Pemerintah Targetkan Kesenjangan Gender Tenaga Kerja Turun 25 Persen

Isu kesenjangan gender dalam dunia kerja terus menjadi perhatian pemerintah. Kementrian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menegaskan target pemerintah untuk menekan tingkat kesenjangan gender hingga 25 persen pada tahun 2025. Optimisme ini dikemukakan Sekretaris Jenderal Kemenaker Anwar Sanusi dalam keikutsertaannya pada pertemuan virtual G-20 Employment Working Group (EWG), di Jakarta. 

Seperti dilansir Kompas.com, pemerintah siap menerapkan beberapa strategi untuk mencapai target pemangkasan kesenjangan gender dalam dunia kerja ini. Salah satunya, kemudahan akses dan mobilitas bagi setiap untuk memperoleh pelatihan, bantuan modal, pembinaan kewirausahaan, perlindungan sosial, serta lingkungan kerja yang kondusif bagi kelompok bukan angkatan kerja.

“Dalam pencapaian Brisbane Target, Indonesia optimis mencapai angka 25 persen untuk tingkat kesenjangan gender pada partisipasi angkatan kerja tahun 2025. Khususnya bagi mereka yang mengurus rumah tangga, pastinya dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan tingkat partisipasi angkatan kerja, baik wanita maupun laki-laki, dan dapat menurunkan tingkat kesenjangan partisipasi angkatan kerja,” ujar Anwar. 

Baca Juga: Begini Syarat & Cara Mendaftar Program Kartu Prakerja

Target ini meningkat setelah tahun 2020 lalu Indonesia berhasil menurunkan tingkat kesenjangan gender dalam dunia kerja hingga 29,28 persen. Melalui data Global Gender Gap Report (GGGR) 2020, Indonesia mengalami peningkatan signifikan terkait peran perempuan memegang posisi kepemimpinan. Yakni, sebesar 55 persen dibandingkan laki-laki sebesar 45,1 persen.

Namun, peningkatan kesetaraan gender di tingkat kepemimpinan belum diikuti dengan sektor-sektor lainnya di dunia kerja. Menurut GGGR 2020, kesenjangan gender masih terjadi di sektor partisipasi kerja. Yaitu, kaum perempuan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan kaum laki-laki, yakni 54,3 persen. Sementara, sebesar 83,9 persen dikuasai oleh laki-laki.

Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kesenjangan gender di sektor formal juga masih terjadi. Pada tahun 2018, partisipasi kerja di sektor formal oleh perempuan Indonesia hanya sebesar 38,10 persen, sementara laki-laki 46,10 persen.

Perbandingan kesetaraan gender di dunia kerja pada tahun 2019 menunjukkan hanya 39,19 persen pekerja perempuan, sementara laki-laki 47,19 persen. Tahun lalu, pekerja formal perempuan tercatat ada 34,65 persen, sementara laki-laki 42,17 persen.

Untuk itu, selain memberikan akses pelatihan kerja dan bantuan modal, keseriusan pemerintah menekan kesenjangan gender juga melalui Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Anwar menjelaskan UU Cipta Kerja memberikan reformasi bagi implementasi program perlindungan sosial dan dukungan investasi untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja menjadi upaya pemerintah dalam menghadapi rintangan di bidang ketenagakerjaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here