Ini Kisah Sukses Business Partner Ralali.com Pasca Gagal di 7 Startup

Peter Wijaya, Business Partner Ralali.com, meretas sukses dari kegagalan. (Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Kegagalan tak perlu menjadi ratapan. Kegagalan sejatinya asa menuju kesuksesan. Tujuh kali gagal membangun startup, Peter Wijaya mulai mengecap rasa manis bersama Ralali.com.

Bagaimana Peter yang kini memegang posisi Business Unit Head di Ralali.com ini bangkit dari kegagalan? Apa yang mendorong ia tak menyerah meski bisnisnya bertubi-tubi kandas di tengah jalan?

Yuk, intip kisah tangguh Peter yang ia ceritakan kepada Job-Like Magazine di kantor Ralali.com.

Peter Wijaya: Jangan Batasi Mindset, The Mindset is The Limit

Menyamakan visi dan mimpi tim penting untuk mencapai tujuan. (Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Sebelum bergabung bersama Ralali.com, e-commerce business-to-business, startup apa saja yang telah Peter geluti?

Pertama saya bikin magang.id. Awalnya ngeri karena background saya seorang HR. Tetapi saya menyukai teknologi dan mulai merambah ke bisnis. Dari magang.id saya banyak belajar dari chemistry dengan anak-anak magang dan perusahaan. Tapi akhirnya saya tutup karena susah untuk di-monetize. Kami sepakat ini hanya autopilot.

Saya sudah tujuh kali gagal di multi industri. Di 2015 ada namanya Parcel Day. Itu same day delivery. Justru sebelum adanya Gojek, Go Send atau Grab Express, saya sudah buat terlebih dahulu untuk mobil dan motor. Sama seperti yang dilakukan Gojek ada dimensi maksimum untuk diletakkan di belakang.

Saya juga terjun ke industri logistik, lawyer, dan travel. Saya bikin semacam review travel dan bekerja sama dengan pemerintah (daerah, Red). Tapi ternyata susah jadi saya bikin yang lain.

Setelah berkali-kali mengalami kegagalan, apa yang mendorong Peter menolak untuk mengibarkan bendera putih?

Saya ingin banget berhasil. Jadi ketika melakukan sesuatu dan gagal, saya akan mencoba hal lain. Mengapa saya ngotot, karena saya ingin setidaknya sekali dalam hidup saya bisa berhasil membangun sebuah perusahaan.

Meski harus melewati kegagalan bagi saya tidak masalah karena saya punya goal dalam hidup. Merintis bisnis itu susah. Ketika tidak ada tim, saya harus bekerja sendiri. Saya belajar bagaimana programming, desain, membuat konten, padahal background saya seorang HR.

Baca Juga: Ingin Bekerja di Bidang Marketing? Ini Tips Sukses dari Pakarnya

Sekarang di Ralali, peran yang Peter emban pun berbeda. Bisa diceritakan tugas seorang business partner dan evangelist?

Business partner konsepnya adalah ketika founder atau ceo butuh sesuatu dan saya akan bantu mewujudkannya. Terkadang mereka hanya memberikan arahan dan saya yang harus merancang dari awal.

Misal, mereka ingin membangun akademi untuk anak magang yang berkaitan dengan teknologi, Tech Academy. Nah, saya harus memikirkan bagaimana caranya, membuat kurikulum, mencari orang-orangnya, dan segala macam.

Mengenai saya sebagai evangelist, sebuah startup perlu evangelist untuk menyebarkan berita mengenai startup tersebut, dan untuk itu ia harus percaya dengan produk dan teknologinya.

Sebagai business partner Ralali.com yang harus membangun program dari nol, bagaimana cara Peter membentuk karakter tim agar solid ketika menjalankan proyek?

Tim saya ada 40 orang. Saya percaya harus ada kedekatan batin antar anggota tim. Mereka harus punya visi dan mimpi yang sama dengan saya. Saya selalu share itu sehingga menjadi mindset mereka. Begitu mindset sudah sama maka pekerjaan akan lebih enak karena mereka tidak akan masalah ketika harus bekerja pada Sabtu dan Minggu. Mereka juga tahu urgensi-nya mengapa harus bekerja dengan cepat.

Ada empat hal penting yang harus dimiliki karyawan Ralali.com. Customer obsessed, ia harus obsessed dengan customer dan rekan kerjanya. Lalu, harus fleksibel. Mereka harus tahu ketakutan di startup adalah kecepatan waktu karena kompetitor bergerak dengan cepat. Jadi harus fleksibel ketika ada yang harus diubah dalam pekerjaannya.

Ketiga, respect others. Di sini tidak ada batasan, kita diberi kebebasan untuk berpendapat dengan C-level lainnya atau manager. Namun tetap harus profesional dan respect others. Terakhir, excellence.

Berdasarkan pengalaman Peter mencoba beragam bisnis di multi industri, apa trik untuk menemukan ide-ide bisnis baru?

Saya senang dengan kalimat ‘the mindset is the limit’. Biasanya orang bilang sky is the limit. Saya percaya mindset adalah limit. Kita tidak boleh membataskan mindset kita.

Ide-ide baru muncul ketika tidak sengaja, di tengah observasi, menganalisa, atau ngobrol dengan teman. Ide-ide baru muncul karena kita banyak berkomunikasi dan mendapatkan ilmu baru. Biasakan untuk lebih banyak mendengarkan apa yang diinginkan publik, apa kesulitannya. Justru kita tidak boleh membiasakan diri dengan asumsi. Ide muncul sebagai gabungan asumsi kita dengan kenyataan di lapangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here