Hasil Tak Khianati Kerja Keras, Ia Bukti Hidup Perjuangan Anak Milenial

Motivasi terbesar Riki Sonjaya, operational director Young on Top, adalah membahagiakan keluarga. (Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

“Ki, isi hotel teh kumaha nya, itu kalau mama ada di dalam, dalamnya kayak gimana?”

“Percakapan itu terjadi ketika saya masih sekolah. Saya berpikir, ‘One day mamaku harus bisa menginap di sana’,” cerita Riki Sonjaya kepada Job-Like Magazine.

Terwujudkah mimpi Riki Sonjaya membawa sang bunda merasakan nikmatnya menginap di sebuah hotel di Bandung?

Tidak sekadar menginap di hotel impian, kerja keras Riki Sonjaya justru berhasil menjamin kesejahteraan keluarga besarnya. Kini dengan statusnya sebagai operational director Young on Top, Riki Sonjaya juga menjadi bukti hidup ketangguhan anak muda Indonesia dalam meniti tangga sukses.

“Hasil Tidak Akan Mengkhianati Kerja Keras”

Perjuangan Riki selalu dilandasi dengan pedoman hidupnya bahwa hasil tidak akan mengkhianati kerja keras.

Untuk mencapai kariernya saat ini, Riki memang telah memeras keringat bertahun-tahun. Kerja keras pertama ia tunjukkan di ranah pendidikan. Ia memastikan diri sebagai orang pertama dari silsilah keluarga yang duduk di bangku kuliah. Kedua orangtuanya hanya tamatan Sekolah Dasar, sementara kakaknya terhenti di jenjang Sekolah Menengah Pertama.

Kerja keras Riki menamatkan kuliah Mechanical Engineering di Politeknik Negeri Bandung menjadi pondasi kariernya terjun ke perusahaan tambang batu bara. Setelah empat tahun bekerja untuk Pamapersada Nusantara sebagai HSE Officer, Riki hijrah ke perusahaan minyak dan gas, Karebet Mas Group, sebagai HSE Manager.

“Saya berpikir bahwa saya yang harus mengubah rantai (pendidikan). Jangan sampai generasi saya ke bawah tidak ada yang kuliah. Itu alasan pertama perjuangan saya. Kedua, misi saya adalah bisa membahagiakan orangtua. Saya punya keluarga yang harus saya banggain. Itu motivasi terbesar saya hingga sekarang,” tutur Riki.

“Di sekolah saya ngga suka IPA atau Biologi. Saya sukanya akuntansi. Tapi, saya mengambil IPA karena konon kata orang, orang IPA itu jauh lebih sukses. Benar ngga ya? Katanya begitu (haha). Kalau bicara passion bekerja, saya suka entertaiment. Tapi saya kerja di tambang karena konon gajinya lebih besar. Siapa yang tidak mau gaji besar?”

Faktor finansial diakui Riki sebagai pemicu utama di awal kariernya. Tapi, motivasi keuangan bukan lagi yang utama semenjak ia bergabung dengan Young on Top. Baginya yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia menghidupi jiwanya dengan membantu anak-anak muda Indonesia.

Baca Juga: Generasi Milenial Indonesia Butuh Satu Pondasi untuk Meniti Sukses, Ini…

Melalui pengalaman hidup dan kariernya yang tak mudah, Riki yang bergabung dengan Young on Top sejak 2015 ini berharap turut memberikan efek positif bagi pertumbuhan generasi muda Indonesia yang lebih kuat. Misi sosial demi masa depan anak bangsa lebih ia prioritaskan ketimbang urusan uang semata.

“Tuhan itu baik. Setelah apa yang saya perlukan terpenuhi, Tuhan memberikan saya pekerjaan yang saya sukai. Alhamdullilah sudah cukup, orangtua cukup, saya cukup. Sekarang saya bisa memikirkan bagaimana jiwa saya yang hidup,” ucapnya.

“Bergabung di Young on Top, saya tidak mencari karier, tidak mencari uang, tapi bagaimana hati dan jiwa saya hidup. Bagaimana experience saya bisa saya kembangkan ke anak muda, sehingga tidak menjadi anak muda yang cenggeng.”

Young on Top merupakan komunitas yang memberikan inspirasi bagi anak muda untuk berkarya dan tumbuh menjadi generasi muda Indonesia yang lebih tangguh. Awal kemunculan Young on Top pada 2009 berupa buku yang ditulis Billy Boen, selaku founder, dengan judul yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here