Label Ini Melekat Erat pada Karyawan yang Sering Pindah Kerja

Setiap keputusan untuk resign alias pindah kerja tentu melalui proses perenungan cukup panjang. Namun, begitu banyak label negatif melekat pada orang yang sering pindah kerja. Padahal, belum tentu hal-hal tersebut benar-benar menjadi alasan mengapa seseorang resign. Berikut beberapa cap negatif yang kerap mudah sekali dihubungkan pada si kutu loncat.

Dicap Tidak Loyal

Seseorang yang sering pindah kerja paling mudah dicap sebagai karyawan yang tidak loyal. Mungkin secara kasat mata sifat suka berpindah-pindah kerja dianggap mudah tidak puas pada perusahaan. Sementara loyalitas sendiri adalah elemen penting yang sangat dibutuhkan perusahaan dari karyawannya.

Tidak semua orang yang mudah berpindah kerja adalah karyawan kurang loyal. Kalau ketidakpuasaan yang ia miliki ternyata beralasan, rasanya pindah ke tempat yang lebih baik adalah hal yang wajar. Seseorang yang sudah memberikan kinerja paling baik dan tak kunjung mendapat kenaikan gaji atau promosi hanya karena kurang senior bisa menjadi alasan kuat bagi orang tersebut untuk pergi.

Sosok yang Mudah Merusak Hubungan Profesional

Ibarat pernikahan, karyawan yang sudah menandatangani surat kontrak berarti sudah sudah terikat pada keprofesionalan dalam bekerja. Surat kontrak mewakili elemen tanggung jawab, kepercayaan, dan profesionalitas dalam kerja. Nah, karyawan yang kerap resign akan dicap terlalu mudah merusak hubungan profesional tersebut.

Hal ini juga belum tentu sepenuhnya benar. Pasalnya, hubungan profesional seorang karyawan tidak bisa diukur dari seberapa sering dia berpindah kerja. Sekali lagi, pertimbangan untuk resign tentu telah melalui banyak proses, bukan sekadar asal memutuskan hubungan kerja. Justru seseorang yang benar-benar memahami dan menghargai kontrak kerjalah yang mampu membuat keputusan untuk pindah kerja di waktu yang tepat.

Baca Juga: Bergaji Besar tapi Resign, Apa Pemicu Fenomena Ini?

Dianggap Tidak Sabar dalam Proses Berkembang

Rasa tidak pernah puas kerap menjadi label yang menghampiri karyawan yang sering pindah kerja. Ia begitu mudah dihakimi dengan narasi-narasi seperti tidak sabar, tidak tahan banting, hingga tidak mau beradaptasi. Apakah hal ini benar adanya?

Pada dasarnya, setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru. Ada yang betah berlama-lama di kehidupan kerja monoton, ada yang kurang merasa berkembang di tempat kerja yang lambat, hingga ada yang merasa selalu butuh tantangan. Proses berkembang setiap orang tentu berbeda. Itu sebabnya, kurang pas jika mudah sekali mengahakimi orang yang kerap resign dengan alasan tidak sabar dalam proses berkembang.

Karyawan yang Sering Pindah Kerja Dinilai Tidak Tahu Arah Kariernya

Terakhir, ada juga segelintir orang yang mudah mencap karyawan gemar pindah kerja sebagai orang yang bingung akan kariernya. Ibarat “kutu loncat”, setiap tidak betah di tempat satu akan mudah berpindah ke tempat lain. Lagi-lagi, hal ini tidak sepenuhnya benar.

Bingung akan arah karier bukan hanya dimiliki oleh orang yang sering berpindah kerja. Orang-orang yang bertahan lama di satu perusahaan kadang juga memiliki kegundahan yang sama, hanya saja mereka memilih untuk bertahan di tempat lama tanpa mencari tahu keinginan yang sesungguhnya.

Mungkin bisa dikatakan bahwa mereka yang sering berpindah kerja juga sedang berusaha mencari tahu arah karier dengan mencoba peruntungan baru hingga nanti menemukan jawabannya.

Seberapa sering kita membuat cap negatif pada mereka yang sering pindah kerja? Ingat, para “kutu loncat” tersebut tidak sepenuhnya tak sungguh-sungguh dalam bekerja. Kita hanya kurang bisa memahami jalan pikiran mereka saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here