Lebih Dekat dengan Istilah Zero-Hours Contract

zero-hours contract
Sumber : Pinney Talfourd

Kontrak kerja merupakan elemen penting yang menunjukkan kesepakatan antara pemberi kerja dan pekerja. Anda tentu tidak merasa asing dengan kontrak kerja full time, part time, atau internship (magang). Sebenarnya ada jenis-jenis kontrak lainnya yang juga berlaku di dunia kerja. Salah satu yang tidak terlalu populer di kalangan masyarakat adalah zero-hours contract.

Implementasi zero-hours contract di tanah air memang belum sebanyak jenis kontrak lainnya.

Namun, tak ada salahnya Anda mempelajari jenis kontrak tersebut secara lebih detail.

Definisi Zero-Hours Contract

Sumber : Portal Investasi

Zero-hours contract adalah bentuk kontrak kerja yang tidak menetapkan waktu kerja minimum tetapi mengharuskan pekerja untuk senantiasa siaga. Kontrak tersebut memiliki empat ciri dasar, yaitu:

  • Perusahaan (pihak pemberi kerja) tak harus selalu memberikan pekerjaan.
  • Pihak pekerja harus senantiasa siap ketika dibutuhkan.
  • Hubungan kerja tetap berlanjut meskipun pemberi kerja tidak memberikan pekerjaan dalam waktu cukup lama.
  • Pekerja berhak mengambil pekerjaan dari pihak lain selama kewajibannya tidak diabaikan.

Baca Juga: Gaji Pekerjaan Baru Lebih Rendah Ternyata Berdampak bagi Kesehatan

Mencermati Implementasi Kontrak di Negara Lain

Sumber : HR Gurus

Di beberapa negara lain, para pekerja yang terikat dalam zero-hours contract tetap berhak memperoleh cuti tahunan dan upah minimum nasional. Bahkan, keselamatan dan kesehatan pekerja tersebut juga menjadi tanggungan perusahaan. Sementara itu, aturan rinci lainnya mengenai kontrak kerja juga disepakati berdasarkan kebijakan perusahaan.

Penerapan Zero-Hours Contract di Indonesia

Sumber : 24 Seven Talent

Mungkin Anda sempat berpikir bahwa zero-hours contract di tanah air identik dengan petugas pemadam kebakaran atau petugas tanggap bencana. Namun, sebenarnya kedua profesi tersebut tidak terlalu berkaitan dengan zero-hours contract. Karena petugas pemadam kebakaran dan tanggap bencana biasanya tidak boleh menekuni pekerjaan lain agar tidak mengganggu konsentrasi pada pekerjaan utama.

Jenis kontrak tersebut justru identik dengan para pekerja freelance. Terutama pekerja freelance yang menyelesaikan pekerjaan dengan sistem remote. Sayangnya, kontrak tanpa jam kerja minimum tersebut biasanya belum disertai remunerasi berjumlah besar serta beragam fasilitas lainnya. Karena pihak pemberi kerja kerap kali menghubungi pekerja hanya ketika benar-benar membutuhkannya. Para freelancer pun menjadi sosok ekstra siaga demi mendapatkan penghasilan sesuai kuantitas pekerjaan. Tak jarang pula gaji yang diberikan tidak sebanding dengan pekerjaan yang dihasilkan.

Kalau Anda adalah seorang freelancer, apakah Anda familiar dengan zero-hours contract?

Apa pun bentuk kontraknya, pastikan Anda mempelajarinya dengan teliti sebelum membuat kesepakatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here