Tips Founder Lubna: Pentingnya Networking untuk Membangun Startup

Seberapa sering kamu berkutat dengan ponsel untuk berseluncur di dunia maya atau “bergaul” di media sosial? Lalu, seberapa sering kamu bersosialisasi secara tatap muka dengan orang lain? Bandingkan dulu frekuensinya sebelum kamu berpikir untuk membangun bisnis startup.

Lho, apa hubungannya?

Dunia teknologi memang berperan besar dalam mengembangkan perusahaan rintisan atau startup. Teknologi menjadi pondasi mengoperasikan startup kebanyakan yang mengandalkan aplikasi ponsel pintar dalam proses bisnisnya.

Namun, tak lantas kamu pada akhirnya hanya berkutat dengan teknologi. Karena networking sebagai makhluk sosial tetap fundamental untuk memulai serta mengembangkan sebuah bisnis, termasuk startup.   

Tengok saja kisah Kevin Cahya membangun Lubna, startup perdagangan uang kripto melalui teknologi robot. Ide Kevin meluncurkan Lubna terealisasi berkat networking yang ia lakukan sejak ia masih bekerja untuk East Ventures.

Networking ini sesuatu yang penting. karena saya dan partner saya juga bertemu di acara networking. Waktu itu saya masih kerja untuk East Ventures, di sana saya ketemu banyak sekali entrepreneurs dan partner yang sangat handal. Ada banyak event, ada banyak sharing, jadi bertemu banyak orang yang prominent di industrinya,” cerita Kevin.

Genggam Tantangan dan Hadapi Risiko Itu Selagi Masih Muda

Founder Lubna, Kevin Cahya, memulai bisnis startup sebelum usia 30 tahun.

Berkat networking, Kevin menemukan rekan bisnisnya untuk merealisasikan hobinya melakukan trading menjadi sebuah bisnis pada Mei 2017. Kariernya di East Ventures pun ia lepas untuk menjawab tantangan membangun sebuah bisnis sendiri.

Kepada Job-Like Magazine, ia mengatakan usia muda adalah waktu yang tepat untuk membangun startup. Sejatinya, ide yang berkembang di otak harus diwujudkan melalui sebuah aksi nyata meskipun akan muncul juga kekhawatiran gagal dalam berbisnis.

Baca Juga: Yuk, Intip Kompleksnya Keseharian Seorang Founder Startup

“Saya selalu berprinsip ide itu sesuatu yang sangat berharga apabila ide itu dijalankan atau di-executed. Anak muda sekarang menemukan banyak challenge, ada challenge dari resource, ada juga dari connection, dan untuk mendirikan company memang bukan sesuatu yang mudah. Tetapi, semua itu bisa di-overcome kalau kita berusaha 120 persen,” ujar Kevin.

“Karenanya, waktu yang tepat untuk bikin startup adalah ketika masih muda. Kita selalu berpikir bahwa kita kurang ini itu untuk bikin startup, tapi kenyataannya adalah nggak pernah ada suatu hal yang cukup dan pasti untuk membangun startup yang cukup berisiko. Sebaiknya risiko itu kita ambil ketika masih muda,” lanjutnya.

Baca Juga: Trading Uang Kripto Pertama di Indonesia dengan Robot

Di usianya yang belum menginjak 30 tahun, peran sebagai seorang pemimpin jelas bukan tanggungan yang mudah untuk dijalani. Terlebih, ia mengepalai tim yang dihuni oleh anak-anak muda yang memiliki jiwa bebas. Melalui pengalamannya, ia melihat sisi vital yang harus diperhatikan seorang leader startup adalah bagaimana membangun management skill karyawan.

Kebanyakan karyawan milenial memiliki kelemahan dalam management skill, baik untuk mengatur pekerjaannya, waktu, dan hubungan yang orang lain. Tak ayal, ia selalu menekankan timnya untuk meningkatkan soft skill, terutama networking seperti yang selama ini ia jalankan.

Soft skill, di mana kita harus memiliki karakter yang bagus, attitude yang bagus, networking yang besar juga agar kita bisa connect dengan orang-orang yang pintar dan memiliki tujuan yang sama dengan kita,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here