenarnya.

Kalau dilihat konsepnya, ini termasuk bisnis sosialkah atau seperti apa Peter memandang konsep Wahyoo ini?

Sebenarnya memang lebih banyak dari misi sosialnya. Jadi social business dimana warteg-warteg ini seandainya kita bisa buat lebih baik dalam segala hal. Bukan hanya dari penampakannya lebih nyaman tetapi juga dari segi bahan bakunya lebih baik atau pelayanannya lebih baik, itu saya rasa akan membuat warteg naik kelas. Kita juga harus memperhatikan yang menjalankan usaha ini dan kalau kita lihat mereka sudah menjalankannya sudah lama, belasan bahkan puluhan tahun. Lucunya, belum ada yang memperhatikan mereka. Nah, saya lihat warteg yang naik kelas ini akan sangat menjanjikan bukan hanya dari segi bisnis tetapi juga bisa menjanjikan Indonesia lebih baik, meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Baca Juga: Wahyoo: Penggunaan Teknologi untuk Tingkatkan Derajat Warteg

Tetapi bagaimana awalnya Peter bisa terjun ke bisnis ini?

Background saya memang branding and technology. Saya 9 tahun menekuni teknologi yang namanya Augmented Reality. Pada saat saya ingin mencoba Wahyoo, memang pada saat itu masih menjalakan bisnis yang lain. Tetapi, saya tipe orang yang harus memvalidasi market dulu. Maka, kenapa di bulan April 2017 kami hanya mencoba ke 50 Warteg dulu? Saya ingin lihat respon mereka seperti apa, karakter mereka seperti apa, problem mereka sebenarnya apa. Ternyata dari 50 warteg ini responnya sangat baik dan sudah bisa kasih impact yang lumayan untuk 50 keluarga. Perlahan bertambah dan bisa mencapai lebih dari 2.000 warteg saat ini.

Sekarang kan Wahyoo sedang dalam tahap berkembang. Apa saja nilai-nilai yang diterapkan di Wahyoo? Apalagi kan sekarang sudah hire banyak profesional nih.

Prinsip di Wahyoo kita ingin menjadi berkat untuk banyak orang. Kita harus berbagi karena memang itu prinsip manusia yang normal, ya seperti itu. Kita hadir untuk berbagi kepada banyak orang. Kita punya value lain juga yang diterapkan di perusahaan singkatannya P.I.P.I.S. Memang agak nyeleneh sih haha, supaya orang gampang mengingat. P yang pertama itu positif, kalau mau sukses fondasi dasar itu harus punya sifat optimis dan positif. Yang kedua inovatif, karena memang di industri digital kita harus selalu punya inovasi kalau nggak ada inovasi kita mati. Yang ketiga peduli, kita harus belajar peduli sama orang akhirnya kita bisa berbagi. Yang keempat integritas, bagaimana kita bisa menjadi manusia yang bernilai (punya integritas). Yang terakhir sempurna. Sempurna di sini bukan berarti kita harus menjadi manusia yang sempurna, tetapi bagaimana kita bisa memberikan pelayanan yang sempurna pada semua orang.

Tampilan aplikasi Wahyoo untuk kalangan pemilik Warteg

Sempat ada keraguan nggak sih dari lingkungan sekitar ketika Peter memulai bisnis ini?

Keraguan sih pasti ada, bersyukur sudah ada success story yang sudah berhasil menggunakan teknologi untuk orang-orang yang belum terbiasa menggunakan teknologi. Saya rasa bisa kok warung makan kita gaungkan melalui teknologi digital. Apalagi ada warung makan yang sudah dipegang oleh generasi kedua atau ketiga, jadi sudah fasih juga menggunakan smartphone. Jadi, seharusnya nggak ada masalah.

Saat ini, apa saja tantangan yang dihadapi dalam menjalankan Wahyoo?

Sebenarnya kalau kita bicara grass root market, bukan berarti belum banyak yang melirik. Tetapi challenge-nya adalah berapa banyak yang mau ngurusin. Berapa banyak yang benar-benar mau membantu. Saya bersyukur di Wahyoo ternyata banyak orang dan tim yang mau terjun membantu. Challenge dan effort-nya di sana ya. Karena penolakan sudah pasti ada, komplainan sudah pasti ada, masalah edukasi berulang-ulang itu pasti ada. Tinggal masalah hati seberapa sabar untuk mengedukasi mereka. Tetapi, walaupun rasanya capek begitu kita bisa membantu orang, rasa capeknya terbayar.

So, Wahyoo memang baru berjalan kurang lebih satu tahun. Apa yang sudah Peter pikirkan untuk menjaga sustainability dari keberadaan Wahyoo?

Kenapa beberapa start-up membutuhkan investor? Karena mereka ingin growth-nya cukup cepat dalam waktu singkat. Kalau kami tentu punya arah ke sana tetapi sebenarnya fondasinya. Fondasinya bisa nggak sih tanpa investor kita juga bisa survive? Karena kita juga inginnya tanpa investor kita juga bisa. Kita buktiin, tanpa investor kita juga bisa sampai sejauh ini. Kami memiliki beberapa revenue stream jadi kita tidak hanya berharap dari investor, tetapi kami juga menjual produk dan menyediakan iklan space, jadi dari situ kami bisa survive.

Apa yang mau Peter sampaikan untuk pembaca Job-Like Magazine terkait dari sharing kita hari ini?

Harus terus kejar mimpi. Jangan dengarkan perkataan orang yang berusaha menarik kita ke bawah. Justru kita harus bisa menarik mereka ke atas. Karena menurut saya, mimpi itu membuat kita selalu bergerak.

Mimpi itu ditaruh Tuhan ke beberapa orang. Tuhan menaruh mimpi itu spesial ke orang tersebut. Kenapa Tuhan menaruh mimpi itu ke orang tersebut? Karena Tuhan tahu bahwa orang itu mampu menjalankannya. 

Peter Shearer, CEO Wahyoo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here