Employer Branding Demi Visibilitas Publik Sebuah Perusahan

Dulu di era kolonial, nyaris tidak pernah kita dengar istilah Employer Branding atau Personal Branding. Jika kita berbicara tentang Branding, itu pasti langsung terkait dengan Product Management, Brand Management, dan Marketing.

Namun di jaman sekarang di mana terjadi Talent War alias “perebutan” tenaga kerja berkualitas tinggi dari generasi Milenial dan Gen Y (dan kelak generasi yang lebih muda juga); maka gagasan Employer Branding menjadi perbincangan hangat di kalangan HR, Marketing Communication, pencari kerja, maupun peniti karier.

Lalu, bagaimana kita memahami Employer Branding ini secara tepat, sesuai dengan kebutuhan kita sebagai pencari kerja atau peniti karier?

Satu hal yang pasti adalah bahwa para pencari kerja dan peniti karier di zaman sekarang, sudah kritis terhadap citra, nama baik, dan kredibilitas perusahaan yang mereka jadikan tujuan lamaran kerja.

Semakin tinggi awareness para pencari kerja dan peniti karier akan nama baik dan visibilitas citra perusahaan, maka semakin pentinglah Employer Branding untuk dilakukan dengan baik dan benar oleh perusahaan-perusahaan dengan sistem manajemen modern.

Singkat kata, Employer Branding adalah upaya meningkatkan visibilitas publik dan citra positif dari sebuah perusahaan, kepada kalangan pencari kerja dan peniti karier.

Apa sajakah yang penting untuk dikomunikasikan oleh sebuah perusahaan kepada publik, dalam proses Employer Branding yang mereka lakukan?

  1. Core Value atau nilai-nilai inti perusahaan. Dengan terus memperkenalkan Core Value perusahaan kepada publik, maka perusahaan itu akan menarik perhatian talenta-talenta yang juga tertarik dan merasa cocok dengan Core Value itu. Ini menyederhanakan proses rekrutmen.
  2. Kegiatan internal dan eksternal apa saja yang secara berkala dilakukan, akan menambah citra positif perusahaan di mata publik. Ini terjadi karena melalui berbagai dokumentasi foto, video, dan teks yang tersebar, maka publik akan mendapatkan gambaran positif bahwa perusahaan tersebut merupakan organisasi yang berkultur dinamis, adaptif terhadap talenta muda, dan peduli pada masyarakat.
  3. Informasi lowongan pekerjaan, pengetahuan yang terkait dengan bidang bisnis perusahaan, dan literasi karir bagi publik. Jika perusahaan itu konsisten dalam menayangkan konten-konten bermutu, dapat dipastikan citra positif perusahaan itu akan menguat di benak publik.

Tentunya harus kita ingat bersama bahwa Employer Branding semakin penting untuk dilakukan oleh sebuah perusahaan tatkala demografi karyawan milenial atau lebih muda, semakin banyak di tubuh organisasinya.

Baca Juga: Job Seeker, Pilih Bekerja sesuai Passion atau Bekerja dengan Passion?

Karena talenta muda hanya akan tertarik pada organisasi yang didiami oleh talenta muda lainnya. Hal itu akan lebih baik jika terlihat dari setiap langkah pembangunan visibilitas publik yang terjadi dalam proses Employer Branding.

Jika perusahaan itu berusaha untuk memodifikasi penampilan fisik kantornya demi terlihat lebih fresh dan modern, tentunya itu akan membantu. Namun esensi sesungguhnya dari Employer Branding adalah bagaimana sebuah perusahaan sanggup membangun narasi yang paling tepat bagi segmen talenta yang mereka tujukan.

Misalnya, jangan sampai perusahaan tersebut mengharapkan untuk mendapatkan semakin banyak talenta dengan karakter dinamis, namun ternyata mereka salah membangun narasi, sehingga talenta yang menjalani proses rekrutmen adalah talenta yang berkarakter pasif. Employer Branding yang dilakukan menjadi sia-sia karena menuju arah yang tidak tepat.

Maka sangatlah penting bagi suatu perusahaan untuk memiliki tim yang secara khusus menangani Employer Branding, yang terdiri dari orang-orang berkarakter berikut ini:

  1. Orang tekstual, yang mahir membangun dan mengelola narasi di hadapan publik.
  2. Orang multimedia, baik foto maupun video, yang benar-benar mahir mendokumentasikan, mengolah, dan mengelola seluruh material dokumentasi perusahaan, menjadi suatu karya visual yang bermakna dan berdampak.
  3. Orang media sosial, yang menguasai pemahaman akan perbedaan karakter berbagai kanal komunikasi sosial media, dan bersedia melakukan komunikasi intens (engagement) dengan para pembaca.

Ketiga jenis orang ini harus bekerjasama dengan sangat baik, dan dipimpin oleh perwira yang cakap dalam memahami teknik komunikasi kontemporer. Dengan perbedaan karakter pemirsa pada berbagai media sosial yang ada, orang media sosial dapat mengarahkan orang tekstual untuk membangun narasi yang paling tepat, dan dapat mengarahkan orang multimedia untuk membangun karakter visual yang tepat bagi setiap media sosial.

Dampak Employer Branding akan lebih berkekuatan besar jika didukung oleh Personal Branding pemimpin tertinggi atau para karyawan perusahaan itu yang juga transparan dapat diakses oleh publik.

Misalnya, Bill Gates sebagai Founder Microsoft Corporation, sering menulis di Fan Page pribadinya di LinkedIn, dan sering mengundang netizen untuk menaruh Like atau Comment bernada positif.

Employer Branding yang bahu-membahu dengan Personal Branding para pemimpin dan karyawan perusahaan tersebut, akan menjadi kekuatan visibilitas publik yang berpengaruh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here