Jadi Agen Asuransi Itu Ibarat Menanam Kebaikan Hidup, Nggak Percaya?

Yuliana Sungkono, Founder/Business Director Jakarta Star Providence. (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

“Proses tidak akan mengkhianati hasil.” Percayakah kamu dengan kutipan ini? Sudah banyak orang sukses yang harus berjibaku terlebih dahulu sebelum mencapai titik suksesnya. Termasuk yang dialami mantan agen asuransi, Yuliana Sungkono, yang kini menjadi Founder/Business Director Jakarta Star Providence. 

Kariernya sebagai seorang leader tak ia raih hanya dengan membalikkan telapak tangan. Yuliana merangkak sebagai agen asuransi selama 13 tahun sebelum akhirnya berdiri sebagai seorang leader. Selama empat tahun terakhir sebagai leader di Generali Indonesia, Yuliana kini memimpin 500 agen di empat cabang yang berlokasi di Jakarta, Jambi, Surabaya dan Banjarmasin.

Nah, seperti apa proses panjang yang dilalui Yuliana untuk menuju kesuksesan? 

Proses terpenting, yaitu mengubah kebiasaan diri. Tahukah kamu, semua orang sukses memiliki kebiasaan bangun pagi? Ya, menurut Yuliana, gaya hidup sehat adalah kunci dari kesuksesan aktivitas yang akan dilakukan setiap harinya. 

Dengan mengawali aktivitas sejak pagi hari, kamu berpeluang melahirkan lebih banyak ide sebelum bertemu dengan klien. Efek positif lainnya, kebiasaan sehat di pagi hari akan mengalirkan semangat kerja. Menjaga semangat kerja sangat penting di dunia asuransi yang rentan dengan penolakan. 

Kepada rekan-rekan agen Generali yang ia temui di acara Generali Monday Breakthrough (GMB), Yuliana juga menegaskan pentingnya kemampuan untuk menjaga perasaan ketika mengalami penolakan dari klien. Penolakan tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk gundah gulana, melainkan introspeksi diri atas pendekatan yang dilakukan kepada klien.

“Dalam sebuah proses pasti ada penolakan. Ketika saya meng-handle perasaan, saya bisa kuat. Jadi, saya harus tetap berpikir positif. Ketika penolakan terjadi berarti ada sesuatu yang salah dengan cara presentasinya. Tugas agen yang terpenting itu mendengarkan klien. Ketahui apa kebutuhannya. Agen cukup berkata 1, 2, 3 kata saja,” ujar Yuliana.

“Bertemu banyak orang juga penting, itu bagian dari proses. Aktivitas yang kita lakukan setiap hari tidak akan membohongi hasil yang akan kita terima nantinya. Ibaratnya, seperti pisau yang semakin tajam, saya berlatih bagaimana mengatasi klien, apa yang klien mau, sehingga akhirnya saya melihat jualan itu gampang dan menyenangkan,” lanjutnya.

Baca Juga: Kembangkan Karier Lewat International Mobility, Gimana Caranya Ya?

Menjual Polis Asuransi Ibarat Menabung Kebaikan dalam Hidup

Yuliana (kiri) mendapatkan 5 certificate of achievement penjualan dari Generali Indonesia & Wianto Chen (Agency Group Head/Director Generali Indonesia). (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Sukses menarik klien untuk bergabung dengan asuransi yang ditawarkan jelas target yang ingin dicapai setiap agen. Namun, Yuliana mengatakan ada baiknya setiap agen memiliki pendorong hidup yang lebih humanis, bukan hanya sekadar mengejar komisi penjualan. 

Menurutnya, hidup bukan hanya mengenai uang. Motivasi yang lebih humanis penting untuk dimiliki sehingga rezeki pun akan lebih lancar. Yuliana mengatakan agen asuransi memiliki misi kemanusiaan untuk menyelamatkan jiwa klien melalui proteksi yang ditawarkan.

“Selain komisi, ada sesuatu yang harus diberikan kepada orang. Contohnya, dengan beli asuransi ke saya, berarti saya menyelamatkan satu jiwa, saya pun menabung kebaikan di atas. Itu yang mendorong saya untuk terus bergerak,” tuturnya.

“Saya selalu melangkah untuk berbuat baik kepada orang lain, bukan untuk diri sendiri saja. Sehingga otomatis kondisi akan mengikuti saya. Tapi, ketika saya berpikir komisi harus mengikuti saya, ya, saya akan banyak kecewa,” ujarnya.

Nah, bagaimana agar polis yang ditawarkan bisa menarik klien untuk bergabung?

Kembali lagi, agen harus memiliki kemampuan komunikasi dan mendengarkan yang baik. Datanglah kepada klien dengan motivasi untuk memberikan proteksi yang sesuai dengan kebutuhan klien, bukan memaksakan produk yang diinginkan sang agen.

Baca Juga: Morning Inspiration, Memotivasi Karyawan Generali Bermimpi Lebih Tinggi

Belajar untuk bersikap tulus dalam membantu klien menemukan proteksi diri yang tepat harus dilakukan setiap agen. Bila mindset ini ditanamkan dalam diri setiap agen, niscaya proses penawaran polis akan lebih lancar, dan imej agen asuransi pun akan lebih bersahabat di mata klien.

“Imej agen asuransi itu jelek karena ada maunya, yaitu menawarkan asuransi. Padahal, seperti yang saya katakan tadi, saya ingin membantu mereka. Ketika bertemu orang, saya membuka mindset-nya, kenapa ia harus spend money untuk kebutuhan masa depannya.

Perjalanan karier Yuliana selama hampir 19 tahun sejak memulai sebagai agen jelas tidak mudah. Namun, sejak ia bergabung dengan Generali, ibu dari dua orang anak ini merasakan kehidupannya lebih bahagia dan hidup. Produk yang inovatif serta didukung manajemen Generali yang fleksibel, membantu Yuliana melebar sayapnya dengan merekrut 500 agen.

“Saya nggak pernah kepikiran bisa merekrut banyak orang. Tapi, saya percaya ketika dalam perusahaan ada sistem, ada satu desire, itu akan mempermudah. Selama empat tahun ini saya lebih happy karena produk di sini lebih inovatif, sistemnya easy dan manajemennya nggak kaku. Saya jadi lebih powerful dan tahu apa sih impian saya selama ini,” tutur Yuliana.

Tertarikkah kamu menjadi suksesor Yuliana bersama Generali?

Dukung Mereka!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here