Orang-Orang Ini Pernah Gagal, tapi Berhasil Bangkit Lagi

Orang-Orang Ini Pernah Gagal, Tapi Berhasil Bangkit Lagi

Presiden Direktur Binar Academy, Alamanda Shantika, berdiri di hadapan puluhan orang yang mengikuti konferensi digital Retrospekt!, Sabtu (16/03), di Nusantara Hall, ICE BSD. Dalam sambutannya, mantan Vice President Gojek ini bercerita soal kegagalan dan perjalanan hidupnya hingga mencapai titik saat ini.

Kesuksesan yang dilihat oleh orang-orang hanya sebagian kecil dari perjuangan dan kerja kerasnya selama ini. Permasalahan keluarga yang ia alami saat menjadi mahasiswa, sampai membuat Ala, sapaannya, terpaksa menjual DVD bajakan demi bisa terus kuliah.

“Saat kuliah, ayah saya kena stroke yang kedua. Saat itu, saya hampir tidak bisa kuliah. Waktu itu saya ingin ikut ujian masuk Universitas Indonesia tetapi kata Ibu, kami tidak punya uang. Perekonomian keluarga saat itu menurutn, saya sempat menjual DVD bajakan, mengajar anak SMP-SMA, hingga sampailah saya membuat perusahaan pertama di usia 21 tahun,” cerita Ala.

Orang-Orang Ini Pernah Gagal, Tapi Berhasil Bangkit Lagi
Alamanda Shantika menyerahkan plakat kepada Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara

Ia juga menceritakan perjuangannya membangun Gojek, yang saat itu masih dipandang sebelah mata. Tidak ada yang tertarik untuk menjadi karyawan Gojek, karena saat itu belum ada yang tahu tentang Gojek.

“Tidak ada yang mau gabung di Gojek, apalagi melihat kita masih menggunakan kursi plastik. Masih jelek kantornya. Setiap hari saya mengirimkan 100 pesan, satu per satu di Linkedin untuk mencari para engineer. Dari situ saya belajar, bagaimana membuat mapping untuk mencari orang yang tepat.”

Dalam mendirikan perusahaan, Ala menegaskan yang terpenting bagaimana menempatkan Sumber Daya Manusia (SDM) ke dalam posisi yang tepat. Perusahaan harus menemukan orang yang tepat di waktu yang tepat.

“Bagaimana kita bisa yakin orang ini merupakan orang yang tepat untuk perusahaan? Salah satu tolak ukurnya adalah ketika orang tersebut bisa berjalan beriringan dengan perusahaan,” tegasnya.

Fail Forward, Jangan Pernah Takut untuk Gagal

#FailForward merupakan tema yang diusung oleh Binar Academy dalam penyelenggaraan digital conference pertamanya, Sabtu lalu (16/03/2019). Dalam konferensi ini, Binar Academy bersama Sinarmas Land dan Tokopedia menghadirkan pembicara-pembicara yang andal di bidang digital, untuk berbagi pengalaman gagalnya.

Selain Ala yang menceritakan secara lugas pengalaman dan kegagalannya dalam membangun bisnis di bidang digital, pembicara lain yang curhat soal kegagalan mereka datang dari para pemain bisnis media. Dalam sesi panel Investigating the Transformation of Media, perwakilan dari Tirto.id, Kumparan, dan Kompas membuka pikiran peserta mengenai makna kegagalan.

Baca Juga : Hadapi Persaingan Dunia Teknologi, Binar Academy Lahirkan Ahli IT Masa Depan

Diawali dari pendiri Tirto.id, Atmaji Sapto Anggoro yang berbagi pengalamannya mendirikan Tirto.id sebagai media online yang menurutnya berbeda dengan media online kebanyakan saat ini. Berita yang mendalam serta bersifat investigatif menjadi pembedanya. Namun sebelumnya, Sapto ternyata pernah membuat sebuah aplikasi messenger yang dinamakan Zohib Messenger dan gagal.

“Kenapa Zohib Messenger bisa gagal? Karena Zohib Messenger seperti What’s App dan Line. Mirip. Itu yang membuat gagal, karena mirip. Kalau Anda membuat sesuatu seperti yang lain, dipastikan tutup! Sehingga saat kami mendirikan Tirto, kami mengusung diferensiasi. Diferensiasi membawa kami dikenal banyak orang,” tutur Sapto kepada para peserta.

Lain halnya dengan Eko Prabowo, Product Marketing Manager Harian Kompas. Di tangannya, harian kompas kini bergerak ke arah digital dengan hadirnya kompas.id. Kompas.id merupakan media online berlangganan yang hadir untuk menjawab tantangan industri media digital.

Upayanya untuk menyentuh warganet agar melek informasi ternyata tak selalu mendapat respon positif. Hal tersebut disadari oleh Eko sebagai gejolak perubahan.

Netizen itu kan ganas-ganas komentarnya. Kritiknya selalu benar karena menganggap kita jelek, apalagi masyarakat belum terbiasa menikmati berita media online yang berbayar (subscription). Setelah hampir satu tahun berjalan, kompas.id baru menyentuh 8 sampai 9 persen pelanggan yang berlangganan. Kami sadar, produk yang kami buat nyatanya memang bukan untuk semua orang. You can’t pleased everyone,” tegasnya.

Menolak beasiswa ke luar negeri serta tawaran gaji yang besar saat ia masih menjadi fresh graduate, demi mengabdi menjadi guru di daerah terpencil dalam Indonesia Mengajar pernah dialami oleh Dhini Hidayati, Head of Collaboration Kumparan.com. Dalam panggung yang sama, Dhini mengungapkan ia merasa beruntung pernah mundur satu langkah untuk berlari 100 langkah jauh ke depan.

“Selama mengikuti Indonesia Mengajar saya banyak ditempa personality-nya. Membuat saya berpikir apa yang saya kerjakan bukan hanya untuk diri saya sendiri. Jangan pernah takut untuk take a step backward. Berpeganglah kepada value yang ada di dalam diri, bukan kepada figur,” tegasnya.

Dari kanan ke kiri :
Eko Prabowo (Product Marketing Manager Harian Kompas),Dhini Hidayati (Head of Collaboration Kumparan.com), Atmaji Sapto Anggoro (Pendiri Tirto.id), Perwakilan Binar Academy, dan Zivanna Letisha Siregar (Moderator).
Dari berbagai pengalaman dan kisah kegagalan yang terangkum dalam Retrospekt!, memberikan peserta wawasan bahwa untuk mencapai titik puncak sangat wajar jika harus mengalami kegagalan. Kehadiran para pembicara memotivasi peserta untuk terus maju dan menjadikan berbagai rintangan sebagai teman.

Kolaborasi Adalah Kunci

Di era digital saat ini, bukan waktunya lagi untuk berkejar-kejaran memenangkan kompetisi. Ini waktunya setiap pemegang kepentingan dalam bisnis digital saling berkolaborasi. Hal ini juga yang ditekankan dalam penyelenggaraan Retrospekt!.

“Transformasi digital saat ini sudah menjangkau berbagai bidang dan mendorong lahirnya startup. Kami melihat potensi Indonesia sangat besar, tetapi sulit bisa terpenuhi secara maksimal jika tidak ada kerja sama antara pemerintah, korporat, dan startup,” ujar Ala.

Baca Juga : Kebiasaan Berkomunikasi Ini akan Membuat Orang-Orang Senang Berkolaborasi dengan Anda

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara turut hadir dan berperan sebagai keynote speaker. Dalam sambutannya yang interaktif, Rudi menekankan pentingnya kolaborasi untuk memajukan ranah digital di Indonesia.

Chief Rudiantara memberikan sambutan dalam pembukaan Retrospkekt! (16/03/2019)

“Pengguna internet di Indonesia semakin bertambah di setiap pelosok negeri hingga melesatnya pertumbuhan startup. Tetapi, dibutuhkan kontribusi semua pihak agar manfaat dari transformasi digital dapat dirasakan secara menyeluruh baik melalui kolaborasi maupun peningkatan pendidikan digital bagi SDM. Saat ini, Kemenkominfo turut berperan serta sebagai fasilitator yang mendukung transformasi digital dalam berbagai sektor,” jelas Rudiantara.

Beri komentar Anda tentang artikel ini