Kesuksesan Konten Marketing: Tidak Harus Viral, Tapi…

Kesuksesan Konten Marketing : Tidak Harus Viral, Tapi...

Dalam bidang digital marketing, konten menjadi salah satu bagian terpenting tentu saja setelah ide dan strategi marketing yang sudah dijalankan sebelumnya.

Konten marketing yang efektif, yaitu ketika dapat langsung menyentuh target pasar yang diharapkan oleh brand. Membuat konten tidak semudah yang dipikirkan dan dilakukan saat ini: yang penting viral!

Tidak selamanya konten yang efektif itu harus viral. Inilah yang dituturkan oleh Ray Rahendra, seorang digital strategist yang memiliki kepedulian terhadap komunitas digital marketing daerah.

Yuk, Simak Obrolan Job-Like Magazine dengan Ray Rahendra

Yuk, Simak Obrolan Job-Like Magazine dengan Ray Rahendra
Ray Rahendra, Digital Strategist

Bagaimana sih caranya membuat konten marketing yang efektif ?

Sebelum bikin konten, kita harus melakukan riset untuk mengetahui jenis produk dan target konsumen. Setelah itu kita baru bisa bikin strategi pemasarannya seperti mau bikin campaign yang seperti apa dan berapa lama.

Konten marketing yang ada saat ini, menurut Ray seperti apa ?

Menurut saya konten marketing saat ini cenderung diidentikkan dengan “viral”. Banyak yang berpikir, konten yang bagus pasti viral padahal nggak juga. Masih banyak yang tidak mengerti bagaimana mengolah kontennya. Karena kebanyakan perusahaan atau brand menyerahkan sepenuhnya kepada content writer. Banyak kasus, pemilik brand malah menyerahkan kepada content writer sepenuhnya. Yang penting aktif dan murah. Paradigma digital marketing itu murah, salah sebenarnya.

Selama berkarier sebagai digital strategist, bagaimana sih cara Ray menggali ide untuk membuat konten?

Hmm… Biasanya saya sering mendatangi teman-teman yang bekerja di agency untuk melihat beberapa data yang diperlukan. Pencarian data merupakan salah satu tantangan bagi digital strategist di Indonesia. Untuk penggodokan strategi umumnya memerlukan waktu 1 bulan. Tetapi karena di Indonesia semua harus serba cepat akhirnya diperpendek menjadi dua sampai tiga minggu. Memang jadi mepet banget sih, tetapi lama-lama terbiasa kok.

Menurut Ray, konten yang berhasil itu seperti apa?

Sepengalaman saya dalam pembuatan konten, konten yang berhasil itu adalah konten yang selalu menjadikan brand as a hero. Apapun yang terjadi, brand tersebut selalu diutamakan. Misalnya, brand sebuah makanan terkenal selalu menjadikan makanan tersebut sebagai “penyelamat” di apapun keadaannya.

Baca Juga: Ditinggal Milenial, Ini Cara Agung Hapsah Gali Ide Konten

Ray kenapa suka membuat konten dengan berbagai platform yang berbeda ?

Sebenarnya ini bagian dari pembelajaran juga sih. Kalau kita menunggu ada yang bayar, ya nggak jalan-jalan. Misalnya, saya lagi ingin membuat konten tentang SEO (Search Engine Optimization), bikin aja dulu sendiri. Daripada kita “merombak” website orang lain lebih baik bikin sendiri aja.

Kamu cukup percaya diri juga ya, Ray?

Gini deh. Sekarang pola pikirnya, kalau kita nggak percaya diri, gimana orang-orang mau percaya sama kita yang punya skill bagus? Fake it until you make it. Mulai aja dulu, yang penting orang jadi tahu. Jangan belum apa-apa sudah takut. Itu namanya nggak membuka kesempatan untuk diri sendiri.

Apa yang mau kamu sampaikan kepada para pegiat digital marketing saat ini?

Jika kita memahami dengan baik dan bisa menggunakannya secara optimal, sebenarnya ada banyak manfaat dari penggunaan digital marketing saat ini. Sebelum momennya hilang, yuk kita manfaatkan terutama bagi anak-anak muda di Indonesia. Karena pasarnya masih sangat terbuka lebar hingga 15 tahun ke depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here