Marko: Aplikasi yang Hadirkan Pasar ke dalam Genggaman

Marko: Aplikasi yang Hadirkan Pasar ke Dalam Genggaman
Ari Mulyo Nugroho, Co-Founder Markopelago

Bermula dari obrolan santai, ide Markopelago ini tercetus. Maraknya perkembangan e-commerce di Indonesia, membuat Arimulyo Nugroho “gatal” antara ingin ikut terjun ke e-commerce yang saat ini tengah meraksasa atau menciptakan pasar baru yang tidak serupa.

Ia dan rekan-rekan nongkrongnya, memilih yang kedua.

Dilatarbelakangi keprihatinan melihat makin derasnya produk impor yang masuk melalui pasar e-commerce, menjadi ide awal berdirinya Markopelago. Markopelago merupakan platform yang ditujukan untuk mengakomodasi para penjual dan produsen skala kecil, yang sepak terjangnya masih di dalam ruang lingkup pasar tradisional.

Ya, masyarakat Indonesia tidak pernah lepas dari kebutuhan yang ada di pasar karena itu semua merupakan kebutuhan primer yang tak bisa ditangguhkan. Oho, begitu sapaan akrab Nugroho, menjadikan ini sebagai sebuah narasi bahwa produk lokal mampu bersaing dengan produk impor.

“Konsepnya bagaimana membantu teman-teman di luar sana untuk memperluas cakupan marketingnya. Jadi, mereka bisa bersaing dengan produk-produk yang ada di e-commerce. Apalagi sudah mulai terlihat bahwa anak-anak muda saat ini lebih bangga menggunakan produk lokal dibandingkan mereka menggunakan produk luar negeri,” jelas Oho.

Januari 2019, Markopelago akhirnya merilis aplikasi ‘Marko’ yang ditujukan untuk memudahkan para penggunanya dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar. Melalui aplikasi Marko, pengguna diajak ke dalam pengalaman berbelanja di pasar secara digital.

Saat ini, aplikasi Marko melayani pembelian produk-produk yang ada di pasar tradisional seputar Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang Selatan. Produk-produk pasar yang dibeli melalui aplikasi, akan diantarkan langsung oleh kurir Marko kepada konsumen. Marko memiliki 30 orang kurir yang akan melayani pengiriman barang.

Baca Juga: Di Balik Misi Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Tanijoy

“Sejak awal launching sejauh ini, kami sudah mulai melakukan transaksi. Ini kan startup yang perlu ada improvement dan konsepnya pun bisa berubah serta menyesuaikan dengan apa yang ada di lapangan. Kami pun mulai menyesuaikan dengan permintaan pasar,” tuturnya.

“Kami ingin Makropelago akan menjadi brand utama dan nanti memiliki turunan brand lainnya. Dengan tagline ‘Belanja Dapur Tanpa Repot’ kami ingin memberikan privilage bagi keluarga-keluarga di Indonesia agar mereka bisa lebih banyak memiliki quality time bersama keluarganya daripada menghabiskan waktu pergi ke pasar untuk berbelanja.”

Dalam aplikasi Marko, Anda tidak hanya bisa memesan bahan-bahan makanan saja tetapi seluruh barang yang dijual di pasar (yang bermitra) seperti perlengkapan dapur, pakaian, dan sebagainya.

“Mungkin ini terlihat tradisional, tetapi kita akan tetap berada di tengah masyarakat untuk memindahkan konsep pasar ke dalam genggaman digital,” lanjutnya.

Kendala Klasik Sebuah Startup

Mendirikan startup memang tak semudah yang dibayangkan. Selain harus teliti dalam menyaring Sumber Daya Manusia, karena harus menyatukan visi persoalan biaya operasional pun terkadang menjadi kendala.

“Kami sudah memikirkan strategi yang cocok dengan Markopelago. Kami akan perkaya dengan metode lainnya yang lebih konvensional. Kami tentu ingin mengikuti jejak pendahulu kami yang sudah menjadi decacorn. Tetapi, semua tergantung pada bagaimana masyarakat merespon hadirnya Markopelago ini. Kami terus berusaha menyesuaikan dengan situasi yang ada”.

“Kami punya mimpi, ekosistem perekonomian digital di Indonesia harus dimulai untuk berkembang. Kami bermimpi untuk bisa berkolaborasi dan menciptakan ekosistem perekonomian yang lebih baik. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tutupnya.

Beri komentar Anda tentang artikel ini