Koding Next: Siapapun Bisa Belajar Koding, Kamu Juga Bisa!

Koding Next : Siapapun Bisa Belajar Koding, Kamu Juga Bisa!
Bartek Wasik, Founder Koding Next (Foto : Kiky/Job-Like Magazine)

Biasanya, ada dua tipe siswa pada sebuah sekolah koding. Pertama, mereka yang ingin menjadikan koding sebagai keterampilan tambahan. Mereka bukan ingin menjadi programmer. Mereka bisa saja pebisnis, dokter, ataupun designer. Siswa tipe pertama ini ingin memanfaatkan koding sebagai penunjang dari kegiatan bisnisnya. Mereka ingin membuat website maupun aplikasi sendiri bagi bisnisnya.

Tipe siswa kedua yaitu mereka yang memang profesional di bidang ini. Mereka ingin menjadi seorang programmer. Mereka belajar koding secara bertahap sampai bisa menjadi Junior Programmer dan siap untuk memenuhi permintaan pasar talent di bidang IT.

“Koding bukan hanya untuk mereka yang ingin menjadi programmer. Koding itu untuk semua orang,” tutur Bartek Wasik, Founder Koding Next.

Bartek sudah 15 tahun menetap di Indonesia. Sepanjang kariernya, ia berkecimpung di dunia pendidikan mulai dari jadi guru hingga dosen. Tahun 2017, ia menggagas dan mendirikan Koding Next, sekolah koding yang memfasilitasi belajar koding dan pemrograman mulai bagi anak usia 4 tahun hingga dewasa.

Koding Next memiliki tiga tingkatan program; Little Koders, Junior Koders, dan Pro Koders. Bartek menyadari bahwa Indonesia merupakan pasar yang tepat untuk menumbuhkan bisnis pendidikan dan teknologi, apalagi populasi kaum mudanya mencapai 50 persen dari total populasi.

“Saat ini, jika kamu melamar pekerjaan dan hanya mencantumkan keahlian Microsoft Word dalam CV, percayalah perusahaan tidak akan melirik keahlian itu lagi. Koding merupakan salah satu keahlian yang dibutuhkan saat ini. Keahlian tersebut akan mudah untuk dijual ketika mencari pekerjaan,” kata Bartek ketika ditemui Job-Like Magazine di Koding Next Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Melihat bertumbuhnya industri yang mengandalkan koder dalam perjalanan bisnisnya, menjadi salah satu alasan Bartek mendirikan Koding Next. Ia sudah melihat adanya peluang itu di Indonesia sejak empat atau lima tahun yang lalu.

“Indonesia sangat potensial karena Indonesia masih menjadi negara berkembang sehingga banyak potensi yang dapat dikembangkan di Indonesia. Termasuk bisnis pendidikan teknologi ini.”

Pemilihan nama Koding Next memiliki arti masa depan. Sekolah koding ini ingin mengajarkan keterampilan yang akan sangat dibutuhkan baik di masa kini maupun masa depan. Sekolah koding yang berlokasi di Kemayoran dan Pantai Indah Kapuk ini, juga turut mengedukasi orang tua siswa agar memahami pentingnya belajar koding bagi anak mereka.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh salah satu sekolah koding di Polandia, menyebutkan bahwa anak-anak di Indonesia lebih cepat belajar daripada anak-anak di Eropa. Menurut Bartek, anak-anak di Indonesia sangat digital native.

“Jika anak-anak sedari dini sudah mampu dan andal dalam pemrograman, maka mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang baik di Indonesia maupun di luar negeri. Karena keterampilan ini memang sedang banyak dicari oleh perusahaan maupun startup,” lanjutnya.

Menjadi Solusi untuk Mengisi Kekurangan Tenaga Programmer di Indonesia

Koding Next saat ini memiliki 800 siswa. Tak hanya ingin mencetak para programmer yang unggul, Koding Next juga siap bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk korporasi dan startup untuk menyediakan talenttalent yang andal di bidang teknologi.

Penyelenggaraan waktu kursus dalam waktu singkat, menjadi keunggulan yang ditawarkan oleh Koding Next.

“Siswa kami belajar untuk satu program selama tiga bulan atau sekitar 2.070 jam. Mereka menghabiskan delapan jam per hari untuk belajar. Dalam waktu tiga bulan mereka sudah siap menjadi Junior Programmer dan siap untuk bekerja dalam korporasi maupun startup,” ungkap pria asal Polandia ini.

Keberadaan sekolah koding seperti ini, seharusnya bisa membantu dunia bisnis saat ini mendapatkan talenttalent IT berkualitas. Saat ini, Indonesia sendiri kekurangan sekitar 20 ribu programmer. Tak hanya Indonesia yang mengalami krisis talent IT, melainkan juga di beberapa negara berkembang lainnya.

Baca Juga : Kesempatan Teman Tuli Pelajari Koding di Coding Bootcamp

Staf Koding Next di kantor Kemayoran (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Hal ini membuat mereka (negara-negara berkembang) mengambil tenaga kerja dari negara-negara yang unggul dalam bidang IT seperti Amerika Serikat, Tiongkok, India, serta negara-negara di Eropa Timur seperti Polandia, Kroasia, dan Rusia.

“Yang bisa dilakukan untuk menangangi masalah krisis SDM ini antara lain perusahaan bisa menggelar berbagai pelatihan bagi para karyawan untuk menambah wawasan dan keterampilan tentang pemrograman. Instansi pendidikan seperti universitas juga bisa menambah waktu kursus mereka,” ungkapnya.

“Tetapi, itu saja tidak cukup karena populasi terus bertambah dan penggunaan teknologi juga semakin berkembang sehingga masih memungkinkan terjadinya kesenjangan.”

Tak Hanya Tersentralisasi di Kota Besar, Koding Next Akan “Blusukan” ke Daerah-Daerah

Tolak ukur keberhasilan dari program yang disediakan oleh Koding Next antara lain para siswa nantinya bisa menjalankan bisnisnya sendiri dan dapat memberikan solusi teknologi bagi dunia bisnis.

“Karena bidang ini sangat luas, kami tidak bisa melakukan ini sendirian. Kami membutuhkan partnership dan peran serta dari berbagai institusi,” harap Bartek.

Tahun ini Koding Next akan membuka tiga hingga empat sekolah koding baru di Jakarta. Bartek pun sudah merencanakan untuk membuka kerja sama antar daerah seperti di Bali dan Surabaya. Untuk kerja sama internasional, Koding Next tengah menjajaki partneship dengan mitra yang ada di Polandia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Alumnus De Monfort University ini juga ingin membuka sekolah koding tak hanya di kota-kota besar. Bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Koding Next akan melakukan sosialisasi terkait pembelajaran koding ke beberapa daerah. Rencana ini akan dilakukan dalam waktu tiga bulan mendatang.

Daerah-daerah yang akan disambangi selain Pulau Jawa yaitu wilayah timur Indonesia antara lain Timor, Flores, dan Maluku. Tak hanya bekerja sama dengan PKBM, Koding Next juga akan memfasilitasi daerah-daerah kecil lainnya dengan pengadaan ‘truk koding’.

Truk koding memfasilitasi anak dan remaja di beberapa daerah kecil untuk belajar mengenai pemrograman sederhana. Truk ini membawa peralatan multimedia dan buku-buku mengenai bahasa pemrograman dan koding.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here