Jangan Remehkan! Kekerasan Verbal Ternyata Lebih Berbahaya dari yang Anda Pikirkan

kekerasan verbal

Anda pasti pernah mendengar komentar yang bersifat mengejek atau merendahkan yang ditunjukkan kepada orang lain atau mungkin kepada Anda sendiri, entah itu dalam konteks bercanda atau emosi sesaat. Lalu, bagaimana Anda membedakan mana yang berbahaya dan tidak? Dilansir dari lifehack.org oleh Sally White, pengertian dari kekerasan verbal adalah “penggunaan berlebihan pada kalimat-kalimat yang bersifat negatif, merusak martabat dan mengancam keamanan orang lain, seperti ejekan atau penghinaan, secara mendadak maupun berulang.”

Contoh kekerasan verbal yang paling umum dan sering ditemui adalah seperti memberikan nama panggilan kasar kepada seseorang, berkomentar kasar, mengejek, sarkasme, mengancam, permusuhan, menyebarkan desas-desus, berteriak dan lain sebagainya. Anda harus berhati-hati, karena bentuk kekerasan verbal lainnya yang tidak terlalu umum justru seringkali terabaikan, karena lebih sering terjadi dalam suatu hubungan pribadi. Jika Anda berpikir bahwa setelah kekerasan verbal dilakukan satu kali, lalu akan membaik setelah dilampiaskan, Anda salah besar. Jangan remehkan kebiasaan menyalah gunakan kata-kata, karena setelah satu kali, dua kali, yang ketiga kali pasti akan terjadi dan menjadi semakin buruk setiap kalinya.

Menurut White dalam artikelnya, statistik menunjukkan bahwa satu dari lima wanita di kampus pernah menjadi korban kekerasan verbal oleh pasangan mereka. “serangan verbal pertama akan membuat Anda lengah. Mungkin Anda berpikir bahwa Anda salah dengar, atau mereka sedang bercanda, atau mungkin Anda hanya kurang memahami mereka. Namun kemudian, perlahan-lahan Anda akan semakin sering menemui insiden seperti ini lebih dan lebih lagi,” tuturnya. Berikut tujuh contoh perilaku yang sudah dapat dipastikan adalah bagian dari kekerasan verbal:

7 Contoh Perilaku yang Merupakan Kekerasan Verbal

Blocking dan Mengalihkan

Ketika Anda sedang mencoba melakukan percakapan dengan pasangan Anda, lalu mereka langsung mencoba mengganti atau mengalihkan topik dari yang Anda ingin bicarakan, atau jika mereka menolak untuk mendiskusikan pokok pembicaraan yang menurut mereka kosong atau tidak ada poinnya, selain tidak menghargai Anda, mereka juga tidak berhak mendapatkan perhatian dari Anda.

Menyalahkan

Segala sesuatu yang salah tampaknya adalah karena kesalahan Anda. Contohnya, jika pasangan Anda tidak dapat menemukan barang milik mereka, mereka akan berpikir bahwa Anda yang memindahkan barang tersebut (padahal kenyataannya tidak), atau ketika mereka lupa dengan janji ke dokter gigi, mereka akan menyalahkan Anda karena Anda tidak mengingatkan mereka. Tidak peduli masalahnya apa, mereka dapat menyerang Anda dan menganggap Andalah yang salah. Mereka menolak untuk bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri.

Baca Juga : Duh, Waspadai Sedari Dini Tindak Kekerasan yang Dilakukan oleh Pasangan

Menyangkal

Pasangan Anda menyangkal segalanya. Tidak, mereka tidak memakan potongan terakhir kue tersebut. Tidak, mereka tidak berselingkuh. Padahal Anda jelas-jelas melihat mereka melakukannya, atau memiliki bukti bahwa mereka melakukannya, namun pada akhirnya mereka tetap menyangkalnya.

Mengkritik

Mereka memberi tahu Anda bahwa semua yang pernah Anda lakukan dalam hidup adalah salah. Semua masakan Anda salah. Pilihan Anda dalam berpakaian sangat culun. Pada akhirnya Anda menjadi bertanya-tanya bagaimana Anda bisa bertahan selama bertahun-tahun dengan membuat pilihan-pilihan buruk seperti itu! Anda harus tahu, itu bukan Anda – itu mereka. Anda tidak akan pernah sepenuhnya sesuai dengan standar imajiner mereka – tidak akan ada yang bisa.

Baca Juga : Ternyata, Rasa Marah yang Anda Alami Bisa Dimanfaatkan Jadi Energi Positif

Memperlakukan Anda Seperti Pelayan

Pasangan Anda berharap Anda langsung mengabaikan apapun yang sedang Anda lakukan dan segera berfokus pada kebutuhan mereka (dan mungkin ternyata kebutuhan tersebut tidak sepenting kerjaan yang sedang Anda kerjakan). Namun, jika Anda tidak melakukannya sesuai dengan keinginan mereka, Anda akan merasa bersalah, padahal di mata mereka pekerjaan atau kebutuhan Anda adalah nomor dua ketika mereka ada di sekitar Anda.

Menghambat

Mimpi dan tujuan yang Anda miliki sejak kecil tidak akan dibantu agar terealisasikan oleh pasangan Anda. Apapun yang Anda rencanakan tidak akan pernah terlihat sesuai dengan mereka, karena sebenarnya mereka tidak ingin Anda bebas mengejar impian Anda dan hal tersebut akan membuat kekuatan mereka atas Anda hilang.

Memberitahu bahwa Anda Gila

Mereka tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, namun mereka memutarbalikkan skenarionya agar mereka terlihat tidak bersalah dan membuat Anda merasa bahwa Anda yang gila. Mungkin kedengarannya gila bahwa Anda dapat tertipu untuk trik semacam itu, namun ketika itu terjadi berulang-ulang, mereka sebenarnya sudah mengontrol pikiran Anda atau bahkan mencuci otak Anda. Pada akhirnya, Anda akan mulai meragukan diri dan perspektif Anda sendiri. Anda bahkan mungkin percaya bahwa Anda mungkin gila. Tidak perlu khawatir, Anda tidak gila kok.

Satu hal penting yang perlu Anda ketahui, sama halnya dengan kekerasan fisik, kekerasan verbal dapat merusak mental dan fisik si korban. Secara mental, Ia akan sangat rentan terkena berbagai penyakit psikologis, seperti depresi, kepercayaan diri rendah, ingatan yang bermasalah, PTSD, eating disorder, masalah tidur, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, melukai diri sendiri dan bahkan bunuh diri atau menjadi seseorang yang melakukan kekerasan verbal. Secara fisik, kekerasan verbal akan menyebabkan migrain, gangguan pencernaan, masalah lambung dan penyakit jantung akibat stres berlebihan. Jika mental Anda sakit, maka tubuh Anda juga akan merasakan sakit.

Lalu, apa yang Anda dapat lakukan jika Anda menemukan diri Anda atau orang terdekat Anda berada di dalam suatu hubungan yang melibatkan kekerasan verbal? Menurut White, pertama, Anda harus memiliki pengetahuan tentang kekerasan verbal dan keyakinan bahwa Anda mempunyai kekuatan untuk dapat mengontrol diri dalam situasi tersebut. Kedua, Anda harus berhenti merespons ‘umpan’ mereka. Katakan pada mereka untuk berhenti, dan Anda juga harus keluar dari permainan mereka. Ketiga, tentukan batas dalam hubungan Anda. Jika mereka melewati batas tersebut, mereka harus melaksanakan konsekuensinya.

Jika Anda merasa tertekan dan merasa butuh mengkomunikasikannya, memberitahu keluarga atau teman yang Anda percaya adalah ide yang baik. Terkadang perspektif dari pihak ketiga dapat membantu Anda melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan Anda. Jika Anda merasa membutuhkan bantuan profesional, Anda selalu dapat mencari bantuan konselor atau psikiater. Namun, bagaimana pun kerasnya orang lain berusaha membantu dan mendorong Anda, hanya Anda yang dapat mengontrol hidup Anda dan memutuskan apa yang terbaik bagi Anda, termasuk ketika sebelum Anda ingin mengkritik seseorang, ingatlah bahwa Anda selalu memiliki kekuatan untuk mengontrol pedang Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here