Selalu Ramai, Kafe Ini Menyajikan Makanan yang Diolah oleh Chef Difabel

chef difabel
Sumber: amanat
Apakah pernah mendatangi sebuah restoran yang hampir sebagian karyawannya menyandang disabilitas atau difabel? Restoran tersebut nyatanya ada dengan bernamakan Kafe Mbok Kom, yang berlokasi di jalan Madya, Surabaya. Kafe ini tidak jauh berbeda dengan warung kopi lainnya, hanya saja menu makanannya yang berbeda karena diracik oleh chef difabel. Kafe ini pun sangat terkenal dan hampir tidak pernah sepi dari pengunjung.
Pemilik kafe unik ini, Mochamad Shobik, mengatakan bahwa kini orang-orang yang menyandang difabel jangan lagi dipandang sebelah mata. Meskipun mereka berkebutuhan khusus, namun mereka bisa melayani dengan baik dan dapat membuat makanan yang lezat.
“Awalnya, memang banyak komplain dari customer. Tapi saya anggap wajarlah, karena mereka enggak tahu kalau di sini pekerja dari kalangan disabilitas. Ada yang ditanya diam saja, ada juga yang diajak ngobrol tapi enggak bersuara. Di sana customer sempat merasa jengkel dan kecewa,” ungkap Shobik.

Walaupun Sering dapat Banyak Komplain dari Pelanggan, Kafe dengan Chef Difabel Ini Tetap Ramai Akan Pengunjung

Setelah seringkali dapat komplain, Shobik memberi penjelasan kepada pelanggan bahwa sebagian dari mereka adalah penyandang disabilitas. Banyak pelanggan yang mendengar penjelasan tersebut merasa kagum, bahkan banyak yang mendoakan supaya usahanya tetap berjalan lancar. Para chef difabel ini datang dari berbagai kota, di antaranya Bali, Nganjuk, Kediri, Sidoarjo, Surabaya dan Trenggalek.

Baca Juga: 3 Kafe yang Instagramable untuk Tempat Nongkrong Akhir Pekan di Jakarta Selatan

“Soal komunikasi, sebenarnya bagi saya sendiri enggak ada kesulitan dengan pekerja difabel. Tapi ada sebagian karyawan lain yang belum mengerti bahasa isyarat yang digunakan terutama pelanggan kafe,” ujarnya.

Ia mengatakan baru membuka warung kopi semi modern ini sejak beberapa bulan yang lalu. Mochamad sendiri juga mengalami tunadaksa (suatu keadaan yang terganggu atau terjadi hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal), harus menyembunyikan keinginannya dari keluarganya untuk membuka warung kopi bersama kalangan disabilitas.

“Istri saya baru dikasih tahu H-3 jelang launching. Sedangkan keluarga, baik orangtua maupun saudara, tahunya saat launching,” kata Shobik.

Pada awalnya mereka begitu terkejut ketika mengetahui bahwa usaha ini dijalani bersama orang yang berkebutuhan khusus. Namun berkat tekad dan doa restu dari orang tuanya, Shobik tetap melangkah maju dan mengajak para disabilitas untuk berkembang tanpa bantuan orang lain.

“Sebagai kalangan difabel, kami banyak merasakan pelajaran dari orang lain. Bagaimana dikucilkan, dicemooh, dan lain-lain. Mereka beranggapan kita bisa apa. Tapi saya berkeyakinan, saya bersama teman-teman ini mampu layaknya orang normal,” ujarnya.